TORAJA UTARA—Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan Republik Indonesia terus mendorong hilirisasi kopi nasional sebagai strategi memperkuat daya saing Indonesia di pasar internasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan RI, Fajarini Puntodewi, menegaskan masa depan industri kopi Indonesia tidak lagi cukup bertumpu pada penjualan bahan mentah. Menurutnya, penguatan sektor kopi harus diarahkan pada pengolahan bernilai tambah, sertifikasi internasional, dan perluasan akses ke pasar premium dunia.
Dalam wawancara eksklusif bersama Mediasulsel.com di Toraja Utara, Rabu (21/5/2026), Fajarini Puntodewi menyebut Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu kekuatan utama industri kopi global karena didukung keberagaman kopi Nusantara yang telah memiliki reputasi kuat di pasar internasional, termasuk kopi Toraja.
“Ke depan, kopi Indonesia tidak boleh hanya dikenal sebagai bahan mentah. Kita ingin petani menikmati nilai tambah melalui hilirisasi, pengolahan, sertifikasi internasional, hingga akses pasar premium dunia,” ujarnya.
Hilirisasi Jadi Jalan Meningkatkan Nilai Tambah
Kemendag menilai hingga kini sebagian besar petani kopi masih berada pada rantai ekonomi terbawah karena hasil panen lebih banyak dipasarkan dalam bentuk mentah tanpa pengolahan optimal.
Untuk itu, pemerintah terus memperkuat program hilirisasi melalui pendampingan petani, peningkatan kualitas pascapanen, sertifikasi internasional, serta pembukaan akses ekspor yang lebih luas.
Berbagai standar global seperti sertifikasi organik, Rainforest Alliance, Fairtrade, hingga regulasi European Union Deforestation Regulation (EUDR) dipandang sebagai tantangan sekaligus peluang untuk meningkatkan daya saing kopi Indonesia.
“Fokus kami bukan sekadar mendorong petani mengolah kopi, tetapi memastikan produk mereka memiliki pasar yang jelas dan dihargai tinggi di tingkat internasional,” kata Fajarini Puntodewi.
Ia menambahkan, sekitar 90 persen perkebunan kopi nasional dikelola oleh perkebunan rakyat. Karena itu, keberhasilan hilirisasi harus memberi dampak langsung terhadap peningkatan pendapatan petani.
Toraja Dinilai Punya Daya Tarik Kuat di Pasar Global
Dalam kesempatan tersebut, Toraja disebut sebagai salah satu daerah yang memiliki posisi strategis dalam pengembangan ekspor kopi Indonesia.
Kemendag sebelumnya juga telah memfasilitasi pelaku usaha kopi Toraja untuk tampil dalam World of Coffee Athens 2023 sebagai bagian dari promosi kopi unggulan Indonesia di pasar global.
Menurut Fajarini, kekuatan kopi Toraja tidak hanya terletak pada cita rasa, tetapi juga identitas budaya serta cerita di balik proses produksinya yang menjadi nilai tambah di pasar premium.
“Setiap daerah di Indonesia memiliki karakter kopi yang unik. Tugas pemerintah adalah memastikan semua daerah memiliki kesempatan yang sama untuk dikenal dunia, termasuk Toraja,” ungkapnya.
Peremajaan Tanaman dan Ekspor Jadi Fokus Penguatan
Selain hilirisasi, pemerintah juga menyoroti tantangan sektor kopi nasional berupa banyaknya tanaman yang memasuki usia tua sehingga produktivitas mulai menurun.
Karena itu, sinergi lintas kementerian terus diperkuat, terutama bersama sektor pertanian untuk mendukung peremajaan tanaman serta peningkatan kapasitas petani.
Dari sisi perdagangan, Kemendag berupaya memastikan hasil produksi terserap pasar melalui promosi ekspor, pembukaan akses dagang, dan program pendampingan seperti Desa Bisa Ekspor.
Program tersebut diharapkan membantu petani dan pelaku UMKM memahami standar perdagangan internasional serta membangun strategi ekspor yang berkelanjutan.
Hibah Lahan 100 Hektare Dinilai Berpotensi Jadi Percontohan
Fajarini juga menyoroti rencana dukungan hibah lahan sekitar 100 hektare di wilayah Toraja Utara yang dinilai berpotensi menjadi model pengembangan kopi terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Menurutnya, pengembangan tersebut dapat menjadi proyek percontohan nasional jika dikelola melalui kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, petani, hingga sektor industri dan perdagangan.
Skema tersebut mencakup penyediaan bibit unggul, pembinaan teknis, pengolahan hasil, hingga pembentukan jalur ekspor dalam satu ekosistem terpadu.
“Kalau sejak awal standar internasional sudah dipenuhi, maka ketika panen kopi tersebut sudah memiliki akses pasar dan jalur ekspor yang jelas,” jelasnya.
Generasi Muda Jadi Harapan Industri Kopi Nasional
Di tengah perubahan tren konsumsi global, pemerintah juga melihat keterlibatan generasi muda sebagai faktor penting menjaga keberlanjutan industri kopi Indonesia.
Menurut Fajarini, kopi kini berkembang menjadi bagian dari gaya hidup global, terutama di kalangan generasi muda yang semakin memperhatikan isu keberlanjutan, kesejahteraan petani, hingga asal-usul produk yang dikonsumsi.
Pemerintah pun mendorong anak muda untuk terlibat lebih luas di sektor ini, tidak hanya sebagai petani, tetapi juga sebagai barista, kurator kopi, peneliti, pelaku industri kreatif, hingga eksportir.
“Anak muda harus melihat industri kopi sebagai sektor yang modern, kreatif, dan memiliki masa depan ekonomi yang menjanjikan,” tegasnya.
Dengan dukungan hilirisasi, penguatan ekspor, dan regenerasi pelaku industri, Toraja dinilai memiliki peluang besar menjadi salah satu pusat kekuatan kopi Indonesia di pasar dunia. (4nny)














