BARRU—Guru-guru di Kabupaten Barru antusias mempelajari pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam Seminar Digital Math for Humanity Vol. 1 yang digelar Mahasiswa Magister Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Hasanuddin di Desa Gattareng, Sabtu (18/7). Selain berdiskusi, peserta juga mempraktikkan teknik menyusun prompt untuk pembelajaran.
Muhammad Fardan, S.Pd. tampil sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, ia menyampaikan AI tidak seharusnya dipandang sebagai pengganti guru, melainkan alat bantu yang dapat mendukung proses pembelajaran apabila digunakan secara tepat dan bertanggung jawab.
Menurut Fardan, AI dapat membantu proses belajar, tetapi tidak dapat menggantikan peran guru.
“AI boleh menjadi pemantik berpikir, bukan pengganti berpikir. Peran guru tetap sangat penting dalam membimbing proses berpikir siswa, menjaga etika, serta membangun karakter dan kemampuan berpikir kritis,” jelas Muhammad Fardan, S.Pd.
Dalam seminar tersebut, peserta memperoleh materi tentang perubahan cara belajar generasi Gen-Z dan Gen-Alpha, tantangan pembelajaran di era digital, etika penggunaan AI, hingga teknik menyusun prompt yang efektif.
Materi itu ditujukan untuk membantu guru menyusun bahan ajar, soal, dan aktivitas pembelajaran yang lebih kontekstual.
Perhatian peserta juga tertuju pada sesi praktik prompt engineering menggunakan formula PAKET, yakni Peran, Apa tugasnya, Konteks, Ekspektasi hasil, dan Tambahan batasan.
Pada sesi ini, peserta diajak memahami bahwa kualitas hasil AI sangat dipengaruhi oleh kejelasan instruksi dan kerangka berpikir pengguna.
Antusiasme guru terlihat dari banyaknya pertanyaan yang muncul selama seminar. Salah satu guru peserta mengatakan materi yang diberikan membuka wawasan baru tentang pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan.
“Materinya sangat bagus dan membuat kami semakin semangat untuk belajar bagaimana memilah dan memilih teknik mengajar yang tepat,” kata salah satu guru peserta seminar.
Kami jadi memahami bahwa penggunaan AI bukan hanya menyusun prompt, tetapi membutuhkan cara berpikir yang jelas dan terstruktur agar hasil yang diperoleh lebih tepat sasaran,” tambahnya.
Sementara itu, Muhammad Fardan mengatakan guru di era AI perlu menguasai literasi digital sekaligus tetap menjaga nilai-nilai pedagogis.
Ia menjelaskan teknologi dapat membantu pekerjaan administratif dan penyusunan bahan ajar.
Namun, empati, intuisi pedagogis, serta pembinaan karakter siswa tetap tidak dapat digantikan oleh AI.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat Mahasiswa Magister Matematika FMIPA Universitas Hasanuddin dalam Math for Humanity Vol. 1 dengan semangat Small Action, Big Impact.
Di akhir kegiatan, mahasiswa berharap para guru semakin percaya diri menghadapi transformasi pendidikan.
Mereka juga berharap para guru mampu memanfaatkan teknologi secara bijak untuk menciptakan pembelajaran yang lebih efektif, humanis, dan relevan dengan kebutuhan siswa di era digital. (*)

















