Butuh Aturan Paripurna
Islam adalah sebuah sistem. Secara empiris dan historis terbukti mampu menyejahterakan dua per tiga belahan dunia selama kurun waktu 13 abad. Sebuah rentang sejarah yang sangat lama. Pencapaian sistem Islam yang luar biasa dan tak terbantahkan. Sistem yang aturannya berasal dari Dzat Yang Mahakuasa, meniscayakan keberkahan hidup dapat diraih.
Terkait depresi dan penyakit mental lainnya, Islam punya solusi paripurna. Sinergi antara individu, masyarakat, dan negara berjalan seirama. Mulai dari keluarga (skala terkecil) hingga negara semua memiliki tanggung jawab masing-masing. Uniknya adalah memiliki panduan yang sama yakni syariat yang berasal dari pencipta manusia dan seluruh isi jagat raya.
Dimulai dari keluarga. Masing-masing anggota keluarga memiliki hak dan kewajiban sesuai dengan apa yang telah disyariatkan oleh-Nya. Ayah sebagai kepala keluarga wajib memberi nafkah kepada istri dan anak. Selain penafkahan, secara umum ayah sebagai pemimpin (qowwam) yang akan menggiring seluruh anggota keluarga dalam rangka menaati seluruh perintah Allah dan Rasul-Nya.
Misal, mendidik anak dan istri dalam hal penanaman akidah yang benar dan kokoh. Dari akidah yang sahih akan tergambar dengan jelas ke mana arah kehidupan ini akan dibawa. Jadi, bervisi akhirat. Tidak silau dan terlena dengan kemegahan dunia yang semu.
Selanjutnya masyarakat sebagai pengontrol. Amar makruf nahi mungkar berjalan di tengah-tengah masyarakat, sehingga saling menjaga antar sesama manusia. Kemaksiatan akan sangat minim terjadi. Interaksi yang terjalin karena mengharap rida Ilahi. Saling menasihati di kala futur dan khilaf. Saling menguatkan di jalan takwa.
Paling urgen adalah peran negara _dalam hal ini diwakili oleh imam (khalifah)_ sebagai junnah (perisai) dan periayah (pengatur) urusan rakyat. Negara berkewajiban memenuhi kebutuhan pokok individu, yakni pangan, sandang, dan papan. Juga kebutuhan pokok publik, yaitu pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Jaminan kebutuhan pokok tersebut diperuntukkan bagi semua rakyat tanpa diskriminasi, person to person.
Sebagaimana dalam sebuah hadis: Sesungguhnya seorang imam itu (laksana) perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/adzab karenanya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Adapun instrumen dalam rangka pemenuhan seluruh kebutuhan pokok tersebut adalah dengan memaksimalkan seluruh potensi sumber daya alam. Dikelola secara independen dan mandiri. Dimana seluruh pendapatan negara dari kepemilikan umum dan negara disimpan dalam Baitulmal.
Mekanisme pengeluarannya pun diatur dengan sangat detail dalam rangka kemaslahatan umat manusia. Menutup celah terjadinya kecurangan, karena sanksi bagi pelaku yang melanggar syariat pun sangat tegas.
Beginilah model tata kelola _secara global_ dalam sistem Islam, menafikan terjangkitinya rakyat dengan berbagai macam jenis penyakit, termasuk depresi. Oleh karenanya sangat mendesak untuk segera menerapkan sistem yang memberi solusi paripurna, yakni solusi yang menjaga kewarasan seluruh rakyat. Agar tidak ditemui lagi pasien-pasien yang menjadi korban sistem sakit.
Wallahualam bis Showab.
Penulis: Dr. Suryani Syahrir, ST, MT (Dosen Teknik Sipil dan Pemerhati Sosial)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.












