PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Dinas Ketahanan Pangan Makassar Gandeng Sidrap Amankan Pasokan Pangan dan Kendalikan InflasiBPKP Periksa Istri Direktur PDAM Bone Terkait Transaksi Mobil AsetSulsel Dipanggang Suhu 35 Derajat, Pegunungan Diselimuti KabutGPM Makassar Diserbu Warga, Beras SPHP 5 Kg Dijual Rp58 RibuPI Migas Blok Sengkang Naik Jadi 10 Persen, Wajo Dapat 50 Persen untuk Daerah PenghasilKortastipidkor Polri Geledah Kantor dan Rumah Jabatan Bupati Gowa, Dugaan Pungli PBG Makin MelebarPEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Dinas Ketahanan Pangan Makassar Gandeng Sidrap Amankan Pasokan Pangan dan Kendalikan InflasiBPKP Periksa Istri Direktur PDAM Bone Terkait Transaksi Mobil AsetSulsel Dipanggang Suhu 35 Derajat, Pegunungan Diselimuti KabutGPM Makassar Diserbu Warga, Beras SPHP 5 Kg Dijual Rp58 RibuPI Migas Blok Sengkang Naik Jadi 10 Persen, Wajo Dapat 50 Persen untuk Daerah PenghasilKortastipidkor Polri Geledah Kantor dan Rumah Jabatan Bupati Gowa, Dugaan Pungli PBG Makin Melebar
Opini

Hardiknas: Seremonial Tahunan di Tengah Runtuhnya Moral dan Kegagalan Sistemik

143
×

Hardiknas: Seremonial Tahunan di Tengah Runtuhnya Moral dan Kegagalan Sistemik

Sebarkan artikel ini
Murni Supirman (Aktivis Muslimah)
Murni Supirman (Aktivis Muslimah)

OPINI—Setiap tahun, Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dirayakan dengan penuh sukacita seremonial. Namun, di balik riuhnya upacara, wajah pendidikan kita justru kian buram dan memprihatinkan. Bahkan menjelang peringatan Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 mei 2026 mendatang, dunia pendidikan kembali tercoreng oleh berbagai peristiwa yang melibatkan pelajar.

Salah satunya peristiwa pengeroyokan di Jalan Banyu Urip, Caturharjo, Pandak, Kabupaten Bantul yang menewaskan seorang pelajar bernama Ilham Dwi Saputra (16 tahun) pada 14 April 2026 lalu. (Kumparan.com)

Peristiwa diatas adalah satu dari sekian banyak masalah di dunia pendidikan. Realitas lapangan menunjukkan anomali yang lebih mengerikan. Sekolah dan kampus yang seharusnya menjadi ruang aman, kini justru bertransformasi menjadi sarang kekerasan bahkan pelecehan seksual. Integritas akademik pun berada di titik nadir seiring maraknya joki UTBK (kompas.com), budaya plagiarisme, hingga praktik curang yang sistemik.

Lebih jauh, jeratan narkoba kian masif di kalangan pelajar, sementara degradasi adab kian nyata lewat fenomena murid yang menghina hingga memenjarakan gurunya sendiri.

Kondisi ini bukan sekadar kebetulan, melainkan alarm keras atas kegagalan implementasi peta jalan pendidikan kita.

Analisis tajam menunjukkan adanya krisis kepribadian akut pada peserta didik yang cenderung sekuler, liberal, dan pragmatis. Inilah buah pahit dari sistem pendidikan sekuler kapitalistik yang memuja kesuksesan materi di atas segalanya. Output yang dihasilkan adalah generasi “instan” yang menghalalkan segala cara demi uang dan status, tanpa peduli pada proses maupun moralitas.

Kegagalan ini diperparah oleh absennya supremasi hukum yang memberikan efek jera. Negara cenderung menoleransi kriminalitas di bawah payung “kenakalan remaja”, sehingga sanksi bagi pelaku di bawah umur menjadi sangat longgar.

Minimnya penanaman nilai agama yang substantif dalam kurikulum sekuler akhirnya menciptakan ruang kebebasan tanpa batas (liberalisme) yang justru mengikis kepribadian dan menjerumuskan pemuda pada kemaksiatan dan tindak kejahatan.

Sebagai solusi fundamental, Islam menawarkan paradigma pendidikan yang berbasis pada akidah Islam. Dalam sistem Islam, pendidikan adalah hak dasar yang wajib dijamin sepenuhnya oleh negara untuk mencetak insan kamil dengan pribadi yang cerdas secara intelektual sekaligus kokoh dalam ketakwaan.

Fokus utamanya bukan sekadar transfer ilmu, melainkan pembentukan syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam) yang menyelaraskan pola pikir dan pola sikap berdasarkan syariat.

Transformasi ini memerlukan sinergi total mulai dari keluarga sebagai madrasah pertama, masyarakat sebagai kontrol sosial, dan negara sebagai pelaksana sistem pendidikan dan sanksi yang tegas. Tanpa berpijak pada fondasi yang benar, Hardiknas hanya akan tetap menjadi perayaan hampa di atas reruntuhan moral generasi bangsa. Wallahu’alam. (*)


Penulis:
Murni Supirman
(Aktivis Muslimah)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com