OPINI—Cerita ini bukan tentang percintaan atau apapun tentangku, tetapi cerita ini menceritakan tentang pamanku yang memiliki kisah hidup yang malang dan sangat tragis riwayat kematiannya.
Semasa di bangku sekolah sampai tamat di MAN Jeneponto, pamanku (almarhum Kasdin Lalo) pernah memiliki pacar tetapi dia tidak mendapatkan restu dari orang tuanya alias nenekku (Nurbiah Daeng Somba).
Karena kejadian itu, paman mulai mengurung dirinya di kamarnya sendiri, dia tidak mau bertemu dengan orang-orang. Biasanya dia keluar kamar saat rumah sunyi.
Sebenarnya, dia tinggal sendiri di rumahnya tetapi aku dan sepupuku sering berkunjung kerumahnya hanya untuk bermain di area rumahnya. Tidak jarang temanku ingin ikut masuk, tetapi aku melarangnya karena dia tidak mau bertemu dengan orang lain kecuali aku dan sepupuku.
Jika sudah masuk jam makan siang biasanya tanteku (Kasmawati Kebo) membawakan makanan untuknya lewat kaca jendela atau pintu yang di buka sedikit agar makanan bisa masuk.
Menjelang pamanku mengakhiri hidupnya, Suatu malam dia tiba-tiba mengirimkan pesan kepada tanteku dia berkata “Datanglah jam 6 pagi kerumahku”. Tanteku yang membaca itu bingung tapi dia tidak terlalu memikirkannya karena dipikirannya pamanku ingin memberitahukan sesuatu.
Keesokan paginya, tanteku datang ke sana saat membuka pintu, dan pintu tersebut ternyata terkunci dari dalam. Tanteku berkata “hei buka pintunya” tetapi tidak ada suara dari dalam, tanteku langsung saja menuju jendela lalu mengetuk jendela itu tetapi masih tidak ada balasan.
Aku yang mendengar tanteku terus memanggil pamanku bertanya-tanya kenapa dengan tanteku. Kebetulan rumah pamanku berdekatan dengan rumahku.
Aku langsung saja berlari ke dalam rumahku lalu berkata kepada mamaku “ma kenapa tante manggil paman terus, tapi paman tidak membukakan pintu?” mama yang mendengar itu langsung membangunkan papaku.
Mama dan papaku langsung kesana untuk membantu tanteku, aku tidak kesana karena aku ingin bersiap-siap untuk ke sekolah, firasatku memang sudah tidak enak sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada pamanku tapi aku berusaha menepis pikiranku itu.
Setelah aku bersiap-siap aku langsung saja kesana untuk melihat apakah pintu tersebut sudah bisa di buka atau tidak. Ternyata pintu tersebut belum bisa terbuka di sana juga sudah ada sepupuku, setelah beberapa lama akhirnya pintu tersebut bisa terbuka dengan cara dibuka paksa oleh papaku.
Ironisnya, saat pintu tersebut terbuka kami semua langsung diam seperti patung di depan pintu melihat apa yang terjadi didalam sana. Papaku yang pertama tersadar langsung saja masuk kedalam kamar pamanku, untuk membantu pamanku yang sudah tidak bernyawa lagi dengan posisi leher tergantung di kayu rumah yang besar dan panjang (pallangga lompo) menggunakan seutas kabel antena parabola yang besar berwarna hitam.
Papaku cepat-cepat melepaskan ikatan tali yang ada di leher pamanku, setelah itu papaku membawanya keluar dari kamar itu, papaku langsung mengecek apakah pamanku masih bernafas atau tidak.
Ternyata, nyawa pamanku sudah tidak bisa ditolong lagi. Aku langsung menangis sejak tadi di dalam pelukan mamaku. Firasatku yang tadinya aku buang jauh-jauh ternyata benar-benar terjadi.
Semenjak kejadian itu, aku benar-benar merasa kehilangan seorang paman yang baik dan sabar serta pendiam, dia yang selama ini selalu menjadi teman main dan bercanda, ternyata sudah berpulang ke Rahmatullah untuk selama-lamanya sama seperti kakekku (Almarhum Kasim Daeng La’lang).
Dan satu lagi yang kalian semua harus ketahui, pamanku dan kakekku meninggal dunia dengan tanggal dan bulan yang sama hanya saja tahunnya beda, kakekku (Kasim Daeng La’lang) meninggal dunia tahun 2016, sedangkan pamanku (Kasdin Lallo) meninggal dunia pada tahun 2018, sama-sama bulan 12. (*)
Penulis:
Nuraziza Khairunnisa Kahar
(Siswi Kelas IX.2 MTsN 1 Jeneponto)








