Ilustrasi

OPINI – Fenomena Pergaulan Bebas bak jamur di musim hujan. Berdasarkan penelitian di sebuah desa di Indonesia, sekitar 60 hingga 80 persen remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks.

Ancaman pola hidup seks bebas remaja secara umum baik di pondokan atau kos-kosan tampaknya berkembang semakin serius. Kelompok remaja rata-rata berusia 16-25 tahun dan umumnya pelajar tingkat SLTA dan Mahasiswa.

Namun beberapa kasus terjadi pada pelajar tingkat SLTP. Di satu sisi memang harus diakui kalau remaja-remaja utamanya yang berhubungan dengan pergaulan.

Pergaulan remaja sekarang memang bikin mengelus dada. Kalau dulu pacaran saja takut untuk pegang tangan, hari ini anak-anak muda tanpa segan mencium pasangannya.

Bukan rahasia lagi banyak remaja melakukan hal-hal yang semestinya hanya boleh dilakukan suami istri. Bahkan yang terbaru video mesum dua pelajar di salah satu sekolah SMK Bulukumba yang viral di sosmed.

Tercatat sepertiga kasus aborsi di Indonesia di lakukan remaja. 20.8% remaja putri hamil di luar nikah. (data: kompasiana.com)

Pergaulan Bebas Buah Demokrasi

Pergaulan bebas buah demokrasi. Sebuah sistem yang telah di jajakan kafir barat ke negeri-negeri muslim. Dengan menjadikan materi atau manfaat sebagai tolak ukur.

Mereka berpandangan hubungan wanita dan laki-laki merupakan pandangan seksual semata, bukan pandangan dalam rangka melestarikan jenis manusia.

Dengan sengaja menciptakan fakta-fakta yang terindera dan pikiran-pikiran yang mengundang hasrat seksual. Membangkitkan naluri seksual, semata-mata untuk mencari kepuasan.

Bagi pengikut demokrasi tiadanya pemuasan naluri ini akan mengakibatkan bahaya pada manusia, baik secara fisik, psikis, maupun akalnya.

Inilah sejatinya demokrasi yang banyak umat-umat muslim agungkan. sebagai aturan demokrasi sangat bertentangan dengan hukum-hukum islam.

Selamatkan Generasi dengan Islam

Islam sebagai way of life (pandangan hidup), datang dari sang khaliq yang menciptakan manusia. Islam memiliki seperangkat aturan. Islam akan melakukan proteksi kepada generasi dari berbagai pemikiran yang merusak.

Bentuk proteksi ini dilakukan oleh keluarga, masyarakat dan kelompok dakwah serta negara. Keluarga sebagai individu yang bertaqwa hadir untuk menjaga, mendidik para generasi, sebagai madrasah pertama dan utama.

Peran masyarakat dan kelompok dakwah untuk melakukan aktivitas amar ma’ruf nahi munkar. Mencegah berbagai kemungkaran yang akan merusak generasi.

Paling penting peran negara. Negara hadir dengan melakukan pembinaan dengan menggunakan berbagai sarana atau media yang ada.

Menutup berbagai celah yang dapat mengantarkan atau menjerumuskan kepada kemaksiatan yang bisa merusak generasi.

Sungguh hal ini hanya bisa terwujud ketika islam diterapkan secara kaffah dengan adanya seorang penguasa yang akan melindungi umat.

Rasulullah saw bersabda : “ إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ

Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll). Wallahu ‘allam. (*)

Penulis : Sri Kurnia (Mahasiswi di Makassar)