MAKASSAR—Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 1 Mei 2025 menjadi panggung perlawanan bagi Konfederasi Serikat Nusantara (KSN). Dalam orasi politiknya, Presiden KSN Mukhtar Guntur menyuarakan kegelisahan jutaan buruh Indonesia atas ketimpangan yang terus melebar, eksploitasi lingkungan, hingga jeratan mafia kesehatan.
Dengan mengusung tema “INDONESIA DARURAT: Rakyat Pekerja Bergerak Hancurkan Oligarki Ekonomi Kapitalisme”, Mukhtar menegaskan bahwa sistem ekonomi saat ini telah gagal memberikan keadilan sosial. “Krisis multidimensi yang dialami rakyat pekerja adalah bukti kebangkrutan kapitalisme. Kita tidak bisa terus-menerus membiarkan segelintir elite menguasai kekayaan negeri ini,” tegasnya.
KSN menilai pemerintahan saat ini terlalu tunduk pada agenda neoliberalisme. Skema-skema seperti MP3EI dan Public Private Partnership (PPP) dinilai hanya memperbesar dominasi modal asing sambil menyingkirkan kepentingan rakyat kecil.
“Ketimpangan ekonomi sangat nyata. Sepuluh persen orang terkaya menguasai 77 persen kekayaan Indonesia, dan satu persen menguasai separuhnya. Ini bukan lagi ketimpangan, ini ketidakadilan sistemik,” ujar Mukhtar mengutip data dari Credit Suisse dan Bank Dunia.
Tak hanya di darat, laut pun menjadi medan perlawanan. Dalam pidatonya, Mukhtar menyoroti eksploitasi masif wilayah pesisir oleh industri besar yang menyingkirkan nelayan tradisional. Ia menyebut praktik reklamasi, tambang pesisir, hingga penangkapan ikan ilegal sebagai bentuk kerakusan oligarki.
“Laut bukan komoditas. Kita akan bangun pagar laut—sebuah benteng kesadaran dan persatuan rakyat pesisir melawan eksploitasi,” katanya lantang.
Mukhtar juga membongkar praktik mafia di sektor kesehatan yang menurutnya menjadikan penyakit sebagai ladang bisnis. “Harga obat yang mencekik, birokrasi yang berbelit, dan rumah sakit yang jadi mesin uang adalah potret sistem kesehatan yang dikendalikan oleh oligarki,” tambahnya.
Dalam momentum May Day ini, KSN menyampaikan serangkaian tuntutan dari berbagai sektor—tenaga kerja, petani dan nelayan, lingkungan, perempuan dan pemuda, hingga hukum dan demokrasi.
Beberapa tuntutan utama KSN di antaranya:
- UU Ketenagakerjaan yang adil dan menolak sistem kerja kontrak serta outsourcing
- Penghapusan politik upah murah dan diskriminasi terhadap pekerja migran serta disabilitas
- Reforma agraria sejati dan perlindungan wilayah tangkap nelayan
- Pendidikan gratis dan ilmiah tanpa komersialisasi
- Penegakan hukum terhadap mafia peradilan, mafia kesehatan, serta penolakan terhadap RUU Kepolisian
“Ini bukan hanya perayaan, ini perlawanan. May Day 2025 adalah momentum kebangkitan rakyat pekerja untuk merebut kembali kedaulatan ekonomi dan politik dari cengkeraman oligarki,” tutup Mukhtar.
KSN mengajak seluruh elemen buruh, pemuda, mahasiswa, perempuan, dan masyarakat sipil lainnya untuk memperkuat konsolidasi gerakan rakyat. “Tak ada perjuangan yang sia-sia. Kemenangan adalah soal waktu,” pungkasnya dengan penuh semangat. (Ag4ys)













