OPINI—Survei demi survei menunjukkan bahwa Generasi Z (Gen Z) merupakan kelompok dengan populasi terbesar di Indonesia. Namun, di saat yang sama, mereka juga menjadi generasi dengan tingkat kerentanan psikologis yang paling tinggi.
Berdasarkan riset Jakpat (2026), sekitar 60 persen Gen Z mengalami gangguan kesehatan mental akibat kecemasan terhadap masa depan. Faktor lain yang memicu kondisi tersebut antara lain tekanan finansial (57 persen), harapan sosial (42 persen), serta rasa tidak berdaya menghadapi situasi di luar kendali mereka (36 persen).
Gen Z (yang lahir pada rentang 1997–2012 menurut BPS atau 1995–2010 menurut teori lain) merupakan generasi yang tumbuh di tengah transisi menuju era digital yang berlangsung sangat cepat (hyper-digital). Kondisi ini membuat mereka mengalami overstimulation dari media sosial sehingga terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.
Di sisi lain, mereka juga harus menghadapi berbagai krisis multidimensi, mulai dari ketidakpastian geopolitik, tekanan ekonomi, hingga krisis lingkungan. Fenomena ini terjadi hampir di seluruh dunia dan melahirkan skeptisisme yang berkontribusi terhadap meningkatnya angka gangguan kecemasan serta kesehatan mental di kalangan Gen Z.
Lemah atau Dilemahkan?
Stigma bahwa Gen Z merupakan generasi yang manja, mudah menyerah, dan terlalu sensitif seolah menjadi label yang menggambarkan mereka sebagai generasi yang lemah. Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, mereka sesungguhnya adalah generasi yang sedang menanggung beban peradaban yang mengalami banyak kerusakan.
Sistem kapitalisme dan sekularisme yang berlaku saat ini dinilai menjadi salah satu disrupsi terbesar terhadap potensi yang dimiliki generasi muda.
Sistem tersebut mengarahkan mereka menjalani kehidupan tanpa orientasi yang jelas, mengikis jati diri, serta menjadikan kapital sebagai ukuran utama kebahagiaan. Akibatnya, manusia diposisikan layaknya roda penggerak industri yang kehilangan martabatnya.
Di sisi lain, potensi mereka juga terabaikan oleh negara. Alih-alih menjadi pelindung dan pembina generasi muda, para pemegang kekuasaan justru dinilai memperburuk keadaan melalui berbagai kebijakan yang belum berpihak kepada mereka.
Di antaranya minimnya dukungan terhadap layanan pendidikan, terbatasnya jaminan pekerjaan yang layak, serta belum optimalnya pelayanan kesehatan dan kebutuhan dasar lainnya.
Konstruksi Islam dan Arah Resistensi
Kondisi yang dihadapi generasi muda hari ini memang memprihatinkan. Namun, di balik itu juga tampak munculnya gelombang resistensi. Dalam hal ini, Gen Z dapat dikatakan menjadi representasi yang cukup kuat.
Mereka dikenal lebih vokal dalam menyuarakan ketidakadilan, berani mempertanyakan status quo, menolak budaya feodal, bahkan tidak segan meninggalkan sesuatu yang dianggap tidak lagi efisien atau rasional. Hal tersebut dapat dipandang sebagai sinyal positif lahirnya kesadaran kritis.
Akan tetapi, pertanyaan yang lebih penting adalah ke mana arah resistensi tersebut akan bermuara. Apakah akan melahirkan generasi yang mampu membawa perubahan hakiki, atau justru berhenti sebagai gerakan reaktif tanpa solusi yang nyata?
Keresahan terhadap kehidupan dan berbagai persoalan psikologis yang dihadapi Gen Z sejatinya dapat menjadi bahan bakar bagi lahirnya kebangkitan generasi apabila diarahkan dengan tepat. Ketidakpuasan terhadap kondisi dunia merupakan fitrah yang menandakan adanya sesuatu yang perlu diperbaiki.
Di sinilah Islam dipandang bukan sekadar sebagai agama, tetapi juga sebagai sistem kehidupan yang menawarkan arah perubahan.
Diperlukan upaya penyadaran umat melalui pembinaan generasi muda agar mereka memiliki landasan pemikiran dan ideologi Islam. Dengan demikian, arah resistensi tidak berhenti pada kebebasan tanpa batas, melainkan mengarah pada kebangkitan yang hakiki.
Perubahan yang berlandaskan pemikiran Islam diyakini tidak melahirkan resistensi semu sebagaimana yang lahir dari sekularisme. Sebaliknya, perubahan tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi yang membangun kembali peradaban yang gemilang sebagaimana pernah terwujud pada masa kepemimpinan Islam terdahulu.
Dalam konstruksi sistem Islam, generasi muda dipandang sebagai aset umat yang dibina dengan tsaqafah Islamiyah, diberikan ruang untuk berkembang, serta diarahkan menjadi pribadi-pribadi terbaik yang membawa manfaat bagi masyarakat.
Islam, dengan qiyadah fikriyah-nya, mengarahkan resistensi kepada jalan kebaikan, sehingga tidak hanya membentuk mental yang tangguh, tetapi juga melahirkan cara pandang yang benar terhadap kehidupan.
Dengan perspektif tersebut, persoalan hidup tidak hanya dipahami sebagai urusan dunia yang diselesaikan melalui pencarian kebahagiaan semu, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab ukhrawi yang mendorong setiap individu untuk mempersiapkan kehidupan setelah kematian.
Hal itu, menurut pandangan ini, telah dicontohkan sejak masa Rasulullah SAW hingga berakhirnya kepemimpinan Islam pada tahun 1924.
Sejarah menunjukkan bahwa Islam tidak hanya melahirkan generasi yang tangguh menghadapi persoalan psikologis dan sosial, tetapi juga membangun peradaban yang menghasilkan berbagai karya besar yang manfaatnya masih dapat dirasakan hingga saat ini. (*)
Penulis:
Rahmayani, S.Pd, M.Pd
(Aktivis dan Praktisi Pendidikan)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.










