Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Nasib Generasi dalam Kubangan Sistem Kapitalisme

1543
×

Nasib Generasi dalam Kubangan Sistem Kapitalisme

Sebarkan artikel ini
Nasib Generasi dalam Kubangan Sistem Kapitalisme
Dr. Suryani Syahrir, ST, MT (Dosen & Pemerhati Generasi)

OPINI—Beragam kerusakan menimpa generasi saat ini. Tak dimungkiri, makin hari kian meningkat. Baik dalam skala kuantitas maupun model pengrusakannya. Tak pandang usia, kerusakan sistemik ini menerjang semua kalangan. Potret generasi sungguh sangat mengkhawatirkan.

Fenomena hamil di luar nikah bagai cendawan di musim hujan. Menjamurnya fenomena ini menegaskan bahwa kondisi generasi sedang “sakit parah”. Seperti dikutip dari laman tribunnews.com. Parahnya lagi, kehamilan yang tidak diinginkan tersebut berpotensi besar berimbas ke kriminalitas lainnya seperti aborsi hingga pembunuhan.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Belum lagi kasus narkoba, perundungan, pinjol, tawuran pelajar hingga aksi begal, dan segudang kerusakan lainnya. Menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Artinya, ada kondisi dan atmosfer yang sama. Terjadi secara massif dan sistemik.

 

Kebijakan Salah Arah

Bukan tidak ada kebijakan yang dibuat pemerintah atas berbagai problem yang ada. Namun, seolah tidak tepat sasaran. Bahkan salah arah. Faktanya, kerusakan makin meningkat dan dalam skala yang luas. Negara seakan gagal menjadikan generasi tangguh, baik secara akademik maupun akhlak.

Kebijakan pun sering kali ambigu dan dinilai banyak pihak berpotensi terjadinya pelanggaran. Seperti Pasal 7 UU nomor 16 tahun 2019 tentang perubahan atas UU nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan. Dimana syarat untuk menikah minimal berusia 19 tahun. Di bawah usia tersebut tidak diizinkan. Kecuali, ada faktor-faktor yang mendesak seperti hamil di luar nikah dan dispensasi nikah di Pengadilan Agama.

Adanya syarat batas usia minimal pernikahan tanpa dibarengi upaya preventif, tentu bukan solusi yang tepat. Bahkan, sangat berpotensi dan rawan terjadi kehamilan di luar nikah. Bagaimana tidak, beraneka tontonan di media sosial maupun media lainnya, menjadi suguhan sampah yang bisa memicu untuk melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya (seks bebas).

Plus sistem pergaulan yang berbasis liberalisme, sukses membuat generasi terseret jauh dari aturan agama. Budaya hedonisme dan permisif pun menghantam generasi. Dunia digital yang menembust ruang dan waktu, menjadi penyempurna kerusakan generasi hari ini. Support system yang sangat “ramah” tersebut berhasil menjadikan generasi tenggelam dalam kubangan lumpur kapitalisme.

Jika ditelisik problem mendasar kerusakan generasi saat ini, dapat dijelaskan dalam beberapa poin, diantaranya: pertama, diterapkannya sistem kapitalisme dengan asas sekulerisme dalam mengatur semua aspek kehidupan. Pemisahan agama dari kehidupan, membuat aturan yang berlaku, dibuat sesuai kepentingan. Akibatnya rawan penyimpangan karena berasal dari manusia, makhluk lemah dan terbatas.

Kedua, berlakunya paham kebebasan (liberalisme) sebagai konsekuensi diterapkannya sistem kapitalisme. Kebebasan yang berlindung di balik Hak Asasi Manusia (HAM) membuat setiap orang bebas beragama, berekspresi, dan berpendapat. Menjadikan rakyat termasuk generasi berpeluang besar bablas dalam berperilaku. Ditambah sekulerisme yang membuat pondasi akidah dari dalam keluarga juga rapuh.

Ketiga, anti sosial. Paham kebebasan tadi kemudian berimplikasi pada sikap masyarakat yang cuek dengan kondisi sekitarnya, antisosial. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Kontrol masyarakat pun tidak berjalan alias mandek. Kondisi ini membuat semua orang bebas melakukan apa saja sesuai keinginannya, walau melanggar norma agama dan masyarakat. Bahkan, generasi muslim tak sedikit yang kehilangan jati dirinya.

Fakta kerusakan akibat diadopsinya sistem kapitalisme di negeri ini begitu luar biasa. Menerjang segala lini kehidupan, termasuk kalangan generasi muslim. Tidak perduli usia, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Terlebih di era digital saat ini, era dimana semua hal bisa diakses dengan sangat mudah dan cepat. Sungguh sebuah potret kehidupan yang sangat mengenaskan. Astaghfirullah!

 

Sistem Solutif

Sistem Islam adalah sebuah sistem kehidupan yang mengatur semua hal secara komprehensif dan paripurna. Kesempurnaan aturannya karena berasal dari Dzat Yang Mahasempurna, Allah ‘Azza wa Jalla. Tak diragukan lagi keberhasilan sistem Islam mampu menyejahterakan rakyatnya selama 1300 tahun lamanya. Tertoreh dalam tinta emas sejarah peradaban dunia.

Instrumen Islam dalam pengaturan kehidupan memiliki tiga dimensi besar, yakni individu/keluarga, masyarakat, dan negara. Untuk skala individu/keluarga, setiap kepala keluarga menjalankan fungsi sekaligus amanahnya yaitu sebagai qowwam (pemimpin rumah tangga). Memastikan setiap anggota keluarga terpenuhi kebutuhannya; baik kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier. Pun perkara yang sangat mendasar yakni penanaman akidah Islam yang kuat.

Selanjutnya, masyarakat sebagai kumpulan individu harus menjalankan fungsinya sebagai kontrol sosial. Dimana Islam memiliki instrumennya yaitu dakwah amar makruf nahi mungkar. Hal ini harus berjalan sesuai perintah Allah Swt. di dalam banyak ayat-Nya. Salah satunya adalah QS. Al-Jin ayat 23, yang artinya:

“(Aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia akan mendapat (azab) neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.”

Paling urgen adalah peran negara. Islam memosisikan negara sebagai junnah (pelindung) sekaligus pelaksana hukum syariat. Amanah tersebut berada di pundak pemimpin. Sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad saw. dan para khalifah setelahnya. Teladan terbaik sepanjang masa.

Terkait pengurusan negara, tidak ada pemisahan antara yang satu dengan yang lainnya. Kebutuhan individu dan kebutuhan publik secara bersamaan dipenuhi negara secara maksimal. Misal, sistem pergaulan dalam Islam. Negara membuat regulasi sesuai syariat-Nya. Membuat kebijakan preventif, pada saat yang sama juga menerapkan sistem sanksi bagi yang melanggar.

Salah satu upaya preventif negara adalah memastikan media informasi steril dari hal-hal yang mengumbar syahwat. Artinya konten-konten yang ditayangkan harus sesuai syariat. Filter negara sangat ketat, karena semua pengurusan rakyat berbasis akidah Islam.

Pun ketika terjadi pelanggaran hukum syarak, sanksi yang dijatuhkan negara harus berdasar syariat. Dimana sanksi dalam Islam berfungsi ganda, membuat efek jera karena sebagai pencegah (zawajir) dan penggugur dosa kelak di akhirat (jawabir). MasyaAllah!

Inilah sekelumit gambaran kesempurnaan sistem Islam dalam mengurusi rakyatnya. Menutup celah kemaksiatan. Memberi kesejahteraan tanpa batas. Mari jadikan Ramadhan sebagai momentum untuk mengembalikan ketakwaan individu, masyarakat, dan negara dengan menerapkan semua aturan Sang Pemilik manusia dan seluruh isi semesta. Membuang sistem rusak yang telah menciptakan derita berkepanjangan bagi generasi. Wallahualam bis Showab. (*)

 

Penulis: Dr. Suryani Syahrir, ST, MT (Dosen & Pemerhati Generasi)

 

***

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!