OPINI—Sulsel pada tahun 2021 telah menempati urutan kesembilan menurut kontribusi perekonomian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Kontribusinya mencapai 3,22 persen.
Pada tahun 2021 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulsel atas dasar harga konstan tahun 2010 mencapai Rp343,40 triliun dan mencapai Rp545,23 triliun atas dasar harga berlaku.
Jika dilihat per subsektor, maka yang memiliki kontribusi terbesar adalah industri makanan dan minuman sebesar 7,38 persen. PDRB subsektor ini cukup berlari kencang dengan peningkatan mencapai 110 persen selama 10 tahun terakhir.
Pertumbuhan subsektor industri makanan dan minuman mencapai 7,45 persen pada tahun 2021. Hal ini menjadi titik balik setelah sempat terpuruk pada tahun 2020 semasa pandemi Covid-19 yang berkontraksi sebesar 2,16 persen.
Pandemi Covid-19 memang sangat memukul industri makanan dan minuman ini. Pembatasan yang berskala besar, utamanya di perkotaan membuatnya tertahan.
Meski begitu, tidak butuh waktu lama untuk kembali recovery, bahkan dengan berbagai inovasi yang membuat banyaknya bermunculan industri-industri makanan dan minuman baru yang diminati oleh masyarakat, utamanya para milenial.
Permasalahan Industri Sulsel
Pemerintah Provinsi Sulsel telah menyusun dokumen Rencana Pembangunan Industri Provinsi (RPIP) Sulsel Tahun 2018-2038 dalam rangka mewujudkan visi industri nasional, yaitu “Indonesia Menjadi Negara Industri Tangguh”.
Saat ini yang menjadi sumber permasalahan industri di Sulsel di antaranya adalah pengembangan sektor hulu belum bersinergi dengan baik terhadap sektor industri unggulan sehingga belum optimal menggenjot kontribusinya terhadap PDRB.
Sumber daya manusia dan pengorganisasian masih kurang sehingga sumber daya alam belum optimal dieksploitasi. Pengembangan komoditas yang memiliki nilai tambah masih cukup terbatas dan belum dikembangkan dengan baik.













