PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Karhutla Parepare Tembus 257 Kasus, Lima Hektare Lahan Terbakar dalam SemalamJorge Martin Kembali Geser Marquez di Puncak Klasemen Sementara GP 2026Kijang Kapsul Masih Diburu di Makassar, Harga Bekas Bisa Tembus Rp100 JutaJalan Mawas Disterilkan Total Usai Penikaman Ojol, Parkir Resmi dan Liar DilarangCing Cangkeling, Cerita Kopi Keluarga dari Mandalagiri ke Cangkir Penikmat KopiRaih Penghargaan Pengelolaan Sampah, Sidrap Diganjar Bantuan Rp1 MiliarPEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Karhutla Parepare Tembus 257 Kasus, Lima Hektare Lahan Terbakar dalam SemalamJorge Martin Kembali Geser Marquez di Puncak Klasemen Sementara GP 2026Kijang Kapsul Masih Diburu di Makassar, Harga Bekas Bisa Tembus Rp100 JutaJalan Mawas Disterilkan Total Usai Penikaman Ojol, Parkir Resmi dan Liar DilarangCing Cangkeling, Cerita Kopi Keluarga dari Mandalagiri ke Cangkir Penikmat KopiRaih Penghargaan Pengelolaan Sampah, Sidrap Diganjar Bantuan Rp1 Miliar
Opini

Pemuda Mabuk Kecubung, Buah Liberalisasi Perilaku

860
×

Pemuda Mabuk Kecubung, Buah Liberalisasi Perilaku

Sebarkan artikel ini
Tanaman Kecubung
Tanaman Kecubung.

OPINI–Belakangan ini, banyak berita mengenai beberapa individu yang menunjukkan perilaku yang tidak biasa, diduga karena mereka mengonsumsi sebuah tanaman yang memiliki efek halusinasi, yakni kecubung.

Sejumlah besar penduduk di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, harus mendapatkan perawatan di rumah sakit jiwa setelah menggunakan tanaman tersebut.

Bahkan, dua orang dari mereka dilaporkan meninggal akibat kejadian tersebut.

Apa itu kecubung?

Kecubung adalah tanaman yang sering ditemukan tumbuh liar di ladang dan sering kali ditanam sebagai tanaman hias di pekarangan karena bentuk bunganya yang unik menyerupai trompet. Buah kecubung juga memiliki ciri khas berbentuk bulat dengan duri kecil.

Jika seseorang mengonsumsi kecubung dalam jumlah yang tidak berlebihan, mereka mungkin hanya mengalami efek serupa dengan narkoba. Gejala yang dapat terjadi termasuk rasa cemas, dehidrasi, kantuk, sensitivitas terhadap cahaya, dan reaksi lainnya.

Menurut laporan dari kompas.com tanggal 10 Juli 2024, kecubung belum termasuk dalam kategori narkotika menurut undang-undang. Tanaman ini dianggap sebagai zat psikoaktif baru atau New psychoactive substance (NPS) yang belum diatur oleh Kementerian Kesehatan.
Alasan orang orang mengonsumsi kecubung

Menurut Ketua Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional Jamu Indonesia (PDPOTJI), Dr. (Cand.) dr. Inggrid Tania, M.Si., ada beberapa alasan mengapa orang mengonsumsi kecubung. Salah satu alasan utamanya adalah keinginan untuk mencoba.

Menurutnya, penggunaan buah kecubung sering kali terjadi ketika seseorang menghadapi kondisi emosional atau mental yang tidak stabil. Kadang-kadang tanaman ini dianggap sebagai pelarian dari rasa depresi atau stres, mirip dengan ketertarikan seseorang terhadap rokok, obat-obatan keras, atau narkoba.

Rusaknya Generasi

Mabuk kecubung menunjukkan kelemahan generasi dalam menangani masalah dan kurangnya ketahanan mental. Biasanya, keinginan untuk mengonsumsi makanan atau minuman memabukkan timbul dari ketidakmampuan individu untuk mengatasi kejenuhan, stres, atau kegelisahan yang berasal dari masalah pribadi. Dorongan tersebut juga sering kali dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, termasuk dari teman-teman mereka.

Penggunaan makanan atau minuman yang memabukkan sebagai cara untuk menyelesaikan masalah mencerminkan kegagalan sistem pendidikan sekuler dalam membentuk generasi dengan moralitas tinggi, dan justru dapat menghasilkan generasi yang lebih cenderung memiliki perilaku liberal.

Islam, di sisi lain, menawarkan sistem pendidikan yang mampu mencetak generasi yang kuat mentalnya dan produktif, serta berkepribadian Islam dengan berperilaku dan berpola pikir yang sesuai dengan ajaran Islam. Dengan demikian, Islam mempersiapkan pemuda sebagai agen perubahan yang siap untuk memimpin dan mewarisi peran penting dalam pembangunan bangsa di masa depan.

Pendidikan dalam Islam mampu membimbing generasi untuk menemukan tujuan hidup yang benar, yaitu mencari ridha Allah dan beribadah kepada-Nya. Standar perilaku yang dijunjung tinggi juga didasarkan pada prinsip-prinsip syariat, sehingga remaja tidak akan mengambil kebebasan bertindak secara sembarangan.

Selain itu keluarga dalam Islam akan berperan penting dalam pembentukan karakter anak. Keluarga dalam Islam akan mengusahakan agar terbentuk keluarga yang berperilaku dan berpola pikir Islam, yang membuat setiap anggota keluarga akan berfikir terlebih dahulu sebelum bertindak.

Bagaimana peran negara?

Faktanya, ada kelalaian dari negara terhadap masa depan generasi. Sistem kapitalisme yang diterapkan mengakibatkan negara melegalkan produksi dan distribusi minuman beralkohol untuk meningkatkan pendapatan pajak. Islam dengan tegas melarang konsumsi khamr (minuman memabukkan) dan segala bentuk yang dapat memabukkan. Sebagai mana firman Allah SWT:

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir. (Q.S Al Baqarah: 219)

Begitu banyak ayat menjelaskan mengenai larangan hal yang memabukkan sebagai upaya dalam menjaga akal sehat manusia. Allah telah memberi manusia keistimewaan yang tidak diberikan kepada makhluk lain berupa akal yang akan mampu mengarahkan manusia bertindak baik dan buruk.

Dalam pemerintahan Islam, semua aktivitas terkait alkohol, termasuk produksi, distribusi, dan konsumsi, akan dilarang. Keyakinan dan keimanan masyarakat dalam Islam juga akan mengarahkan mereka untuk menggunakan berbagai bahan alami dengan bijaksana sesuai dengan prinsip-prinsip syariat. (*)

 

Penulis: Risnawati Ridwan

 

***

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com