JAKARTA — Ada sisi lain dari perjalanan Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto yang kini menjadi orang nomor satu di Korps Bhayangkara.
Jauh sebelum mengenakan seragam jenderal dan menduduki kursi Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri), Suyudi ternyata pernah menjadi salah satu peserta ajang Cover Boy Majalah Mode pada 1988.
Fakta unik tersebut terungkap dari arsip Majalah Mode No. 11 edisi 30 Mei 1988 yang diunggah akun Instagram kolektor majalah lawas @koleksigoeni pada 11 Oktober 2024.
Dalam arsip tersebut, nama Suyudi tercatat sebagai peserta nomor 22. Saat itu, ia masih berstatus pelajar SMPN 70 Jakarta dan berusia 16 tahun, dengan tinggi badan 171 sentimeter serta berat 52 kilogram.
Foto hitam-putih Suyudi saat remaja juga terpampang dalam halaman majalah tersebut. Ia tampil berdampingan dengan aktor laga Candy Satrio, yang tercatat sebagai peserta nomor 21.
Candy Satrio kemudian mengonfirmasi bahwa keduanya merupakan satu angkatan dalam ajang Cover Boy 1988. Melalui akun Instagram pribadinya, Candy menulis, “Satu angkatan. 35 tahun yang lalu. Selamat pak jenderal.”
Ajang Cover Boy Majalah Mode 1988 kala itu disebut diikuti 8.345 pendaftar. Suyudi menjadi salah satu dari 60 semifinalis yang fotonya dimuat dalam majalah.
Namun, perjalanan Suyudi kemudian bergerak jauh dari dunia modeling dan hiburan. Ia memilih jalur kepolisian hingga menempuh pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol) dan lulus sebagai bagian dari angkatan 1994.
Kariernya di Korps Bhayangkara terus menanjak. Sebelum dipercaya menjadi Kapolri, Suyudi pernah menjabat sebagai Wakapolda Metro Jaya pada 2023–2024, Kapolda Banten pada 2024–2025, hingga Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) pada Agustus 2025–Oktober 2026.
Pada Rabu (1/10/2026), Suyudi resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Kapolri ke-26. Ia menggantikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang kemudian dipercaya menduduki jabatan Kepala Staf Kepresidenan (KSP).
Perjalanan Suyudi dari seorang pelajar yang mengikuti ajang Cover Boy pada 1988 hingga menjadi pucuk pimpinan Polri lebih dari tiga dekade kemudian menjadi bagian unik dari perjalanan hidupnya.
Dari halaman majalah remaja ke pucuk pimpinan Korps Bhayangkara, perjalanan itu menunjukkan sisi berbeda dari sosok yang kini memimpin institusi kepolisian Indonesia. (70n)













