MAMASA—Pemandangan unik dapat ditemui di wilayah pegunungan Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Di Kecamatan Buntu Malangka, petani menjual nanas tanpa penjaga di pondok pinggir jalan maupun di depan rumah mereka. Pembeli cukup mengambil buah yang diinginkan lalu memasukkan uang sesuai harga yang tertera.
Tradisi sederhana ini telah berlangsung bertahun-tahun dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Di beberapa titik, nanas tersusun rapi di atas dipan kayu dengan papan harga dan wadah pembayaran. Tidak ada penjual yang menunggu, seluruh transaksi berlangsung atas dasar kepercayaan.
Perjalanan menuju wilayah pegunungan Mamasa sendiri menyuguhkan panorama hijau yang menenangkan. Jalan berkelok membelah perbukitan dengan udara sejuk dan aroma kebun dari lereng-lereng bukit. Di sepanjang jalur itu, pondok kecil berisi nanas sering terlihat, menunggu pembeli yang melintas.
Selain di pondok, sejumlah petani juga meletakkan hasil panen mereka di depan rumah. Baik saat pemilik rumah berada di tempat maupun tidak, proses jual beli tetap berlangsung dengan cara yang sama.
Harga nanas yang dijual bervariasi, mulai dari Rp5.000 untuk ukuran kecil, Rp10.000 ukuran sedang, hingga Rp15.000 sampai Rp20.000 untuk ukuran besar. Sebagian hasil panen juga dipasarkan ke luar daerah melalui pedagang pengumpul, termasuk ke wilayah Pinrang dan Mamuju.
Salah seorang pelintas, Agung, mengaku sudah beberapa kali membeli nanas saat melintasi wilayah tersebut. Ia biasanya melewati jalur ini ketika menuju kampung istrinya di Kalumpang, Kabupaten Mamuju.
“Unik, karena membuat pembeli jujur. Berapa yang diambil, itu yang dibayarkan. Hanya sedikit was-was saja, takut ada orang lain yang mengambil uang kita kalau ditaruh di wadah yang disediakan,” ujarnya.
Menurut Mathindas, pemilik lahan sekaligus pemerhati budidaya nanas di wilayah tersebut, penjualan tanpa penjaga sudah lama dilakukan petani. Cara ini dipilih karena petani tidak selalu memiliki waktu untuk menunggu di lokasi penjualan.
“Biasanya hasil panen kami taruh di pondok pinggir jalan karena petani masih harus bekerja di kebun. Tapi cara seperti ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat dan hampir tidak pernah ada nanas atau uang yang hilang,” katanya.
Nanas Mamasa dikenal segar dengan rasa manis bercampur sedikit asam. Selain dijual sebagai buah segar, nanas juga berpotensi diolah menjadi berbagai produk seperti jus hingga selai untuk isian kue nastar.
Mathindas menilai potensi nanas Mamasa sebenarnya cukup besar. Namun, tantangan utama saat ini masih pada pemasaran yang belum menjangkau lebih banyak pembeli di luar wilayah.
“Ke depan kami berharap ada lebih banyak pembeli dan pengolahan hasil panen agar nilai jualnya meningkat,” tambahnya.
Di balik potensi ekonomi tersebut, tradisi menjual nanas tanpa penjaga tetap dipertahankan. Bagi para pelintas, pengalaman membeli buah dengan sistem kepercayaan ini menjadi cerita tersendiri—bahwa di sebuah sudut pegunungan Mamasa, kejujuran masih hidup dan terasa manis seperti nanas dari lereng bukit. (4nny)









