TORAJA UTARA – Penurunan produksi kopi, terbatasnya ketersediaan bahan baku berkualitas, serta perubahan iklim yang memengaruhi hasil panen menjadi tantangan yang dihadapi pelaku usaha kopi di Toraja. Di tengah kondisi tersebut, menjaga kualitas menjadi kunci mempertahankan kepercayaan pelanggan sekaligus memastikan keberlanjutan usaha.
Komitmen itu terus dijaga Toraja Koffie, usaha pengolahan kopi yang berdiri sejak 2010. Usaha ini bermula dari gagasan Rendy Pairunan di Jakarta untuk memperkenalkan kopi Toraja ke pasar yang lebih luas. Seiring meningkatnya kepercayaan pelanggan, keluarga kemudian kembali ke Toraja untuk mengelola usaha secara langsung setelah memasuki masa pensiun.
Langkah itu ditempuh agar proses pascapanen dapat diawasi lebih optimal sekaligus memperkuat kemitraan dengan petani dalam menjaga mutu kopi Toraja.
Pemilik Toraja Koffie, Liling Toding Allo, mengatakan pihaknya bermitra dengan petani kopi Arabika di sejumlah desa di Kecamatan Buntupepasan, Toraja Utara, serta petani Robusta di Kecamatan Bittuang, Tana Toraja. Kemitraan tersebut dibangun melalui kesepakatan menjaga kualitas sejak proses panen hingga pengolahan biji kopi sesuai standar yang telah ditetapkan.
“Tujuan kami bukan hanya memperkenalkan Toraja Koffie, tetapi juga memperkenalkan hasil kopi petani Toraja. Karena itu, kualitas selalu kami jaga bersama para petani,” ujar Liling.
Toraja Koffie tidak hanya memproduksi green bean, tetapi juga mengolahnya menjadi roasted bean dan berbagai varian kopi bubuk sesuai kebutuhan pelanggan.
Untuk menjaga mutu, perusahaan menerima bahan baku berupa cherry merah dan gabah kopi. Cherry merah dipilih karena telah mencapai tingkat kematangan optimal, sedangkan buah yang masih hijau dipisahkan agar tidak memengaruhi cita rasa dan kualitas produk akhir.
Seluruh proses pascapanen dilakukan di fasilitas Toraja Koffie di Rantepao. Tahapannya meliputi penjemuran di green house hingga kadar air mencapai sekitar 13 persen, penyimpanan, proses hulling untuk memisahkan kulit tanduk, penyortiran, hingga menghasilkan green bean berkualitas sebelum dipasarkan atau diolah menjadi kopi sangrai dan bubuk.
Di ruang penyortiran, setiap biji kopi diperiksa kembali secara teliti. Tidak seluruh hasil panen petani langsung memenuhi standar, sehingga proses sortasi menjadi tahapan penting untuk memastikan mutu tetap terjaga. Konsistensi inilah yang selama bertahun-tahun menjadi dasar Toraja Koffie mempertahankan kepercayaan pelanggan.
“Penikmat kopi menilai kualitas, cita rasa, dan harga. Karena itu kami terus menjaga kualitas agar kepercayaan pelanggan tetap terpelihara,” katanya.
Melalui pola kemitraan tersebut, petani dapat lebih fokus pada budidaya tanaman, sementara proses penjemuran, penyortiran, hingga pengolahan ditangani Toraja Koffie. Skema ini tidak hanya menjaga konsistensi mutu, tetapi juga meningkatkan nilai tambah hasil panen sebelum dipasarkan.
Selama lebih dari satu dekade, Toraja Koffie melayani pelanggan di berbagai daerah melalui jaringan pelanggan tetap, media sosial, dan marketplace. Produk green bean mereka juga pernah diekspor. Namun, saat ini perusahaan memilih memfokuskan pemasaran di dalam negeri agar kualitas produk dan pelayanan kepada pelanggan tetap terjaga.

Meski demikian, tantangan masih membayangi. Produksi kopi di sejumlah kebun mulai menurun akibat usia tanaman, perawatan yang belum optimal, serta dampak perubahan iklim. Kondisi tersebut menyebabkan pasokan bahan baku berkualitas semakin terbatas dan harga kopi terus meningkat.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Toraja Koffie tetap berkomitmen mendampingi petani dan mempertahankan standar kualitas yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Bagi Toraja Koffie, keberhasilan tidak semata diukur dari volume penjualan, tetapi juga dari terjaganya kepercayaan pelanggan dan keberlanjutan kemitraan dengan petani.
Liling berharap para petani terus menjaga kualitas budidaya, mulai dari memanen cherry merah yang matang, menggunakan pupuk organik, hingga meningkatkan produktivitas kebun. Menurutnya, kolaborasi antara petani dan pelaku usaha menjadi salah satu kunci menjaga mutu sekaligus memperkuat daya saing kopi Toraja.
Bagi Toraja Koffie, kualitas bukan sekadar standar produksi, melainkan komitmen untuk menjaga kepercayaan pelanggan sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi hasil panen petani kopi Toraja. (4nny)










