Optimalisasi Pembelajaran Melalui “Sharing Session”

Optimalisasi Pembelajaran Melalui Sharing Session
Indra Gunawan (Pegiat Literasi di Excellent Academic Community dan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

OPINI – Upaya meningkatkan kualitas pendidikan menjadi tantangan bagi setiap negara di dunia, termasuk Indonesia. Pendidikan merupakan sarana penting guna mempersiapkan manusia yang unggul dan siap menghadapi persaingan global.

Apalagi, pemerintah sudah mengalokasikan dana sebesar 20% dari APBN. Akan tetapi, anggaran tersebut tidak langsung “menyulap” pendidikan menjadi lebih berkualitas.

Disisi lain, Indonesia kini dihadapkan dengan wabah pandemi Covid-19 yang mengharuskan pembelajaran dilakukan dari rumah.

Selain itu, juga permasalahan degradasi moral yang semakin kompleks. Berbagai bentuk perilaku menyimpang siswa di sekolah mulai dari hal sepele seperti mencontek, bolos sekolah, sampai kenakalan remaja yang menjurus pada tindakan kriminalitas.

Salah satu penyebabnya yaitu kurang optimalnya peran pendidikan dalam membangun karakter siswa. Padahal kita tahu bahwa pendidikan merupakan aspek penting dalam mewujudkan karakter yang mulia.

Dalam situasi seperti ini, pendidikan dituntut agar dapat memberikan pengajaran yang efektif. Artinya, mestinya tidak identik hanya dijejali dengan tugas, tanpa turut menerapkan konsep pendidikan karakter sebagai pembelajaran sekolah yang kini diakses dari rumah.

Berita Lainnya

Lingkungan Pendidikan

Sekolah memang bukan pendidikan utama, karena pada hakekatnya manusia akan ditempa melalui lingkungan pendidikan yang berbeda.

Lingkungan tersebut sebagaimana pernah digagas Ki Hajar Dewantara dengan istilah tripusat pendidikan, yaitu; keluarga, sekolah, dan masyarakat (Arifin, 2017).

Peran keluarga merupakan pendidikan pertama kali, dimana setiap anak akan dikenalkan dengan lingkungan. Kemudian sekolah merupakan jenjang lanjutan dari keluarga, dimana anak akan diterpa dengan banyak pengetahuan.

Terakhir, lingkungan masyarakat merupakan tempat aktualisasi anak tersebut agar peka terhadap dunia sosialnya.

Lihat Juga:  100 Imam Desa/Kelurahan dan 400 Guru TK/TPA Dapat Insentif

Normalnya, kebanyakan waktu anak dihabiskan di lingkungan sekolah, sehingga waktu untuk memperoleh pendidikan di lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat menjadi semakin sempit.

Padahal, jika menengok konsep tripusat pendidikan Ki Hajar Dewantara, ketiga lingkungan tersebut sama pentingnya dalam membentuk karakter siswa.

Selain itu, kebanyakan sekolah di Indonesia melalui sistem belajar online membuat siswa menghabiskan waktu untuk mengerjakan tugas.

Seolah, pendidikan di sekolah terkesan kurang adanya sosialisasi dan siswa tidak mendapat kesempatan untuk merefleksikan dirinya di lingkungan sosial yang lain.

Tak heran ketika banyak siswa usai mengerjakan tugas terlihat lesu, lelah, dan malas untuk melakukan kegiatan yang lainnya.

Guru sebagai pengganti orang tua seharusnya dapat berperan sebagai korektor, inisiator, dan motivator bagi siswa (Arifin, 2017).

Sebagai korektor guru dapat mengarahkan anak didiknya membedakan mana hal yang baik dan buruk, terlepas latar belakang anak yang berbeda-beda.

Tugas guru adalah mempertahankan sifat yang baik dan menghilangkan sifat buruk siswa.

Sebagai inspirator guru dapat mengarahkan siswa mencapai kemajuan belajarnya dengan menemukan cara belajarnya.

Sebagai motivator guru dapat mendorong siswa untuk terus optimis dan aktif dalam belajar.

Peranan guru lantaran sangat diperlukan dalam proses pembelajaran, guna mencetak peserta didik yang unggul dan berkarakter.

Maka dari itu, perlunya pembelajaran yang melahirkan kedekatan mental antara siswa dan guru.

Pembelajaran Melalui “Sharing Session”

Sharing Session menekankan pada peran aktif siswa dan guru. Metode ini, memberikan kesempatan pada siswa menceritakan pengalaman yang dialaminya.

Siswa juga dilatih bagaimana mengutarakan pendapat dengan cara yang baik dan benar. Adapun manfaat dari metode ini adalah:

Pertama, Sebagai bahan evaluasi guru.

Guru akan mengetahui siswa yang sedang mempunyai masalah, dari cara berkomunikasi dan perilaku siswa saat sharing.

Lihat Juga:  Bias Makna Cinta pada Mahasiswa

Setelah itu guru dapat memberlakukan siswa secara berbeda dan turut serta membantu siswa menyelesesaikan masalah yang sedang dihadapinya.

Metode ini, dapat menjalin komunikasi yang baik antara guru dan siswa, sehingga siswa akan lebih terbuka pada gurunya.

Metode ini akan sangat berguna bagi bahan evaluasi guru terhadap pengajarannya pada siswa.

Kedua, Melatih siswa berkomunikasi secara aktif.

Pada masa pandemi ini, interaksi siswa semakin terbatasi dengan lingkungan sosialnya, berbeda seperti saat di sekolah.

Metode ini dapat membantu siswa dalam melatih kecakapan berbicara, yang seharusnya dipraktekan di lingkungan sosialnya.

Adanya metode ini, akan membuka ruang siswa mengaktualisasikan pengetahuannya yang dapat di sekolah.

Ketiga, Menghilangkan stressor.

Dalam istilah psikologi klinis stressor artinya sumber-sumber yang dianggap oleh individu bisa memunculkan stress atau sumber stress (Anonim).

Melalui metode ini, siswa dapat mencurahkan pikiran dan persaannya yang mengganjal. Siswa akan merasakan lega karena telah mengeluarkan segala keresahannya.

Melalui sharing sesion ini siswa akan saling menceritakan kegiatannya selama seharian, dan siswa yang lain berkesempatan melatih dirinya untuk peduli terhadap dunia orang disekitarnya.

Oleh sebab itu, pendidikan karakter akan mulai terbentuk dari ruang-ruang kelas semacam ini.

Kelas sharing session ini, dibentuk guna membantu mewujudkan siswa yang unggul dan berkarakter, serta memiliki kepedulian terhadap sesamanya.

Guru juga diharapkan dapat tertarik menerapkan metode sharing sesion ini, guna menciptakan komunikasi yang baik dengan siswa dan dapat membantu mencari solusi terhadap permasalahan siswanya.

Pada keadaan pandemi ini, peran guru untuk memberikan motivasi dan semangat untuk tetap belajar dari rumah harapannya akan dapat lebih maksimal.

Kelas ini merupakan salah satu alternatif dalam mewujudkan pendidikan karakter Ki Hajar Dewantara, dimana sekolah akan menjadi tempat yang menyenangkan dan siswa akan lebih giat dalam belajar. Semoga!. (*)

Berita terkait