Beranda » News » Prabowo Ingin Generasi Muda Indonesia Tidak Berakhir Menjadi Tukang Ojek
Prabowo Ingin Generasi Muda Indonesia Tidak Berakhir Menjadi Tukang Ojek
News

Prabowo Ingin Generasi Muda Indonesia Tidak Berakhir Menjadi Tukang Ojek

JAKARTA — Calon Presiden nomor urut dua Prabowo Subianto mengatakan sumber daya manusia (SDM) Indonesia kurang bisa bersaing dengan negara lainnya. Apalagi muncul meme di internet yang menyebutkan, bahwa mayoritas generasi muda di Indonesia memilih menjadi tukang ojek selepas lulus SMA. Dia mengatakan meme tersebut merupakan kenyataan yang dihadapi oleh anak muda Indonesia, karena tingginya biaya untuk kuliah di Perguruan Tinggi.

“Saya ingin mengakhiri presentasi ini dengan realita yang sedih namun juga kejam. Ini adalah meme yang sedang tersebar di internet. Jalur karier seorang anak muda Indonesia. Yang paling kanan adalah topi Sekolah Dasar, topi Sekolah Menengah Pertama dan setelah dia lulus dari Sekolah Menengah Atas, dia menjadi supir ojek, ini adalah realita yang kejam,” kata Prabowo.

Hal tersebut Prabowo sampaikan pada acara Indonesia Economic Forum, di Shangri-La Hotel, Jakarta, Rabu (21/11).

Prabowo menjelaskan, hal tersebut dikarenakan beberapa indikator. Salah satunya, indeks pembangunan manusia Indonesia berada pada ranking 113, masih kalah dari negara tetangga seperti Singapura dan Thailand.

Prabowo juga menyinggung tentang masih banyaknya bayi di Indonesia yang mengalami stunting. Dia mengatakan, beberapa indikator tersebut menunjukkan SDM Indonesia banyak yang tidak cukup sehat sehingga kurang bisa bersaing dengan negara lain.

“Ini indikator bahwa SDM kita malnourished. Tidak cukup protein, dan lain-lain. Saya sebagai WNI, saya sangat sedih. Stunted childrenberjuang untuk sekolah,” kata Prabowo.

Karena itu, jika terpilih menjadi Presiden RI, dia akan berjuang keras untuk bisa membuka peluang usaha dan lapangan pekerjaan seluas-luasnya bagi generasi muda, agar mereka bisa mempunyai profesi yang membanggakan seperti pengusaha, insinyur, pilot, bisa mempunyai kafe, perusahaan, atau perkebunan, dan bukan berakhir menjadi kuli di negeri sendiri seperti menjadi tukang ojek.

Selain itu dirinya juga akan berusaha untuk meningkatkan kualitas hidup dan pendidikan bagi anak-anak Indonesia.

Dalam acara yang sama, calon wakil presiden nomor urut dua, Sandiaga Uno menargetkan jika dirinya dan Prabowo terpilih akan tercipta 10 unicorn startup (perusahaan rintisan bernilai lebih dari 1 miliar dolar) dalam waktu tiga tahun. Sandi optimistis hal tersebut bisa tercapai dengan banyaknya orang muda di Indonesia yang berpotensi dan pasar yang cukup besar di Indonesia.

Maka dari itu, lanjut Sandi, nantinya dibutuhkan kebijakan yang mempermudah berkembangnya unicorn startup tersebut. Dia menyebut contoh empat unicorn startup di Indonesia yaitu Gojek, Traveloka, Buka Lapak dan Tokopedia yang mampu membuka jutaan lapangan kerja di Indonesia.

“Dan ini saya rasa sebagai salah satu potensi yang dimiliki startup dan satu startupini bisa membuka lapangan pekerjaan paling tidak tiga sampai empat. Dan kalau kita punya 10 ribu startup yang bisa fokus di IT maupun di beberapa solusi yang dibutuhkan ekonomi Indonesia, kita rasio suksesnya akan menghadirkan 30 unicorns atau 10 unicorns yang ingin kita tembus dalam tiga tahun pertama,” kata Sandi.

Menurutnya, saat ini pemerintah masih dianggap kurang memperhatikan unicorn startup tersebut, baik dari sisi regulasi atau kebijakan maupun dari sisi akses permodalan. Meskipun syarat nilai valuasi satu unicorn startup ini harus mencapai 1 miliar dolar atau Rp15 triliun, Sandi tetap optimistis bakal banyak bermunculan unicorn startup di Indonesia karena ada potensi, ide yang baik serta market yang besar.

Menanggapi hal ini Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Abdul Kadir Karding menampik pernyataan Prabowo tersebut. Selama pemerintahan Jokowi-JK sekarang ini, kata Abdul, pemerintah sudah senantiasa meningkatkan kualitas SDM Indonesia dan kualitas pendidikan.

Dia mencontohkan, pada era pemerintahan Jokowi-JK angka stunting sudah berkurang dari 38 persen menjadi 30 persen. Menurutnya pengurangan angka delapan persen stunting tersebut merupakan penurunan yang cukup signifikan.

Selain itu, pemerintah juga sudah melakukan perbaikan sistem pendidikan vokasi yang akan menjadikan SDM Indonesia siap terjun ke dunia kerja sehingga jumlah pengangguran pun akan semakin berkurang.

“Pemerintah telah melakukan perbaikan dari sisi sistem pendidikan dan vokasi kita. Jadi sistem pendidikan ke depan sedang didorong agar antara kampus kemudian organisasi semacam Hipmi atau Kadin dan perusahaan itu duduk bersama menyusun kurikulum kerja. Sehingga output pendidikan yang berupa siswa ke depan itu bisa langsung terserap dalam dunia kerja. Begitu pula sistem magang kita jangan seperti hari ini, magang itu seperti model ambil kopi, urus administrasi. Ke depan itu, kalau perlu magang itu di bayar oleh perusahaan, sehingga anak-anak yang magang itu betul-betul mendapatkan skill, ilmu dan sebagainya,” jelas Abdul.

Ditambahkannya, pemerintah selama ini juga terus melakukan pembangunan infrastruktur pendidikan yang sangat penting, salah satunya adalah meningkatkan kualitas guru yang orientasinya kepada pembangunan skillserta penguasaan teknologi.

Abdul menegaskan, dengan berbagai cara yang telah dilakukan oleh pemerintah tersebut, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia dari waktu ke waktu terus mengalami perbaikan. Walaupun masih tertinggal dari negara tetangga Singapura, Abdul yakin bahwa kelak SDM Indonesia akan lebih baik sehingga bisa bersaing dengan SDM dari negara lain. [voa/4ld]