OPINI—Pandemi membawa dampak cukup besar terhadap perekonomian Sulawesi Selatan. Hal ini bisa dilihat dari merosotnya pertumbuhan ekonomi pada tahun 2020 yang sebesar -0,71 persen.
Kondisi sedikit membaik di tahun 2021 dengan capaian senilai 4,65 persen, namun masih di bawah kapasitas ekonomi Sulawesi Selatan di kondisi normal 2019 yang mampu tumbuh 6,91 persen.
Di balik kondisi perkonomian yang belum pulih sepenuhnya terungkap fakta cukup menarik dari ekspor luar negeri melalui pelabuhan di Sulawesi Selatan.
Rilis ekspor impor yang dilakukan setiap awal bulan oleh BPS, mengkorfirmasi terjadi lonjakan double digit nilai ekspor dalam US dollar hingga 19,95 persen pada tahun 2021.
Meski data ini memiliki keterbatasan bahwa tidak semua komoditi ekspor diproduksi di Sulawesi Selatan, namun persentasenya tidak terlalu besar.
Sehingga data ini dapat menjadi gambaran awal produk unggulan Sulawesi Selatan yang berdaya saing di mata dunia. Secara kumulatif, ekspor luar negeri didominasi oleh nikel hingga 60 persen.
Selanjutnya adalah komoditi besi dan baja (18,37 persen), biji-bijian berminyak (8,29 persen) serta ikan dan udang (3,12 persen). Peranan komoditi lainnya di kisaran 2 persen ke bawah.
Sementara itu pandemi ternyata justru menaikkan pertumbuhan ekspor luar negeri 4 komoditi utama di kisaran 25 hingga 90 persen. Yang tertinggi adalah kenaikan pertumbuhan besi dan baja hingga 90 persen.
Posisi pertumbuhan berikutnya adalah biji-bijian berminyak (33,19 persen), garam, belerang dan kapur (32,45 persen) serta nikel (24,69 persen). Bermodal 5 komoditi unggulan berdasarkan peranan dan pertumbuhannya menarik untuk dilakukan analisa mendalam. Gambaran daya saing komoditas diharapkan mampu mendorong ekspor luar negeri sebagai sumber pertumbuhan ekonomi.
Analisa kuadran terhadap peranan dan pertumbuhan komoditi utama ekspor Sulawesi Selatan tahun 2021 didapatkan beberapa kesimpulan.
Yang pertama, komoditi nikel, besi dan baja serta biji-bijian berminyak adalah komoditi yang berkontribusi besar dan mampu tumbuh tinggi.
Yang kedua, komoditi ikan dan udang mempunyai kemampuan kontribusi yang besar namun perlu didorong untuk terus bertumbuh. Yang ketiga, komoditi garam, belerang dan kapur dengan kemampuan bertumbuh tinggi namun secara size peranan perlu ditingkatkan.
Dalam perspektif daya saing, produk ekspor unggulan harus memenuhi kaidah keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif. Analisa keunggulan komparatif dilakukan dengan membandingkan peranan ekspor suatu komoditi terhadap total ekspor di level Sulawesi Selatan terhadap peranan ekspor komoditi yang sama terhadap total ekspor di level nasional.
Analisa ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan ekspor suatu produk dibanding nasional. Sementara analisa keunggulan kompetitif membandingkan antar waktu nilai ekspor suatu komoditi di Sulawesi Selatan terhadap nilai ekspor komoditi yang sama di level nasional.
Analisa ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kontinuitas daya saing suatu produk. Pada tahun 2021, dari kelima komoditas dengan peranan dan pertumbuhan yang tinggi berdasarkan daya saingnya terpilah menjadi tiga kelompok.
Kelompok pertama adalah biji-bijian berminyak, garam, belerang dan kapur, serta nikel memiliki keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif.
Kelompok kedua adalah besi dan baja dengan keunggulan komparatif yang perlu ditingkatkan namun memiliki prospek keunggulan kompetitif. Kelompok ketiga, adalah ikan dan udang dengan keunggulan komparatif yang tinggi namun keunggulan kompetitifnya perlu didorong.
Peningkatan daya saing terhadap kelima komoditi ini dapat dilakukan melalui konsistensi kualitas, diversifikasi produk turunan dan perluasan pangsa pasar.
Selama ini ekspor luar negeri Sulawesi Selatan bergantung pada komoditi nikel dengan negara tujuan Jepang. Perluasan pangsa ekspor perlu dilakukan di luar pasar utama Jepang dan Tiongkok.
Penambahan sentra produksi perlu dilakukan terutama untuk produk yang potensial seperti biji-bijian berminyak yang didominasi rumput laut, serta ikan dan udang. Komoditi ini diusahakan merata di wilayah Sulawesi Selatan.
Peningkatan kapasitas dan kualitas produksi perlu dilakukan untuk komoditi garam, belerang dan kapur yang didominasi oleh semen, kapur dan bahan bangunan pabrik.
Sebagai komoditi ekspor yang relatif baru, ekspor luar negeri besi dan baja sangat menjanjikan. Komoditi ini mampu melampaui kemampuan ekspor besi dan baja dari Jawa.
Langkah lainnya adalah penambahan calon eksportir baru melalui pelatihan dengan sistem coaching, berbagi pengalaman antar pemain lama dan pemain baru. Dunia yang semakin terbuka membuka peluang UMKM berperan dalam ekspor luar negeri. (*)
Penulis: Darma Endrawati (Fungsional Statistisi BPS Sulsel)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.













