OPINI—Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah. Peribahasa ini sangat tepat menggambarkan kondisi keluarga Indonesia saat ini. Maraknya kasus anak menggugat orangtuanya sendiri, membuat banyak orang mengelus dada. Betapa miris, orang tua yang sudah berpayah-payah mengandung, mendidik, dan membesarkan anaknya, berbalas dengan air tuba.

Ramai pemberitaan tentang Bapak Koswara yang digugat anak kandungnya, Deden. Lebih tragisnya lagi, Deden dibantu oleh salah satu adiknya, Masitoh yang bertindak sebagai pengacara. Namun sayang, sebelum disidangkan, Masitoh meninggal dunia pada 18 Januari lalu akibat serangan jantung. Bapak Koswara sendiri ketika ditanya tentang perlakuan Masitoh, mengaku sudah memaafkan anaknya. Masya Allah, begitu tulusnya hati seorang Ayah.

Fenomena anak memperkarakan orang tua di depan hukum, bukan pertama terjadi. Kali ini, seorang Bapak berusia 85 tahun di Bandung, digugat Rp3 miliar oleh anak kandungnya sendiri. Bagaimana mungkin anak yang notabene darah daging sendiri, bisa berbuat sedemikian tega? Sebelumnya juga terjadi di Demak, seorang ibu S (36) dilaporkan ke polisi oleh anak perempuannya A (19). Masih banyak kasus serupa lainnya.

Kriminolog Undip, Nur Rochaeti menilai ada beberapa hal yang patut menjadi bahan pertimbangan bagi aparat penegak hukum dalam penerapan hukum, terutama dalam kasus di antara keluarga.

“Keadilan merupakan nilai yang sangat subyektif, tetapi bukan sekadar kerugian yang diakibatkan atau ditimbulkan dalam kasus tersebut. Ada kaitan moral dan etika ketika kasus yang terjadi adalah hubungan orang tua dengan anak” (Kompas.com, 27/1/2021).

Maraknya kerusakan dalam tatanan keluarga Indonesia memang sangat mengkhawatirkan. Kasus-kasus di atas, hanyalah sebagian kecil yang terungkap di permukaan. Bagaikan fenomena gunung es. Ragamnya pun fantastis. Misal tentang kasus inses yang sangat mengejutkan sekaligus menjijikkan khalayak, pembunuhan sesama anggota keluarga, gugat ceria, dan kini ramai kasus anak menggugat orangtuanya sendiri.

Tentu kesemua fakta ini, saling terkait antara satu dengan yang lainnya.  Sulitnya kondisi ekonomi rakyat secara jamak, berimbas pada hampir semua lini kehidupan. Gaya hidup hedonis dan liberalisme, sukses merusak akhlak generasi. Pun, sistem pendidikan sekuler, menciptakan generasi krisis akhlak. Paling urgen adalah minimnya pondasi keimanan yang dibangun dari institusi keluarga plus support sistem oleh masyarakat dan negara.

Generasi Amoral

Rusaknya tatanan keluarga hari ini adalah akumulasi dari penerapan sistem sekuler kapitalis. Materi yang seolah menjadi satu-satunya tujuan hidup dan menjadi standar kebahagiaan, menegasikan hati nurani hubungan anak dan orang tua. Hubungan sakral dan penuh kasih sayang yang seharusnya terjalin indah, kini tergilas oleh kehidupan materialistis.

Kompleksnya problem hidup, dapat memicu seseorang bisa kehilangan akal sehatnya. Harta seringkali menjadi pemicu pertikaian dalam sebuah keluarga. Hal tersebut sangat mungkin terjadi, sebab standar kebahagian dalam sistem kapitalis adalah materi. Relasi yang harusnya terjalin dengan harmonis, sulit didapatkan dalam sistem hari ini.

Patutlah jika semakin banyak kasus yang terjadi dalam keluarga, termasuk anak menggugat orangtuanya. Akhirnya krisis moral menimpa generasi dalam sistem buatan manusia, yang memang sangat lemah dan terbatas.

Dibutuhkan Peran Negara

Islam hadir mengatur semua urusan manusia dengan pengaturan yang sangat detil dan memuaskan akal serta menenteramkan jiwa. Orang tua memiliki kedudukan istimewa dan mulia. Aturan terkait hal tersebut pun banyak dijelaskan dalam kalam Ilahi.

Sebagaimana dalam QS. Al-Israa: 23 yang artinya:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

Keluarga sebagai institusi terkecil sebuah negara, merupakan salah satu pilar pembangun peradaban. Jika individu-individu berakhlak mulia, maka akan tercipta sebuah peradaban yang agung. Namun, diperlukan sinergitas antara individu, masyarakat, dan terlebih negara sebagai pelaksana hukum syariah.

Peran negara dalam menjalankan fungsinya sebagai pelindung dan pemelihara seluruh urusan rakyat, sangat urgen. Pemimpin dalam Islam, melaksanakan seluruh kewajibannya dengan amanah. Baik terkait kebutuhan dasar (pangan, sandang dan papan), maupun kebutuhan publik (pendidikan, kesehatan, dan keamanan). Kesemua kebutuhan tersebut semaksimal mungkin dipenuhi negara secara murah bahkan gratis.

Rakyat pun menjalankan kewajiban-kewajibannya dengan ikhlas. Negara men-support untuk menunaikan kewajiban-kewajiban yang sudah dibebankan syariat. Dengan instrumen sedemikian sempurna, akan tercipta ketakwaan individu dan kesejahteraan untuk semua. Sehingga celah kemaksiatan akan sangat minim terjadi, termasuk berbagai problem dalam keluarga.

Amalan terbaik salah satunya adalah berbakti pada kedua orangtua. Namun, dibutuhkan peran negara agar terwujud kehidupan yang harmonis dalam keluarga. Penerapan seluruh aturan yang bersumber dari Sang Khalik, meniscayakan terwujudnya keluarga dambaan semua orang. Sebaliknya, mencampakkan aturan Ilahi akan membuat kehidupan menjadi sengsara, baik di dunia terlebih di akhirat kelak. Naudzubillah!
Wallahu’alam bis Showab. (*)

Penulis: Dr. Suryani Syahrir (Dosen dan Pemerhati Generasi)