Bimbel Online Tidak Menjawab Pemerataan Pendidikan
KIPIN (kios pintar) ATM

OPINI – Saat ini bimbingan belajar atau bimbel online meledak bagaikan jamur, banyak sekali merek dan iklan-iklan yang keluar di TV dan internet setiap hari mengatakan masing-masing terbaik dibandingkan dengan yang lain.

Karena bimbel online adalah bisnis yang sangat menguntungkan, jadi pemain teknologi pendidikan berbondong bondong untuk membuat bimbel online dan iklan besar-besaran untuk membujuk hati orang tua bahwa anaknya memerlukan bimbingan belajar tambahan.

Bahkan ada bimbel online yang terus mengatakan bahwa pendidikan Indonesia tertinggal seratus tahun dibandingkan negara lain, tentu dengan tujuan bila orang tua percaya bahwa sekolah dan guru di Indonesia buruk, maka bisnis bimbel akan makin terus meledak menguntungkan.

Mungkin pendidikan di Indonesia belum sempurna, namun mengatakan bahwa pendidikan Indonesia tertinggal seratus tahun mungkin sangat berlebihan karena kenyataan Indonesia memiliki departemen pendidikan yang bekerja keras dan dengan dedikasi budget yang cukup besar.

Bimbel online itu bukan untuk semua siswa, hanya untuk yang mampu membayar dan siswa yang kurang pandai.

Meskipun bimbel memiliki tujuan untuk memberikan bimbingan belajar tambahan kepada siswa diluar sekolah, namun bimbel online berbayar.

Jadi orang tua kena dua kali beban biaya sekaligus, pertama biaya sekolah SPP dan kedua jauh lebih mahal adalah biaya les bimbel online itu sendiri sekitar Rp500rb s/d Rp10 juta per tahun tergantung paket-paket yang diambil.

Sesuai namanya bimbel “online” artinya pemakai harus memiliki internet kuota berbayar, bila tidak, tidak jalan. Jadi biaya internet adalah tambahan. Sekarang ini model ini hanya praktis di kota besar, namun di pinggir kota atau luar kota, online masih memiliki banyak masalah.

Jadi bimbel online bukan untuk semua siswa, karena tergantung dari kemampuan ekonomis dari orang tua siswa karena secara keseluruhan bimbel online cukup mahal dan menjadi biaya tambahan untuk masyarakat. Artinya bimbel online hanya untuk yang mampu bayar dan membutuhkan tambahan pelajaran.

Apa bedanya KIPIN ATM?

Kipin ATM adalah alat dan media pembelajaran yang dipasang di sekolah-sekolah untuk melengkapi sarana belajar siswa secara gratis.

Kipin memiliki konten berbasis kurikulum lengkap (2500+ buku, 1500+ video bimbel, 25000+ tryout dan 250+ literasi komik pendidikan) serta dengan teknologi eduSPOT yang memungkinkan setiap siswa untuk men-download data berupa buku pelajaran sekolah, video pembelajaran kelas, latihan soal tryout dan komik literasi secara super cepat, gratis dan tidak memerlukan kuota internet sama sekali.

Fitur “Download and go” yang tersedia sangat praktis karena memungkinkan konten bisa dibawa pulang oleh siswa sebagai bimbel offline (tidak memerlukan internet), dan video bisa ditonton berulang-ulang oleh siswa dirumah tanpa ada biaya.

Fitur eksklusif lain yang sangat populer dan diminati siswa namun hanya tersedia di Kipin adalah ratusan “literasi komik pendidikan” atas budi pekerti, moral dan kesehatan. Ini tidak tersedia di bimbel online manapun.

Kipin ATM membantu program pemerintah untuk mencari jalan pemerataan pendidikan bagi seluruh daerah di Indonesia, Kipin ATM memungkinkan dipasang dimana saja diseluruh lokasi di Indonesia, membutuhkan area yg kecil, tak perlu operator, tak perlu maintenance & tak membutuhkan jalur internet.

Dimana ada sebuah Kipin ATM berada, setiap siswa di sekitarnya otomatis bisa memperoleh materi pelajaran yang sangat lengkap, mudah, menarik dan gratis…sehingga daerah-daerah yang jauh dari perkotaan mendapat pemerataan pendidikan yang sama.

Sehingga dimungkinkan kedepan akan banyak anak-anak yang pandai dari daerah yang tidak kalah dengan anak yang tinggal di kota, sebab anak-anak tersebut sudah bisa memperoleh materi pendidikan yang lengkap dari sebuah Kipin ATM.

Pemerataan Pendidikan bisa tercapai dengan model Kipin ATM karena tersedia di sarana sekolah, dan semua konten pendidikan dapat di download siswa dengan gratis dan tanpa memerlukan internet.

Sebaliknya bimbel online, masih terbatas internet yang cepat dan mahal. Untuk negara Indonesia dengan 17,000 pulau, pemerataan pendidikan tidak mungkin terjadi dengan online dan berbayar, karena demografi masyarakat dan daya beli yang masih berbeda. (kipin.id)