OPINI—Setiap tanggal 26 September diperingati sebagai Hari Statistik Nasional (HSN). Disahkannya Undang-undang Nomor 7 tahun 1960 tentang Statistik pada tanggal 26 September 1960 menjadi momentum sejarah ditetapkannya 26 September sebagai HSN.

Sejalan dengan perkembangannya, UU nomor 7 tahun 1960 diperbarui dengan UU nomor 16 tahun 1997 tentang Statistik. Sesuai peraturan perundang-undangan, Badan Pusat Statistik (BPS) melaksanakan tugas pemerintahan di bidang statistik yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia.

Bagi beberapa kalangan masyarakat, statistik identik dengan sekumpulan angka-angka yang ditampilkan dalam bentuk tabel, grafik, peta tematik, dan lainnya. Statistik juga identik dengan ilmu matematika yang berisi notasi atau simbol matematik dalam rumus yang rumit.

Sementara menurut UU nomor 16 tahun 1997 tentang statistik, menyatakan bahwa kegiatan statistik ditujukan untuk menyediakan data statistik yang lengkap, akurat, dan mutakhir dalam rangka mewujudkan Sistem Statistik Nasional yang handal, efektif, dan efisien guna mendukung pembangunan nasional.

Dari pernyataan ini, kita mengetahui bahwa statistik bukan sekedar angka, namun kunci menuju kesuksesan serta kesejahteraan (tutur Setianto, Deputi Bidang Distribusi dan Jasa).

Peringatan Hari Statistik Nasional memiliki makna untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya statistik, meningkatkan peran serta masyarakat dalam statistik dan mendorong para pelaku statistik untuk terus melakukan kegiatan statistik sesuai kaidah yang berlaku.

Sensus Penduduk, Sensus Pertanian, dan Sensus Ekonomi adalah tiga kegiatan besar BPS. Tiga kegiatan sensus ini cukup familiar di telinga masyarakat karena mereka mengindektikkan BPS dengan kegiatan “sensus”.

Selain sensus, masih banyak kegiatan statistik yang dilaksanakan oleh BPS, diantaranya survei sosial ekonomi nasional (susenas), survei angkatan kerja nasional (sakernas), pendataan potensi desa (podes), survei industri menengah dan kecil (imk), survei harga perdesaan, survei penduduk antar sensus (supas), survei pertanian antar sensus (sutas), dan lain sebagainya.

BPS senantiasa berusaha untuk menjadi penyedia data yang berkualitas bagi pemerintah dan semua pihak, baik di bidang ekonomi maupun sosial.

Dari berbagai survei tersebut menghasilkan data-data strategis seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, ketenagakerjaan, kemiskinan, nilai tukar petani (NTP), angka produksi padi dan palawija, serta ekspor-impor. Data kependudukan, ketenagakerjaan, pendidikan, pertanian, industri, pertambangan, keuangan, dan pendapatan nasional, senantiasa disajikan oleh BPS melalui pengumpulan dan pengolahan data terlebih dahulu sebelum nantinya disajikan bagi para pengguna data.

Penyebarluasan data/informasi statistik dilakukan oleh BPS melalui beberapa cara. Yang pertama melalui Sistem Informasi Rujukan Kegiatan Statistik (SiRusa) yang dapat diakses dengan mengetikkan alamat sirusa.bps.go.id.

Yang kedua melalui publikasi statistik yang dikemas dalam bentuk media cetak dan elektronik.

Yang ketiga melalui layanan dan promosi statistik yang melayani permintaan data dari pengguna data, yang dapat diakses secara langsung dengan datang ke kantor BPS, melalui telepon, surat elektronik maupun situs web. Disamping itu, BPS juga menyediakan layanan konsultasi statistik.

Kita ketahui bersama bahwa pengguna data BPS berasal dari berbagai kalangan, mulai dari kementerian dan lembaga pemerintah, pihak swasta, BUMN, BUMD, pelajar, mahasiswa dan lembaga pendidikan.

Data tersebut digunakan untuk bahan perencanaan, evaluasi pemerintah, bahan untuk menyusun skripsi, tesis, disertasi, serta penelitian. Oleh karena luasnya pengguna data BPS, maka penyempurnaan metode penelitian untuk memperoleh data yang berkualitas dan up to date  menjadi tuntutan bagi BPS dalam setiap program kegiatannya.

Sebagaimana pesan M. Habibullah, Deputi Bidang Statistik Produksi, bahwa program perlu aksi, dukungan perlu ambisi, dan siasat harus dengan inovasi. Deputi Bidang Statistik Sosial, Ateng Hartono, juga berpesan agar HSN bukan sekedar diperingati, namun menjadi tonggak untuk terus menumbuhkan dan semakin memperkuat BPS sebagai pusat dan penyedia data terstandarisasi.

Peningkatan kapasitas statistik nasional pun perlu dilakukan melalui kolaborasi semua pihak, agar pembangunan statistik nasional dapat dimanfaatkan seluas-luasnya (tutur Imam Machdi, Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik).

Selamat Hari Statistik Nasional Tahun 2021. Semoga semangat HSN senantiasa hadir dalam setiap perjuangan kita dalam menyediakan data statistik yang berkualitas untuk Indonesia maju dan sejahtera. (*)

Penulis: Riska Eka Agustina, S.ST., M.Sc. (Statistisi Pertama di Badan Pusat Statistik)

***

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.