OPINI—Salah satu tantangan di era digital saat ini adalah rapuhnya mental dan krisis mental yang melanda generasi muda. Akibatnya, banyak kasus bunuh diri yang semakin masif dilakukan oleh kaum muda. Hilangnya arah dan tujuan hidup membuat mereka dengan mudahnya mengakhiri hidup.
Berita yang baru-baru ini membuat tercengang yakni ditemukannya aksi bunuh diri oleh mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) yang dikenal sebagai sosok pendiam.
RPA ditemukan bunuh diri pada Rabu (16/9/2026) sekitar pukul 03.00 WIB. Mahasiswa semester 5 asal Sidoarjo itu baru dua bulan terakhir tinggal di kost tersebut.
Kasus serupa juga menimpa mahasiswa FK-UB yang diduga mencoba bunuh diri hingga polisi menyelidiki motif kasus tersebut.
Kasus lainnya datang dari mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya yang lompat dari lantai 22. Mirisnya, ditemukan pesan terakhir untuk pacarnya.
Bunuh Diri Marak, Buah Sekularisme
Di balik rentetan kasus bunuh diri mahasiswa, ada persoalan yang perlu kita renungkan. Bagaimana kondisi lingkungan pendidikan dan kesehatan mental anak muda hari ini? Mengapa ketika tersandung masalah sedikit saja, pelariannya adalah mengakhiri hidup?
Beberapa pemberitaan mengenai kasus bunuh diri mahasiswa dalam beberapa pekan terakhir kembali membuka mata kita terhadap persoalan kesehatan mental generasi muda.
Fenomena tersebut seharusnya tidak hanya dilihat sebagai masalah individu, tetapi juga sebagai cermin dari kondisi lingkungan pendidikan, keluarga, serta sistem kehidupan saat ini.
Kita tahu bersama, generasi muda hari ini hidup dalam tekanan yang tidak ringan. Tuntutan akademik begitu berat, persaingan pekerjaan, tekanan ekonomi, ekspektasi keluarga, hingga tuntutan untuk terus terlihat berhasil di media sosial dapat menjadi beban psikologis.
Wajar jika pikiran yang mengalami stres tinggi akan berdampak pada kondisi mental dan fisik.
Di antara penyakit mental yang melanda generasi muda secara internal yakni takut kehilangan dan takut ditinggalkan orang lain, merasa kesepian, selalu merasa kurang dan tidak berharga, mudah overthinking, memendam perasaan, serta merasa lelah tanpa tahu sebabnya.
Bahkan, pikiran terasa penat hingga tak mampu bangkit dari masalah.
Hal tersebut diperparah dengan kondisi sekuler saat ini yang menjauhkan nilai-nilai spiritual agama, sehingga generasi muda sangat rentan terombang-ambing dalam segala kondisi.
Untuk itulah, kita juga perlu kritis terhadap jalannya kehidupan saat ini yang secara tidak langsung membentuk kepribadian generasi muda.
Kehidupan sekuler kapitalisme yang meninggikan pencapaian materi dan paham individualistik dapat membuat seseorang merasa bahwa nilai dirinya hanya ditentukan oleh prestasi dan keberhasilan.
Ketika gagal mencapai standar tersebut, seseorang dapat merasa tertinggal, tidak berharga, bahkan kehilangan harapan.
Kita bisa katakan, bunuh diri merupakan salah satu konsekuensi paling serius dan tragis dari gangguan kesehatan mental. Untuk itulah, perlu rasanya menangani masalah generasi muda saat ini yang sudah sangat akut.
Selamatkan Generasi dengan Islam
Maka dari itu, solusi dari segala macam problematika yang mendera kaum muda saat ini adalah kembali pada aturan agama.
Kembalinya kita kepada Al-Qur’an dan hadis akan menjamin terjaganya kesehatan mental kaum muda saat ini.
Sejarah telah mencatat generasi terdahulu dengan tinta emas akan kehebatan dan kejayaan mereka. Tak akan baik generasi hari ini sebelum mereka mengikuti apa yang telah dilakukan oleh generasi terdahulu.
Olehnya itu, Imam Malik bin Anas mengatakan, “Tidak ada yang dapat memperbaiki generasi akhir umat ini, kecuali apa yang telah memperbaiki generasi awalnya.”
Para generasi muda harusnya menjadikan Islam sebagai tolok ukur perbuatan mereka. Mereka harusnya menjadikan Islam sebagai pengatur hidup mereka.
Sebab, Allah sebagai Sang Pencipta sekaligus Sang Pengatur, maka Allah SWT yang paling tahu apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh ciptaan-Nya.
Jadi, kita tidak akan merasa sendirian dan tidak akan merasa bahwa beban hidup begitu berat. Mereka akan ingat bahwa ada Allah SWT yang akan menolong dan menemani mereka.
Nabi SAW juga mengingatkan kaum Muslim untuk menjaga masa muda mereka sebaik-baiknya:
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu…” (HR al-Baihaqi).
Dengan pesan Nabi SAW yang agung tersebut, kaum muda tidak akan menyia-nyiakan waktu mereka kepada hal-hal yang bersifat hedonis dan bersenang-senang semata.
Apalagi sampai merusak masa depan mereka seperti mengakhiri hidup.
Kaum muda yang cerdas adalah para pemuda yang menghabiskan waktu mereka pada hal-hal yang bermanfaat, seperti mengkaji Islam dan berdakwah di jalan Allah.
Mereka menyadari bahwa waktu adalah amanah dan sebuah tanggung jawab besar yang akan ditanyai penggunaannya di akhirat kelak.
Orientasi seperti ini akan menyadarkan kaum muda bahwa hidup mereka begitu berharga. Mereka tidak akan membiarkan perbuatan yang merusak mental dan masa depan mereka masuk dalam diri mereka.
Mereka akan menjauhi tempat maksiat dan mengharamkan diri mereka dari perbuatan-perbuatan bebas yang justru menjerumuskan mereka dalam dosa.
Dengan hal tersebut, insyaallah generasi muda akan terjamin dan terjaga hidupnya.
Penerapan Islam secara kaffah akan menjadikan generasi muda sebagai generasi gemilang yang berkontribusi bagi penyebaran Islam di seluruh alam ini.
Wallahualam bissawab.
Penulis:
Rima Septiani, S.Pd., Gr
(Pemerhati Sosial)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.













