Arus Gender Dibalik Peringatan Hari Keluarga
Arus Gender Dibalik Peringatan Hari Keluarga - Indah Sari (Mahasiswi, Makassar)

Harta yang paling berharga adalah keluarga, Istana yang paling indah adalah keluarga, Puisi yang paling bermakna adalah keluarga, Mutiara tiada tara adalah keluarga

OPINI – Lirik lagu legendaris “Harta Berharga” sarat makna menjadi soundtrack sinetron Keluarga Cemara. Sinetron yang menggambarkan keluarga adalah harta yang paling berharga. Keluarga merupakan institusi terkecil di masyarakat yang mampu melahirkan generasi penerus didalam kehidupan.

Majelis Umum PBB pun pada tahun 1993 memproklamasikan Hari Keluarga Internasional pada 15 Mei lewat resolusi A/RES/47/237 (Sripoku.com).

Mempromosikan kesadaran pentingnya peran keluarga. Meningkatkan pengetahuan terhadap proses sosial, ekonomi, dan demografi terhadap keluarga.

Hari Keluarga Nasional (Harganas) di Indonesia diperingati tanggal 29 Juni. Mengambil lokasi di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Secara nasional digelar pada awal Juli 2019. Dengan tema “Hari Keluarga, Hari Kita Semua”. Slogan “Cinta Keluarga, Cinta Terencana”.

Tujuannya meningkatkan kesadaran dan peran serta masyarakat terhadap pentingnya keluarga kecil, bahagia dan sejahtera dalam kerangka ketahanan keluarga (fajar.co.id/05-02-2019)

Perempuan Dalam KTT G20

Dilansir dari REPUBLIKA.CO.ID, Presiden Joko Widodo mengangkat isu pendidikan dan pemberdayaan perempuan saat berbicara pada Sesi III KTT G20 Osaka dengan tema Addressing Inequalities and Realizing an Inclusive and Sustainable World.

Diperlukan inovasi dalam dunia pendidikan mengikuti perkembangan digital yang kian masif. Lanjutnya “Kita semua paham bahwa akses pendidikan dan pemberdayaan perempuan merupakan elemen penting untuk mencapai target Sustainable Development Goals. Dan itu memerlukan kerja sama kita semua,” kata Presiden di depan para pemimpin negara anggota G20 di Osaka Jepang, Sabtu (29/6).

Namun ternyata ditengah meriah dan persiapan peringatan Hari Keluarga Nasional maupun Internasional ternyata ada sesuatu yang patut kita waspada, yaitu agenda liberalisasi.

Agenda Liberalisasi

Di lansir unwomen.org, ada agenda komprehensif untuk undang-undang. Kebijakan ekonomi dan sosial. Tindakan publik untuk memastikan kesetaraan gender keluarga dan untuk mempercepat hak-hak dan pemberdayaan perempuan yang menguntungkan.

Ide kesetaraan gender, termsuk pemberdayaan perempuan jelas merusak bangunan keluarga muslim. Ide ini muncul dengan dalih kondisi perempuan yang selalu mengalami kekerasan dalam rumah tangga dan penurunan pendapatan.

Dalam hukum Internasional, perlindungan keluarga terkait erat dengan prinsip kesetaraan dan non-diskriminasi. Semua anggota keluarga harus menikmati kebebasan dan hak yang sama tanpa memandang jenis kelamin atau usia.

Dengan dalih peduli terhadap nasib perempuan “kemajuan perempuan barat” dengan ide kesetraan gender-nya yang rusak dan asumtif itu dijadikan standar ideal bagi kemajuan perempuan muslim.

Islam Satu-satunya Solusi bagi Ketahanan Keluarga

Ide-ide kesetaraan gender secara empiris telah merapuhkan bahkan meruntuhkan bangunan keluarga. Merusak perempuan dan generasi.

Gelombang disrupsi hebat mengguncang bangunan keluarga di negara-negara industri sekular. Semakin dirasakan gejalanya oleh negeri-negeri Muslim.

Sebuah keniscayaan bagi umat Islam untuk kembali pada ajaran agamanya dan terus mengkampanyekan visi politik islam. Melestarikan keturunan manusia dan memelihara keluhuran peradaban islam.

Optimasi perempuan sebagai penjaga peradaban dan pendidik generasi masa depan. Dalam Muqaddimah Dustuur bab Nizhaam al-Ijtima’i dinyatakan:

Hukum asal seorang wanita dalam Islam adalah ibu bagi anak-anak dan pengelola rumah suaminya. Ia adalah kehormatan yang wajib dijaga”.

Islam menempatkan laki-laki (suami) dan perempuan (istri) memiliki hak dan kewajiban yang sama. Allah SWT berfirman:

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS An-Nisa : 34). Wallahu ‘Allam. [*]

Penulis: Indah Sari (Mahasiswi, Makassar)