MAKASSAR — Target Indonesia mencapai FoLU Net Sink 2030 menempatkan penyuluh kehutanan di garis depan. Mereka tidak hanya dituntut mendampingi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian penting dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang dapat menggerus capaian penyerapan karbon.
Pesan tersebut mengemuka dalam Temu Teknis Penyuluh Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan yang digelar Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Kementerian Kehutanan di Makassar, Kamis (24/9/2026).
Mengusung tema “Peran Penyuluh Kehutanan dalam Mitigasi Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan dalam Mendukung Pencapaian Target FoLU Net Sink 2030 RBC 2 & 3”, kegiatan ini menjadi forum untuk menyamakan langkah sekaligus memperkuat kapasitas penyuluh kehutanan di tingkat tapak.
Kepala BP2SDM Kementerian Kehutanan Drh. Indra Exploitasia, M.Si., menegaskan, target FoLU Net Sink 2030 tidak mungkin dicapai tanpa keterlibatan aktif penyuluh. Program tersebut merupakan komitmen Indonesia agar pada 2030 sektor kehutanan dan penggunaan lahan (Forest and Other Land Use/FoLU) mampu menyerap karbon lebih besar dibandingkan emisinya.
“Penyuluh adalah ujung tombak. Mitigasi kebakaran hutan dan lahan adalah kunci. Satu kejadian Karhutla bisa menghapus capaian serapan karbon kita,” ujarnya.
Karena itu, penyuluh didorong tidak sekadar berperan sebagai penyampai informasi. Mereka juga harus menjadi edukator, motivator sekaligus sistem peringatan dini (early warning system) di tingkat tapak.
Temu teknis tersebut secara khusus membahas Rencana Aksi (RBC) 2 dan RBC 3, masing-masing terkait pengelolaan hutan lestari serta pengurangan deforestasi dan degradasi hutan.
Para peserta mendapatkan pembekalan mulai dari deteksi dini Karhutla, strategi penyadartahuan masyarakat, pembuatan sekat bakar berbasis masyarakat, hingga pelaporan dan pemanfaatan aplikasi pemantauan hotspot.
Salah seorang penyuluh kehutanan dari Kabupaten Luwu menilai materi yang diberikan relevan dengan kondisi Sulsel yang menghadapi kerentanan Karhutla pada musim kemarau. Pendekatan kepada masyarakat, kata dia, juga perlu diarahkan pada solusi ekonomi.
“Pendekatan ke masyarakat tidak hanya dengan larangan, tetapi dengan solusi ekonomi. Masyarakat diajak menjaga hutan karena ada manfaatnya,” katanya.
Temu teknis yang didukung Indonesia’s FoLU Net Sink 2030 dan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) ini diharapkan menyatukan persepsi dan langkah para penyuluh di 24 kabupaten/kota se-Sulsel, sekaligus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi Karhutla demi mendukung target FoLU Net Sink 2030. (70n)













