Webinar Nasional FDK UIN Alauddin: Makassar “Jurnalisme di era Post Truth”
Webinar Nasional FDK UIN Alauddin: Makassar “Jurnalisme di era Post Truth”

MAKASSAR—Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar fakultas Dakwah dan Komunikasi mengadakan webinar nasional yang dibawakan oleh empat pemateri diantaranya dari dosen dan beberapa dari media.

Webinar ini dibuka oleh dekan fakultas dakwah dan komunikasi bapak Dr. Firdaus Muhammad, MA juga dihadiri Kajur ilmu komunikasi Asni Djamereng, M.Si dan peserta dari mahasiswa ilmu komunikasi semester 2 dan mahasiswa jurnalistik.

Tema dari webinar nasional ini ialah “Jurnalisme di Era Post Truth”. Post truth adalah kondisi dimana fakta objektif tidak lagi memberikan pengaruh besar dalam membentuk opini publik, justru malah keyakinan pribadi dan keterkaitan emosional yang mendapatkan dukungan terbanyak dari masyarakat.

Webinar ini mengajak para peserta untuk lebih jauh mengenal apa sih itu post truth, bagaimana post truth pada media cetak, online dan media lainnya. Bagaimana upaya menghadapi post truth.

“jangan mudah percaya dengan apa yang diberitakan, agar terhindar dari berita hoax yang imbasnya ke post truth kita harus habituasi Tabayyun yaitu mengecek berita sebelum di share, mencari tahu apakah berita ini benar, apakah berita ini bermanfaat lalu kemudian di share,” ucap Suryani, salah satu pemateri, Minggu (13/6/2021).

Dikatakan, keadaan post-truth dapat terjadi melalui argumen berbentuk alasan logis yang sebetulnya belum tentu benar dan dapat dibuktikan, itulah pentingnya kroscek dulu sebelum percaya.

Webinar yang dibawakan oleh empat pemateri ini diantaranya, Suryani Musi (dosen), Ikhasan Mahar (Wartawan koran kompas), Ardianto (reporter tv one), dan Agus Nyambi (kordinator Sindonews Makassar) diharapkan dapat membuka pikiran setiap orang tentang pentingnya mengecek berita terlebih dahulu sebelum percaya agar tidak termakan berita hoax yang imbasnya ke post truth.

Di akhir acara Nabila Rayhan selaku moderator membacakan sebuah kutipan dari “Paul Joseph Goebbels” yaitu “Kebohongan yang diceritakan satu kali adalah kebohongan, tapi kebohongan yang diceritakan ribuan kali akan menjadi kebenaran”. (*)

Citizen Reporter: Farmawati Muin