OPINI—Di tengah derasnya arus informasi global, dunia tak lagi bisa memalingkan wajah dari tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung di tanah Palestina. Agresi militer yang dilakukan entitas Zionis terhadap rakyat Gaza telah melampaui batas kemanusiaan dan kini masuk ke fase paling biadab: menggunakan kelaparan sebagai senjata untuk memusnahkan suatu bangsa.
Blokade total atas bantuan pangan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya bukan sekadar bentuk tekanan politik atau taktik perang, melainkan manifestasi nyata dari genosida yang dilakukan secara sistematis. Tindakan ini adalah cerminan kelemahan, bukan kekuatan. Ini menunjukkan bahwa Zionis tidak mampu menaklukkan semangat perlawanan dengan keberanian di medan laga, melainkan memilih jalan membunuh dengan perlahan lewat perut kosong anak-anak, perempuan, dan orang tua.
Situasi kemanusiaan di Gaza menunjukkan kondisi yang sangat memprihatinkan, dengan kelaparan yang parah dan semakin nyata. Menurut data dari PNGO portal, Lebih dari 345.000 orang di Gaza berada dalam fase kelaparan akut (IPC Phase 5), sementara 91% populasi menghadapi tingkat ketahanan pangan yang kritis atau lebih buruk dan sekitar 60.000 anak di Gaza berisiko mengalami komplikasi kesehatan yang tidak dapat dipulihkan akibat malnutrisi akut. Selain itu sejak Januari 2024, warga di Gaza Utara hanya mengonsumsi rata-rata 245 kalori per hari, kurang dari satu kaleng fava beans.
Kehancuran Infrastruktur terdata sekitar 56% rumah di Gaza mengalami kehancuran atau rusak berat akibat serangan udara dan serangan darat. Hal ini diikuti dengan hancurnya sistem prekonian yang ditandai lebih dari 80% warga Gaza kini mengangur, dengan tingkat kemiskinan mencapai 100 % (Wikipedia). Disisi lain Israel terus membatasi akses bantuan kemanusiaan ke Gaza, dengan banyaknya truk bantuan yang terhalang atau diserang, hal ini menghambat upaya penyelamatan nyawa warga Gaza.
Krisis ini bukan hanya masalah kemanusiaan, tetapi juga tantangan moral dan hukum global. Penting bagi komunitas internasional untuk mengakui kenyataan ini dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk menghentikan penderitaan yang berlangsung.
Perspektif Islam: Haram Menjadikan Kelaparan Sebagai Senjata
Dalam Islam, peperangan memiliki aturan yang sangat ketat. Bahkan dalam kondisi perang pun, Rasulullah ﷺ melarang pembunuhan terhadap wanita, anak-anak, orang tua, serta penghancuran sumber pangan dan air. Islam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, bahkan kepada musuh sekalipun. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak merahmati orang yang tidak merahmati sesama manusia.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Menahan makanan, air, dan kebutuhan dasar dari rakyat sipil adalah tindakan dzalim. Nabi Muhammad ﷺ melarang menghancurkan tanaman, air, dan makanan saat perang jika tidak ada kebutuhan militer langsung (dalam etika perang Islam/fiqh al-jihad).
Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an :
“Barang siapa membunuh satu jiwa, bukan karena orang itu membunuh orang lain atau membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan ia telah membunuh seluruh manusia.”
(QS. Al-Ma’idah: 32).
Ini mencakup pembunuhan tidak langsung seperti dengan membiarkan sesorang mati karena kelaparan, terutama jika disengaja sebagai alat perang.
Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)
Bandingkan dengan cara Zionis menjadikan kelaparan sebagai alat pemusnahan. Mereka menghancurkan lahan pertanian, mengebom fasilitas air bersih, dan memblokir bantuan kemanusiaan. Ini bukan hanya melanggar prinsip moral universal, tapi juga bentuk penghinaan terhadap martabat manusia yang bahkan dalam aturan perang pun, ada adab yang harus dijaga.
Bukti Kelemahan dan Kepengecutan
Tindakan zionis yahudi yang memblokade bantuan makanan dan medis ke Gasa sebagai senjata dalam genosida menjadi bentuk nyata kelemahan dan kepengecutan mereka. Ketika bom dan peluru belum mampu menghentikan perjuangan rakyat Palestina, mereka menggunakan “senjata kelaparan” sebagai alat baru menyiksa secara massal.
Dalam logika militer konvensional, kemenangan diraih dengan strategi, keberanian, dan kekuatan di medan pertempuran. Namun Zionis memilih jalan berbeda: menyerang sipil, merampas sumber kehidupan, dan memblokade jalur bantuan. Ini bukan taktik militer jenius, melainkan tindakan pengecut yang lahir dari ketakutan menghadapi perlawanan sejati.
Mereka takut menghadapi generasi baru Gaza yang tak gentar meski dibesarkan di bawah bayang-bayang bom. Mereka panik menghadapi umat yang semakin sadar dan bangkit dari tidur panjangnya. Maka dijadikanlah perut kosong dan tubuh kurus anak-anak sebagai medan tempur. Tidak ada kehormatan dalam cara seperti itu.
Ini bukan lagi perang secara militer, melainkan pembantaian yang bertujuan menghapus seluruh populasi di jalur Gaza. Sayangnya, dunia internasional masih bersikap pasif dan hanya memberi kecaman bagi zionis.
Seruan Kepada Umat Islam
Diamnya para pemimpin muslim hari ini bukalah hal yang tepat. Pemimpin muslim justru memilih bungkam atau bahkan berkhianat di tengah jeritan rakyat Palestina yang berada diambang kelparan dan kematian. Alih-alih bersikap tegas dan bersatu melawan zionis, banyak dari mereka semakin melanggengkan hubungan diplomatik dan ekonomi dengan negara-negara barat yang menjadi penyokong persenjataan zionis Israil.
Umat Islam tak boleh berdiam diri. Membiarkan kelaparan terjadi di Gaza sama dengan membiarkan nilai-nilai Islam diinjak-injak. Ini bukan hanya soal Palestina, ini tentang harga diri umat. Islam memerintahkan kita untuk menjadi satu tubuh, di mana jika satu bagian terluka, seluruh tubuh merasakan sakit. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencintai, mengasihi dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh merasakan sakit dengan tidak tidur dan demam.” (HR. Muslim)
Maka, saat Gaza dilanda kelaparan, kita harus bersuara. Saat anak-anak Gaza mati tanpa makanan, kita harus bertindak. Jika tidak, kita sedang membiarkan musuh-musuh Islam percaya bahwa metode pengecut seperti ini bisa menundukkan umat.
Urgensi kembalinya satu kepemimpinan Islam
Genosida dengan kelaparan adalah bukti nyata kelemahan dan kepengecutan Zionis. Mereka tidak punya keberanian menghadapi umat Islam secara langsung. Namun di saat yang sama, ini juga menjadi cambuk bagi umat untuk bangkit, bersatu, dan kembali kepada ajaran Islam yang kaffah, yang menolak penjajahan, mengutuk ketidakadilan, dan menjunjung tinggi kehormatan manusia.
Genosida di Gaza terus terjadi karema umat Islam tidak memiliki pelindung yang sejati. Umat muslim kehilangan peran negara sebagai ra’in dan junnah yang akan melindungi setiap rakyat dari penjajahan dalam bentuk apapun.
Dengan kondisi seperti ini, seruan untuk kebangkitan umat muslim dan kembalinya kepemimpinan Islam semakin relevan dan mendesak. Pasalnya hanya dengan ekuatan Islam global dibawah satu bendear tauhid itulah yang akan memebri komando perlawanan terhadap zionis Israel.
Oleh karena itu harus ada perjuangan serius untuk menegakkannya kembali. Umat harus membangun kesadaran untuk berjuang bersunguh-sungguh memperjuangkan syariat Allah dalam naungan kepemimpinan global yang akan menegakkan keadilan, melindungi umat, dan membebaskan kaum muslim dari cengkraman penjajah. Karena hanya dengan Islam, kehormatan kaum muslimin bisa ditegakkan. Wallahu a’lam bissawab. (*)
Penulis: Eryuni, S.P., M.P (Pegiat Literasi)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.










