Advertisement - Scroll ke atas
Pendidikan

Refleksi Hari Guru: Diantara Pengabdian dan Ketidakadilan

3664
×

Refleksi Hari Guru: Diantara Pengabdian dan Ketidakadilan

Sebarkan artikel ini
Hari Guru Nasional
Hari Guru Nasional

MEDIASULSEL.COM—Guru adalah pilar pendidikan, pelita yang menerangi jalan anak bangsa menuju masa depan. Namun, nasib guru, terutama guru honorer, sering kali berada di ujung tanduk—diperlakukan tidak adil oleh sistem yang mereka perjuangkan.

Mirisnya, dalam beberapa tahun terakhir, fenomena kriminalisasi guru semakin marak, menambah beban hidup mereka yang sudah penuh dengan perjuangan berat.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Kasus-kasus kriminalisasi guru sering bermula dari hal sepele: mendisiplinkan siswa yang justru dimaknai sebagai tindakan kekerasan. Tanpa mempertimbangkan konteks atau maksudnya, guru dijerat hukum dengan tuduhan yang mencoreng martabat mereka.

Padahal, tindakan mereka semata-mata bertujuan mendidik, membentuk karakter anak-anak yang kelak akan menjadi pemimpin bangsa. Ironis, guru yang seharusnya dihormati malah diperlakukan seperti penjahat.

Lebih memilukan lagi, kondisi ini banyak dialami oleh guru honorer—mereka yang telah bertahun-tahun mengabdi tanpa status yang jelas atau jaminan hidup layak. Dengan gaji yang jauh di bawah standar, mereka tetap melaksanakan tugas mulianya.

Ada yang hanya menerima honor Rp300.000 hingga Rp1 juta per bulan, jumlah yang bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Namun, dengan segala keterbatasan itu, mereka tetap hadir di kelas, membawa harapan bagi generasi muda.

Kisah para guru honorer adalah potret perjuangan yang tak mengenal lelah. Dari pagi hingga sore, mereka mendidik di sekolah. Di malam hari, mereka menjadi tukang ojek, buruh cuci, atau pekerja serabutan demi menafkahi keluarga.

Pengabdian mereka luar biasa, tetapi penghargaan yang diterima sering kali tidak setara. Pemerintah, yang seharusnya menjadi pelindung, justru terkesan abai. Janji-janji pengangkatan guru honorer menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) kerap terdengar, tetapi pelaksanaannya lamban dan berbelit.

Ketidakadilan ini semakin mengiris hati ketika melihat bagaimana pendidikan sering kali dipuja sebagai prioritas nasional, tetapi guru—pahlawan di balik pendidikan—ditelantarkan.

Apakah adil bagi seseorang yang mendedikasikan hidupnya untuk mencerdaskan bangsa, harus menghadapi tuntutan hukum karena menjalankan tugas? Apakah pantas mereka hidup dalam ketidakpastian, tanpa perlindungan dan penghormatan yang layak?

Namun, di balik semua kesulitan ini, para guru tidak pernah menyerah. Mereka tetap berdiri tegak, meski langkah mereka berat. Harapan mereka sederhana: sebuah kehidupan yang bermartabat, sebuah pengakuan atas perjuangan mereka. Motivasi itu yang terus membuat mereka bertahan, meski air mata sering kali menjadi saksi diam dari perjuangan mereka.

Pemerintah dan masyarakat tidak boleh berpangku tangan. Sudah saatnya ada perlindungan hukum yang jelas bagi guru, agar mereka tidak mudah dikriminalisasi. Kesejahteraan guru, terutama honorer, juga harus menjadi prioritas nyata, bukan sekadar janji politik. Pendidikan yang berkualitas hanya bisa terwujud jika gurunya sejahtera dan terlindungi.

Kisah guru adalah kisah tentang kerja keras, dedikasi, dan cinta pada negeri ini. Jangan biarkan kisah itu berakhir memilukan. Hormati mereka yang telah memberikan segalanya untuk masa depan kita. Jika guru tidak lagi dihargai, maka kita sedang meruntuhkan fondasi bangsa ini dengan tangan kita sendiri. Selamat memperingati Hari Guru Nasional 2024. (*)

error: Content is protected !!
⚠ Cuaca Ekstrem Sulsel