TORAJA UTARA—Keresahan terhadap maraknya praktik judi, penyalahgunaan narkoba, hingga pergaulan bebas mendorong lintas agama di Toraja bergerak bersama. Forum Kerukunan Umat Beragama Toraja Utara dan Tana Toraja menggelar Doa Bersama Sang Torayaan di Lapangan Bakti, Rantepao, Sabtu (26/4/2026), sebagai seruan moral untuk menyelamatkan adat sekaligus melindungi masa depan generasi muda.
Kegiatan yang diprakarsai FKUB dua kabupaten itu menjadi respons atas meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap praktik-praktik sosial yang dinilai mulai menggerus nilai budaya dan spiritual di Toraja. Doa bersama lintas agama ini menghadirkan tokoh Islam, Katolik, serta berbagai denominasi gereja dalam satu ruang kebersamaan, menegaskan pesan persatuan di tengah tantangan sosial yang kian kompleks.
Ketua FKUB Toraja Utara, Musa Salusu, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari kegelisahan masyarakat yang melihat praktik judi mulai menyusup dalam sejumlah pelaksanaan adat. Kondisi itu, menurutnya, berpotensi memicu persoalan lain seperti penyalahgunaan narkoba hingga pergaulan bebas.

“Kegiatan ini lahir dari keresahan masyarakat terhadap maraknya praktik judi yang kemudian berdampak pada penyalahgunaan narkoba dan pergaulan bebas,” ujarnya.
Ia menilai, adat yang selama ini menjadi identitas dan kebanggaan masyarakat Toraja harus dijaga dari praktik-praktik yang merusak nilai luhur budaya. Karena itu, doa bersama tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan spiritual, tetapi juga sebagai bentuk pernyataan sikap lintas agama dalam menjaga moral masyarakat.
Melalui momentum tersebut, FKUB juga mendorong pemerintah daerah mengambil langkah konkret. DPRD, bupati, dan unsur Forkopimda diminta segera menghadirkan regulasi daerah yang mampu melindungi pelaksanaan adat dari penyimpangan yang berpotensi merusak generasi.
“Kami berharap DPRD, Bupati, serta unsur Forkopimda dapat segera menghadirkan peraturan daerah agar pelaksanaan adat tetap terjaga dan tidak disisipi praktik-praktik yang merusak,” tegasnya.
Doa Bersama Sang Torayaan juga menjadi penegasan bahwa menjaga kerukunan tidak hanya soal hubungan antarumat beragama, tetapi juga tentang menjaga lingkungan sosial yang sehat bagi generasi muda. Sinergi antara tokoh agama, masyarakat, dan pemerintah dinilai menjadi kunci menghadapi ancaman sosial yang semakin nyata.
Dalam suasana khusyuk, doa dipanjatkan untuk kesejahteraan masyarakat Toraja serta perlindungan bagi generasi muda agar tetap tumbuh dalam nilai iman, tanggung jawab sosial, dan budaya yang kuat.
Momentum ini diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni, melainkan menjadi titik awal lahirnya komitmen bersama menjaga Toraja tetap rukun, berbudaya, dan bebas dari ancaman yang merusak masa depan. (4nny)










