MAKASSAR — Pertumbuhan pesat kawasan Metropolitan Mamminasata mulai menghadirkan persoalan yang tak bisa lagi diabaikan. Kemacetan, tingginya mobilitas warga, hingga tuntutan layanan publik yang serba cepat menjadi alarm bagi pemerintah untuk segera mempercepat transformasi digital di Sulawesi Selatan.
Kondisi itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Pendampingan Smart City Metropolitan Mamminasata yang digelar di Ruang Command Center Kantor Gubernur Sulsel, Rabu (10/6/2026). Forum tersebut menjadi bagian dari upaya mempercepat integrasi layanan publik berbasis teknologi di kawasan metropolitan terbesar di Indonesia Timur.
Mamminasata yang mencakup Kota Makassar, Kabupaten Gowa, Maros, Takalar, dan Pangkep kini berkembang sebagai pusat ekonomi Sulawesi Selatan. Namun, pesatnya pertumbuhan kawasan tersebut juga memunculkan berbagai persoalan perkotaan yang semakin kompleks.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Kota Makassar memiliki tingkat kepadatan penduduk mencapai 8.388 jiwa per kilometer persegi. Tingginya aktivitas ekonomi dan dominasi sektor jasa membuat kebutuhan terhadap layanan transportasi dan pelayanan publik yang cepat serta terintegrasi semakin mendesak.
Sekretaris Dinas Kominfo SP Sulsel, Sultan Rakib, mengakui kemacetan telah menjadi konsekuensi yang sulit dipisahkan dari perkembangan kawasan metropolitan. Karena itu, Pemprov Sulsel di bawah kepemimpinan Gubernur Andi Sudirman Sulaiman dan Wakil Gubernur Fatmawati Rusdi terus mendorong konsep smart mobility sebagai solusi.
Salah satu langkah yang diperkuat adalah pengembangan layanan Trans Andalan Sulsel yang terhubung dengan sistem digital sehingga masyarakat dapat mengakses informasi perjalanan secara real time dan lebih efisien.
“Kemacetan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan kota metropolitan saat ini. Karena itu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan terus menghadirkan solusi melalui konsep smart mobility,” kata Sultan Rakib.
Selain digitalisasi transportasi, Pemprov Sulsel juga terus memperkuat konektivitas kawasan melalui pembangunan dan peningkatan infrastruktur jalan serta jembatan untuk mendukung mobilitas masyarakat dan distribusi logistik antarwilayah.
Direktur Layanan Aplikasi Informatika Pemerintahan Kementerian Komunikasi dan Digital, Aris Kurniawan, menegaskan digitalisasi kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Menurutnya, kawasan Mamminasata yang semakin terintegrasi menghadirkan tantangan baru, mulai dari kemacetan, sampah, banjir, penurunan kualitas udara hingga meningkatnya jumlah kendaraan bermotor.
Karena itu, pengembangan Smart City dinilai menjadi salah satu kunci untuk menjawab berbagai persoalan perkotaan sekaligus meningkatkan kualitas layanan publik. Pemerintah berharap transformasi digital yang tengah didorong dapat membuat Mamminasata tidak hanya tumbuh sebagai pusat ekonomi, tetapi juga menjadi kawasan metropolitan yang lebih tertata, efisien, dan nyaman bagi masyarakat. (Ag4ys)













