OPINI – Di era revolusi industri ini, diperkirakan pada tahun 2030 akan mengalami bonus demografi dimana para milenial yang menjadi kunci di era rovolusi industri 4.0 ini baik sebagai konsumen atau produsen. Jumlah milenial digital native, yaitu mereka yang lahir di era teknologi diperkirakan akan lebih banyak dibandingkan digital migrants, yaitu mereka yang tidak lahir dan harus belajar beradaptasi di era dunia digital.

Jika diperkirakan, mereka pun yang sudah akrab dengan dunia digital ingin proses yang efisien, presisi, dan unggul, untuk menghadapi karakteristik generasi milenial baik sebagai seorang produsen maupun konsumen, maka pertanian pun harus dapat menyesuaikan.

Bagaimana Agriculture 4.0

Agriculture 4.0 ialah pertanian dengan ciri pemanfaatan teknologi artificial intelligence (AI), robot, internet of things (IOT), drone, blokchain, dan big data analitik, untuk menghasilkan produk unggul, presisi, efisien, dan berkelanjutan. Nah bagaimana sebenarnya sinergitasantara pemanfaatan teknologi agricultute 4.0  dengan revolusi industri 4.0?. Pertama, on-farming. On-farming dicirikan dengan pertanian presisi. Hal ini dimulai dari menghasilkan benih unggul berbasis bioinformatics, pengendalian hama terpadu secara cerdas dengan kecerdasan buatan, pemupukan presisi, penggunaan smart tractor, dan penyemaian benih dengan robot. Selain itu, di sistem on-farmsendiri adalah aplikasi digital yang dapat digunakan untuk mengontrol tanaman dari jarak jauh, sehingga pengawasan terhadap tanaman dapat dilakukan kapan pun dan dimana pun. Misalnya, menggunakan CCTV dan kamera drone untuk mengawasi lahan pertanian para petani.

Kedua, off-farming. Off-farming berbicara mengenai sistem logistik pertanian secara digital. Teknologi blockchain juga mulai diterapkan untuk menjamin transparansi dan rekam jejak aliran produk pertanian dari hulu hingga hilir, sehingga dapat saling mengontrol satu dengan yang lain. Selain itu, penggunaan aplikasi digital pada subsektor off-farm dapat membantu proses pemasaran dan penelusuran rantai distribusi. Misalnya, menggunakan aplikasi marketplace pertanian untuk membantu menjual produk komoditi pertanian secara online. Tujuannya sederhana agar rantai informasi semakin terbuka dan harga semakin kompetitif bagi para petani. Ketiga, pemasaran digital. Sekarang ini, konsumen sudah mulai melek digital. Konsumen juga sudah mulai membiasakan diri untuk membeli produk pertanian secara online hanya lewat smartphone saja. Tidak hanya membeli produk pertanian melalui smartphone, tetapi melihat asal usul produk juga, sehingga digitalisasi memang suatu keniscayaan.

Disrupsi Agriculture4.0

Disrupsi yang dilakukan oleh agriculture 4.0 memang akan merubah sistem, namun tidak semua akan dirubah total. Teknologi juga tidak dapat ditolak keberadaannya karena perkembangannya yang sangat cepat sehingga sulit ditolak. Oleh sebab itu, untuk menghadapinya diperlukan pelaku-pelaku baru milenialtechnopreneur yang mampu hadir memberikan produk-produk inovatif untuk mengonsolidasi para petani tradisional untuk belajar dan memercepat transformasi digital.

Disinilah pekerjaan rumah para perguruan tinggi yang harus mampu mencetak sebanyak-banyaknya technopreneur dan sociopreneur dalam kerangka transformasi digital untuk menciptakan agriculture4.0 tersebut. Perkembangan teknologi yang sangat pesat sudah memudahkan kehidupan manusia hampir di seluruh aspek kehidupan. Inovasi-inovasi baru terus bermunculan salah satunya dalam bidang pertanian.

Di era revolusi industri 4.0 ini, pertanian pun lambat laun sudah mulai mengimplementasikan digitalisasi dalam perkembangannya dengan harapan produktivitas pertanian lebih efektif dan efisien. Tujuan dari agriculture 4.0 ini sebenarnya terkait dengan produktivitas, menghasilkan produk unggul, presisi, efisien, berkelanjutan yang bermuara pada tujuan utamanya adalah bagi kesejahteraan petani dan masyarakat luas.

Akhirnya, dengan mengutip pernyataan Mahendra T. Sitepu (2019) bahwa harapan pertanian Indonesia kedepannya terletak di bahu orang-orang muda atau milenial sebagai generasi yang paling adaptif terhadap teknologi. Tinggal, bagaimana peran serta seluruh pemangku kepentingan terkait pertanian untuk mendorong inisiasi hingga pengembangan agriculture4.0 yang unik dan berdaulat ala Indonesia.

Penulis : Dr. Syamsul Rahman, S.TP, M.Si

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar