MAKASSAR—Menjelang Musyawarah Besar (Mubes) Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin, suara dari kawasan Luwu Raya menguat. Ketua BPW Kerukunan Keluarga Luwu Raya Sulawesi Selatan, Hasbi Syamsu Ali, berharap organisasi alumni kampus terbesar di Indonesia Timur itu tidak hanya menjadi wadah silaturahmi, tetapi tampil sebagai kekuatan strategis dalam mendorong pembangunan daerah.
Menurut Hasbi, Luwu Raya memiliki modal besar yang selama ini belum digarap maksimal. Selain kaya sumber daya alam, kawasan ini ditopang sektor pertanian, perkebunan, perikanan, hingga potensi agro-maritim yang membentang di sepanjang Teluk Bone. Di sisi lain, jumlah alumni Unhas asal Luwu Raya dinilai cukup besar dan tersebar di berbagai sektor penting.
“Alumni Unhas dari Luwu Raya sangat banyak. Ini kekuatan sosial yang seharusnya bisa dikonsolidasikan untuk pembangunan daerah,” ujarnya.
Hasbi menilai momentum Mubes IKA Unhas menjadi titik penting untuk mempertegas arah organisasi alumni agar tidak berhenti pada agenda seremonial. Ia melihat kepemimpinan Ketua Umum IKA Unhas, Andi Amran Sulaiman, sebagai peluang besar untuk menghadirkan kontribusi nyata bagi kawasan yang memiliki basis ekonomi agraris seperti Luwu Raya.
Menurutnya, posisi strategis Amran di sektor pertanian sangat relevan dengan kebutuhan pembangunan wilayah tersebut. Apalagi, pertanian, perkebunan, dan perikanan dinilai menjadi sektor yang mampu menciptakan ekonomi berkelanjutan sekaligus menyerap tenaga kerja masyarakat.
“Kita berharap capaian di sektor pertanian nasional juga memberi dampak langsung ke daerah, termasuk Luwu Raya yang punya potensi besar sebagai lumbung komoditas unggulan,” kata Hasbi.
Namun, ia mengingatkan bahwa kekayaan sumber daya alam di Luwu Raya, khususnya sektor pertambangan, tidak boleh menjadi satu-satunya sandaran pembangunan. Pengalaman di sejumlah daerah menunjukkan pertumbuhan ekonomi tinggi dari tambang tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat.
“Ada daerah tambang yang ekonominya tumbuh, tetapi angka kemiskinan dan penganggurannya tetap tinggi. Itu terjadi karena sektor non-tambang tidak diperkuat,” jelasnya.
Karena itu, Hasbi menekankan pentingnya keseimbangan pembangunan antara industri ekstraktif dan sektor kerakyatan. Ia berharap keberadaan IKA Unhas dapat menjadi jembatan gagasan, investasi, dan kolaborasi untuk memperkuat pertanian, perkebunan, dan perikanan sebagai fondasi ekonomi jangka panjang di Luwu Raya.
Baginya, Mubes IKA Unhas bukan sekadar agenda pergantian kepemimpinan, melainkan momentum menentukan apakah jejaring alumni mampu menjadi kekuatan nyata dalam membangun daerah asalnya. (Cr/Ag4ys)
Citizen Reporter: Asri Tadda
Artikel ini ditulis oleh Citizen Reporter. Isi dan gaya penulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi hanya melakukan penyuntingan seperlunya tanpa mengubah substansi.













