JAKARTA—PT Bank DBS Indonesia mempercepat kesiapan karyawan menghadapi perubahan dunia kerja akibat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) melalui perangkat pengembangan karier berbasis AI, iGrow dan iCoach.
Sejak diluncurkan, hampir 80 persen karyawan DBS Indonesia telah bergabung di iGrow untuk menjajaki pilihan karier dan mengidentifikasi kesenjangan kompetensi. Platform ini juga membantu karyawan menemukan peluang pengembangan yang relevan.
Sementara itu, iCoach menyediakan coaching personal sesuai kebutuhan karyawan. Perangkat ini dirancang untuk mendukung pemetaan serta perencanaan karier secara berkelanjutan.
Komitmen ini juga diwujudkan melalui Live Fulfilled Festival yang diselenggarakan beberapa waktu lalu. Karyawan menjajal perangkat AI praktis serta mengikuti dukungan pengembangan keterampilan, karier, dan kesejahteraan melalui pengalaman interaktif 5E: Excite, Enable, Educate, Empower, dan Embed.
Untuk menyiapkan talenta muda, Bank DBS Indonesia juga memiliki 10 peserta Management Associate pada program tahun ini.
Director of Human Resources PT Bank DBS Indonesia, Aries NP Sunu, mengatakan transformasi AI di Indonesia bukan sekadar perubahan teknologi. Menurutnya, hal ini merupakan perubahan mindset dalam cara bekerja dan menciptakan nilai.
Prioritas perusahaan adalah memastikan karyawan tidak hanya mampu beradaptasi. Karyawan juga dibekali keterampilan, kepercayaan diri, dan perangkat yang tepat untuk berkembang bersama teknologi.
“Melalui iGrow, iCoach, serta pengalaman belajar praktis seperti Live Fulfilled Festival, kami mengarahkan karyawan mengintegrasikan AI ke dalam pekerjaan sehari-hari,” kata Aries dalam keterangan tertulis, Kamis (5/11/2026).
“Sehingga mereka mampu mengurangi aktivitas yang bersifat repetitif, meningkatkan produktivitas, dan memberikan lebih banyak ruang untuk fokus pada pekerjaan yang membutuhkan kreativitas, kolaborasi, dan penilaian manusia,” lanjutnya.
Perubahan dunia kerja di era AI dinilai sebagai momentum mendefinisikan kembali keterampilan yang dibutuhkan manusia dan organisasi.
The Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum (WEF) memproyeksikan 170 juta pekerjaan baru akan tercipta dan 92 juta pekerjaan terdampak hingga 2030. Kondisi ini menghasilkan peningkatan bersih 78 juta pekerjaan.
Meski begitu, peluang tersebut tidak hadir secara otomatis. WEF mencatat hampir 40 persen keterampilan yang dibutuhkan dalam pekerjaan diperkirakan akan berubah.
Hal ini menjadikan upskilling, reskilling, dan mobilitas talenta semakin utama bagi kesiapan tenaga kerja.
Tantangan dunia usaha bukan sekadar memastikan karyawan mampu menggunakan teknologi baru. Perusahaan perlu membangun budaya yang memungkinkan karyawan terus belajar, beradaptasi, dan mengambil kepemilikan atas perkembangan kariernya.
Di Indonesia, Kementerian Ketenagakerjaan mengajak berbagai pihak memperkuat program upskilling dan reskilling di tengah disrupsi AI dan robotik dengan prinsip no one left behind.
Prinsip ini menegaskan pentingnya memastikan transformasi teknologi berjalan secara inklusif. Akses terhadap pengembangan keterampilan dan peluang kerja juga perlu dibuka lebih luas.
Perusahaan perlu bergeser dari pendekatan pelatihan yang bersifat reaktif menuju ekosistem pengembangan karier yang lebih proaktif. Misalnya dengan memberikan karyawan akses terhadap career guidance, pemetaan keterampilan, serta peluang mengeksplorasi jalur karier baru.
Bagi Bank DBS Indonesia, pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun tenaga kerja yang future–ready. Langkah ini sekaligus memastikan transformasi teknologi berjalan beriringan dengan pengembangan manusia.
Sejalan dengan upaya di Indonesia, DBS di tingkat Grup meluncurkan Layanan Penasihat Karier (Career Advisory Service) untuk memberikan pendampingan karier yang dipandu oleh manusia.
Layanan ini memadukan iGrow dan iCoach dengan pendampingan personal dari lebih dari 100 Career Advisor internal. Pada tahap awal, layanan ini mendukung karyawan di sejumah pasar utama DBS dalam mengenali kekuatan diri, menjajaki peluang, dan menerjemahkan aspirasi menjadi rencana karier.
Belum lama ini, DBS juga menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Institute of Banking and Finance Singapore (IBF). Kerja sama ini bertujuan meningkatkan (uplift), mengembangkan keterampilan (upskill), dan membangun (upbuild) tenaga kerja sektor jasa keuangan menghadapi era AI.
Kerja sama tersebut mencakup tiga bidang. Pertama, Uplift, membekali karyawan dengan kompetensi dasar AI melalui program yang diakui IBF. Program ini meliputi tata kelola AI, AI yang bertanggung jawab, prompt engineering, hingga penerapan AI secara praktis.
DBS membawa pengalaman membekali seluruh 40.000 karyawannya secara global dengan keterampilan dasar AI. Jumlah tersebut mencakup 14.800 karyawan di Singapura.
Kedua, Upskill, menguji dan merancang intervensi tenaga kerja agar karyawan beradaptasi dengan peran yang berubah akibat AI. Caranya memanfaatkan Job Redesign and Reskilling Career Conversion Programme milik IBF.
DBS juga memanfaatkan pengalamannya dalam meningkatkan keterampilan lebih dari 11.000 karyawan pada peran yang berubah signifikan akibat AI.
Ketiga, Upbuild, memperkuat jalur talenta muda sektor keuangan, termasuk melalui Young Talent Programme for AI in Finance milik IBF. DBS menjadi mitra perintis dalam program ini.
Di Singapura, DBS berkomitmen menerima lebih dari 500 talenta muda lokal pada 2026. Penerimaan dilakukan melalui program Management Associate, magang, dan traineeship.
Head of Group Human Resources DBS, Lee Yan Hong, menyampaikan AI sebagai penguat kemampuan kognitif yang mengotomatisasi tugas-tugas repetitif dan administratif. AI juga merangkum data dalam jumlah besar dengan cepat.
“Dengan mengurangi pekerjaan yang menyita tenaga, AI memberi orang lebih banyak waktu untuk menerapkan keterampilan tingkat tinggi seperti berpikir kritis, pemecahan masalah, dan membangun hubungan,” ujar Lee Yan Hong.
“Ke depan, kami terus memperkuat komitmen dalam menjadi bank berbasis AI yang berhati, dengan tetap menempatkan manusia di posisi terdepan seiring berkembangnya dunia kerja,” tambahnya.
Bank DBS Indonesia mengusung filosofi yang menempatkan manusia sebagai fokus utama di tengah perubahan pekerjaan dan teknologi. Kemitraan dengan IBF menjadi salah satu upaya membangun kapabilitas kesiapan menghadapi masa depan (future–ready).
Langkah ini membekali talenta dengan keterampilan dan kepercayaan diri untuk berkembang bersama AI, sekaligus memperkuat pengembangan talenta muda di sektor keuangan.
Pemanfaatan AI di sektor perbankan oleh DBS diakui melalui penghargaan World’s Best AI Bank 2025 dalam ajang AI in Finance Awards 2025 yang diselenggarakan oleh Global Finance.
DBS juga dinobatkan sebagai World’s Best Bank for AI in Finance – Corporate untuk kedua kalinya secara berturut-turut. Selain itu, DBS meraih penghargaan global Best AI in Fraud Detection/Prevention – Corporate/Institutional AI Bank. (*)





