PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Pendataan Perlinsos Dikebut, Sekda Makassar Kumpulkan CamatHIV Semakin Mewabah di Kalangan Remaja, Butuh Solusi TuntasPria Paruh Baya Dianiaya di SPBU Labuaja BoneKarhutla Terus Berulang, Dampak dari Tata Kelola KapitalistikSetahun Butuh 2.200 Kantong Darah, PMI Toraja Utara Serukan Gerakan Donor TetapDugaan “Peternak Siluman” di Rombongan Bupati Bone, Pemkab Diminta Buka DataPEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Pendataan Perlinsos Dikebut, Sekda Makassar Kumpulkan CamatHIV Semakin Mewabah di Kalangan Remaja, Butuh Solusi TuntasPria Paruh Baya Dianiaya di SPBU Labuaja BoneKarhutla Terus Berulang, Dampak dari Tata Kelola KapitalistikSetahun Butuh 2.200 Kantong Darah, PMI Toraja Utara Serukan Gerakan Donor TetapDugaan “Peternak Siluman” di Rombongan Bupati Bone, Pemkab Diminta Buka Data
Opini

HIV Semakin Mewabah di Kalangan Remaja, Butuh Solusi Tuntas

17
×

HIV Semakin Mewabah di Kalangan Remaja, Butuh Solusi Tuntas

Sebarkan artikel ini
Jumiati
Jumiati

OPINI—Secara global, jumlah kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada usia remaja sangat besar dan mengkhawatirkan. Data dari UNICEF menyebutkan ada sekitar 145.000 remaja berusia 15 hingga 19 tahun dalam setahun terakhir yang baru terinfeksi HIV. Sementara pada kelompok usia 15–24 tahun terdapat sekitar 370.000 kasus infeksi.

Kasus HIV di Indonesia semakin banyak ditemukan dari tahun ke tahun, seiring makin luasnya cakupan layanan tes HIV di berbagai fasilitas kesehatan. Diperkirakan jumlahnya mencapai 564.000 hingga 570.000, yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu penyumbang kasus HIV di peringkat ke-14 dunia dan ODHIV di peringkat ke-9 untuk infeksi baru.

Menurut Kementerian Kesehatan Indonesia, ada 2.700 remaja usia 15 hingga 19 tahun yang hidup dengan HIV.

Berdasarkan data kumulatif sejak 2021 hingga Juni 2026, Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo mencatat ada 522 orang yang hidup dengan HIV. Mereka adalah para pelajar dari jenjang PAUD hingga SMA.

Sementara di Sulawesi, data Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan mencatat ada 1.431 kasus baru HIV. Kasus tersebut didominasi kelompok usia produktif dan usia muda (15–24 tahun).

Yakni ada 36,4% dari total kasus HIV, artinya ada sekitar 520 orang yang hidup dengan HIV.

Kasus HIV di Sulawesi Barat

Adapun di Sulawesi Barat, Ibu Nurul Iman selaku penanggung jawab program HIV Dinas Kesehatan Sulawesi Barat mencatat sebanyak 168 kasus HIV yang ditemukan akhir tahun 2025.

Ia menjelaskan, dari total temuan tersebut, Kabupaten Polewali Mandar menjadi daerah dengan kasus terbanyak, yakni 67 kasus. Kemudian 42 kasus di Kabupaten Mamuju, 24 kasus baru di Kabupaten Pasangkayu, dan 21 kasus baru di Kabupaten Majene.

Di Kabupaten Mamuju Tengah terdapat sebanyak 8 kasus baru. Sebelumnya, ada 51 orang riil pasien yang hidup dengan HIV. Terakhir, di Kabupaten Mamasa terdapat temuan 6 kasus baru.

Meningkatnya kasus HIV membuat WHO sebagai organisasi kesehatan dunia menawarkan program pencegahan dengan mengutamakan pendekatan Combination Prevention (Pencegahan Kombinasi).

Pendekatan ini menggabungkan intervensi medis (biomedis), yaitu memasifkan pemberian perlindungan kekebalan sebelum dan setelah terjadi kontak dengan virus tersebut, dengan memberikan obat dan suntikan rekomendasi terbaru dari WHO.

Selanjutnya, melakukan intervensi perubahan perilaku melalui penggunaan kondom dan pelumas secara konsisten sebagai pelindung yang efektif, edukasi seksual, serta penggunaan jarum suntik steril bagi pengguna narkoba suntik.

Pembenahan struktural juga diperlukan agar pencegahan berjalan efektif guna menciptakan lingkungan sosial dan hukum yang mendukung penanggulangan HIV.

Caranya, setiap negara dianjurkan menghapus hukum yang mengkriminalisasi mereka yang terinfeksi HIV, sehingga mereka berani mengakses fasilitas kesehatan tanpa rasa takut.

Selain itu, diperlukan interaksi antara layanan pemeriksaan HIV dengan layanan kesehatan primer lainnya, seperti klinik TB, diabetes, hipertensi, dan layanan kesehatan mental.

Merespons program WHO, Indonesia mengambil langkah dengan adanya kebijakan-kebijakan dari berbagai daerah.

Misalnya di Jawa Timur, Wakil Gubernur Emil Eletianto Dardak menyampaikan bahwa pendidikan seksual sejak dini menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah perilaku seksual berisiko yang dapat berujung pada penularan HIV/AIDS.

Menurut Emil, pendidikan seksual masih kerap dianggap tabu. Padahal, edukasi tersebut diperlukan agar anak memahami risiko pergaulan bebas sejak usia dini.

Di Sulawesi Barat, Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat menyampaikan bahwa tingginya penderita HIV di kalangan pemuda dan mahasiswa salah satu penyebabnya yakni adanya tren seks bebas usia dini.

Organisasi Kohati HMI ikut menyoroti tingginya angka HIV di kalangan pemuda karena adanya pergaulan bebas dan kurangnya edukasi kesehatan reproduksi sejak dini.

Juga adanya komunitas homoseksual usia muda (LSL), penularan pada kelompok lelaki seks lelaki (LSL) menjadi pemicu semakin meningkatnya HIV.

Melalui Dinkes Polman, Ibu Enny menyampaikan bahwa semakin banyak penyebaran dari kalangan populasi kunci, seperti waria, LSL, PSK, juga dari populasi ibu hamil dan pelajar.

Adapun solusi yang ditawarkan, “Kami bersama tim terus berupaya melakukan sosialisasi dan edukasi khususnya kepada adik-adik remaja dengan harapan dapat mencegah penularan HIV,” ujarnya.

Penyebab Tingginya Kasus HIV

Tingginya kasus HIV pada remaja sesungguhnya bukan sekadar persoalan medis yang cukup diselesaikan dengan layanan tes dan pengobatan.

Namun, ada beberapa faktor yang menyebabkan fenomena ini semakin tinggi.

Pertama, adanya sistem pergaulan sosial di masyarakat yang rusak. Sistem pergaulan yang bebas bermula dari tertanamnya tatanan nilai-nilai kehidupan sekuler, yang menjadikan nilai kehidupan dan agama dinafikan.

Saat aturan agama tidak lagi dijadikan acuan dalam interaksi perempuan dan laki-laki, maka pergaulan bebas akan menjadi salah satu pintu meningkatnya kasus HIV di kalangan remaja atau anak.

Kedua, cara pandang terhadap problem HIV tersebut yang kental dengan paradigma sekularisme liberal, tidak menyentuh akar persoalan, dan hanya sebatas kuratif saja. Karena itu, solusinya pun tidak fundamental.

Ketiga, menarasikan bahwa meningkatnya temuan kasus HIV tidak bisa secara langsung dimaknai meningkatnya kasus penularan, tetapi justru karena meningkatnya efektivitas deteksi dini kasus yang dilakukan oleh pemerintah dan mitra. Hal ini bentuk gagal paham terhadap problem yang ada.

Keempat, salah dalam membaca masalah dan gagal dalam mendefinisikan akar masalah, maka solusi yang ditawarkan pun jadi problematik dan tidak akan benar-benar solutif.

Pencegahan yang ditawarkan, seperti edukasi seksual dan safe sex, tidak menyentuh akar masalah. Edukasi seksual sekuler sering kali hanya berfokus pada dampak kesehatan medis, seperti pencegahan penyakit menular atau kehamilan tak diinginkan.

Solusi Tuntas terhadap Persoalan Penularan HIV

Maka ketika ingin menuntaskan problem global ini, Islam hadir dengan sudut pandang yang khas, yang memberikan solusi tuntas terhadap persoalan penularan HIV, yakni:

Pertama, Islam memperkenalkan konsep tentang sistem pergaulan sosial yang bersifat preventif (Nizam Al-Ijtima’iy).

Kedua, aturan menjaga pandangan, larangan mendekati zina, memakai pakaian syar’i, serta mengatur pernikahan dan sanksi/uqubat bagi pelaku pelanggaran hukum syara’.

Ketiga, penerapan sistem pendidikan Islam yang mengintegrasikan materi kesehatan reproduksi dengan ilmu fikih pergaulan dan akhlak.

Dengan demikian, pelajar memahami bahwa menjaga kesehatan organ reproduksi adalah bagian dari ibadah dan amanah Ilahi. Mereka juga menyadari bahwa setiap perbuatannya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Keempat, adanya sinergi antara tiga pilar dalam mewujudkan generasi yang selamat dari ancaman HIV/pergaulan bebas, yakni keluarga, lingkungan masyarakat dan sekolah, serta negara. (*)

Wallahu a’lam bishawab.


Penulis:
Jumiati
(Aktivis Dakwah)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Kirim Komentar

📢 Mohon utamakan adab, etika, dan sopan santun dalam berkomentar. Semua komentar akan melewati proses moderasi sebelum diterbitkan.

Konten dilindungi © Mediasulsel.com