PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • Ketika Media Online Menjadi Ruang Bullying bagi Mahasiswa • FH Unhas Jadi Fakultas Pertama Susun Skema Sertifikasi Kompetensi • Urgensi Industrialisasi Pangan di Sulawesi Selatan • Seminar Parenting SDIT Cipta Insani Depok Tekankan Pentingnya Kehadiran Orang Tua • Ekonomi Makassar Tumbuh 7,04 Persen, DPRD Soroti Jalan Rusak hingga Layanan RS Daya • El Nino Mengintai hingga 2027, Penyuluh Kehutanan Sulsel Didorong Bergerak Cegah Karhutla • PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • Ketika Media Online Menjadi Ruang Bullying bagi Mahasiswa • FH Unhas Jadi Fakultas Pertama Susun Skema Sertifikasi Kompetensi • Urgensi Industrialisasi Pangan di Sulawesi Selatan • Seminar Parenting SDIT Cipta Insani Depok Tekankan Pentingnya Kehadiran Orang Tua • Ekonomi Makassar Tumbuh 7,04 Persen, DPRD Soroti Jalan Rusak hingga Layanan RS Daya • El Nino Mengintai hingga 2027, Penyuluh Kehutanan Sulsel Didorong Bergerak Cegah Karhutla •
Sulsel

3000 lebih Sapi di Sulsel masih menderita Penyakit Mulut dan Kuku

1326
×

3000 lebih Sapi di Sulsel masih menderita Penyakit Mulut dan Kuku

Sebarkan artikel ini
3000 lebih Sapi di Sulsel masih menderita Penyakit Mulut dan Kuku
Mayjen TNI Fajar Setyawan Deputi Penanganan Darurat BNPB saat ditemui awak media di Kantor Gubernur Sulsel, Selasa (4/9/2022).

MAKASSAR—Sebanyak 3000 lebih sapi di Sulsel masih menderita Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Ribuan sapi ini tersebar di beberapa kabupaten di Sulsel. Namun dari 3000 sapi itu, Sulsel telah menurunkan angka sapi penderita PMK yakni dari 8000 menjadi 3000.

Data ini diungkapkan oleh Mayjen TNI Fajar Setyawan, selaku Deputi Penanganan Darurat BNPB. Menurutnya, Sulsel harus kerja keras lagi untuk mencapai target zero kasus pada November mendatang.

“Selanjutnya semoga bisa disembuhkan, harapan kita November sudah zero kasus, karena ini dampaknya merugikan ke ekonomi maupun sosial,” ujar Mayjen TNI Fajar saat ditemui di Kantor Gubernur Sulsel, Selasa (4/9/2022).

Pemerintah melalui Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) memang menargetkan agar kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) bisa diselesaikan sebelum akhir tahun ini.

Karena itu, BNPB senantiasa mengevaluasi progres penanganan PMK di daerah, tak terkecuali Sulawesi Selatan.

Menurutnya dari hasil monitoring, sejauh ini penanganan PMK di Sulawesi Selatan berjalan cukup baik. Namun pihaknya masih akan melakukan verifikasi di lapangan untuk memastikan empat strategi pengendalian PMK dilaksanakan secara maksimal.

“Progres penanganan PMK memasuki bulan ke empat ini bagus. Cuma kami akan verifikasi di lapangan sekaligus kita akan berikan evaluasi sehingga di November, maksimal desember kasus bisa clear,” ujar Mayjen Fajar.

Verifikasi lapangan akan dipusatkan di tiga kabupaten yakni Jeneponto, Gowa dan Maros.

Adapun empat strategi penanganan PMK, kata Mayjen Fajar, yang pertama adalah biosecurity, selanjutnya vaksinasi bagi sapi sehat, pemotongan bersyarat bagi sapi terjangkit dan terakhir adalah testing.

“Ini kunci utama yang kita terapkan di seluruh 22 provinsi terdampak PMK di Indonesia,” ucapnya.

Lebih lanjut ia menyebut, secara komulatif terdapat sebanyak 8 ribu kasus PMK di Sulsel. Namun kini tersisa 3 ribu kasus dengan angka kesembuhan cukup tinggi.

“Artinya sisanya itu dapat disembuhkan dan potong bersyarat, dimaknai bahwa 4 strategi sudah dilaksanakan di sulsel,” jelasnya.

Ia berharap, satgas di daerah komitmen membasmi PMK. Sebab jika berlanjut akan berdampak negatif baik untuk ekonomi maupun sosial.

“Sosialisasi akan kami galakkan. Kalau pengen sapi sehat ya vaksin. Ketika sakit kasih obat dan vitamin. Ketika potong bersyarat ada kompensasi maksimal senilai Rp10 juta,” pungkasnya. (*)

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com