OPINIGoogle, satu kata yang amat berpengaruh pada kehidupan manusia zaman now yang tanpanya? Tentu ada banyak manusia manusia diluaran sana yang bakalan lumpuh otak dikarenakan Google yang kini diadopsi sebagai otak kedua bahkan Tuhan kedua.

So wajar jika sekarang ada yang namanya Googlisme, yakni suatu kepercayaan yang memperTuhankan Mbah Google.

Perlu diketahui bahwa Google sendiri merupakan salah satu bentuk kemajuan Teknologi yang telah dirancang seperfect mungkin, yakni berupa mesin percari yang hebatnya amat luar biasa.

Produk Amerika ini didirikan pada tanggal 4 september 1998 oleh seorang Larry Page dan Sergey Brin ketika masih berstatus Mahasiswa (Wikipedia).

Berbicara mengenai Misi dari produk besar ini tidak lain untuk mengumpulkan Informasi dunia dan membuatnya dapat diakses oleh seluruh manusia. Bahkan, dalam Slogan tidak resminya tertulis “Dont be Evil” yang maknanya kurang lebih “Jangan Berbuat Jahat”.

Sehingga bisa saja jika dikatakan bahwa Ajaran Google kepada para penggunanya persis dengan seluruh ajaran Agama yang ada.

Yakni, meminta kepada para penganutnya untuk tidak melakukan kejahatan, dan hati hati! kejahatan akan selalu mendapatkan balasan yang setimpal seperti yang termaktub dalam QS. Al Zalzalah [99]: 8

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”.

Namun sayang bukannya patuh, malah Ajaran “Don’t be Evil” diabaikan begitu saja, bahkan dengan keberadaan Google yang diharapkan bisa membuat pengguna semakin hebat eh rupanya malah menjatuhkan banyak diantara mereka pada lingkaran kemalasan yang amat super duper.

Dan Berikut Dua bukti kemalasan manusia akibat hadirnya Mbah Google,

1. Berpenyakit radang Hoaks

Bagaimana bisa? Ketika kita harus mencopy paste berbagai pengetahuan tanpa harus menguji kebenarannya, kalau sakit seperti ini obatnya seperti ini, kalau kasus seperti ini maka dalilnya seperti ini, kalau soalnya seperti ini maka jawabannya seperti ini.

Jelas, akan muncul Dokter dokter dadakan, Ustadz dadakan dan guru guru dadakan.

Sehingga pada kebiasaan buruk inilah yang memicu penyakit radang Hoaks diera zaman now, mengapa?

Ketika para peng-informan mulai bertebaran di media sosial dan dipertemukan ole para pencari Informasi yang terserang penyakit malas, tentu mereka tak perlu menguji kesterilan info atau berita lagi.

Dan Islam memandang bahwasanya kita sebagai pemanfaat dari kemajuan Teknologi sepatutnya tidak langsung menelan informasi secara mentah.

Perlu adanya ketelitian dan pemeriksaan demi kejelasan Informasi. Terlebih pada informasi yang sangat bersifat sensitif!

Seperti yang termaktub dalam QS. Al-Hujurat [49] ayat 6 mengenai kebenaran sebuah berita,

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”

Pada ayat diatas jelas menerangkan bahwa dalam menerima sebuah informasi, kita tidak hanya patut memeriksa kualitas informasi itu sendiri, melainkan perlu nya kita memeriksa kualitas si pemberi informasi.

Kalau dalam ilmu Hadits biasanya disebut dengan kualitas Rawi (Si pemberi Informasi) dan kualitas matan (Isi informasi). Dan jelas kedua point ini sangat penting untuk diperhatikan terlebih dalam meliput sebuah berita.

Seperti yang diliput oleh situs Republika bahwa rupanya ada sekitaran 800.000-an situs di Indonesia yang telah terindikasi sebagai penyebar informasi Palsu berdasarkan data kominfo, lantas apakah perihal ini dianggap biasa dan kita sebagai pengguna teknologi berlaku biasa biasa saja?

Jangan katakan dengan adanya Informasi Hoaks tidak akan berdampak apa apa. Karena pada dasarnya kebohongan sebuah informasi akan menimbulkan prangka prasangka tidak jelas antar sesama dan kecurigaan.

Sedangkan Islam sendiri telah mengatur bahwasanya sebagai manusia amat tidak diperbolehkan dalam Prasangka seperti yang termaktub di QS. Al-Hujurat [49]: 12

“Hai orang orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka. Karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari cari kesalahan orang lain”.

2. Plagiasi

Selain Hoaks yang ramai diperbincakan, kita pun patut meratapi kasus kasus plagiasi yang dilakukan oleh hampir sebagian orang, dan lagi lagi ini terjadi karena faktor kemalasan.

Sehingga tanpa merasa bersalah kita mengutip tulisan milik orang lain tanpa adanya izin untuk mengcopy atau setidaknya mereka bisa mencantumkan sumber dari mana asalnya mereka menemukan berbagai tulisan tersebut.

Dari sudut islam sendiri, perihal perkara ini tertulis jelas di QS. An-Nisa [4]: 29

“Hai orang orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dan jangan batil. Kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu”

Mungkin dibenak kita akan muncul pertanyaan tentang mengapa tulisan yang di copy paste dan diakui sebagai tulisan milik sendiri dianggap sebagai bentuk pencurian harta sesama?

Tentu hal ini telah dijelaskan secara detail dalam ketentuan umum Fatwa MUI, yang menerangkan bahwasanya hasil olah pikir otak yang menghasilkan sebuah produk yang berguna untuk manusia dan diakui oleh negara, rupanya dinilai amat berkaitan erat dengan aktivitas ekonomi sebagai hasil dari kreativitas seseorang, (Republika).

Dan perihal plagiasi pun diatur pada lembaga Fatwa Mesir. Darul Ifta Al-Mishriyyah bahwasanya “Hak karya tulis dan karya karya kreatif dilindungi secara Syara’.

Pemiliknya mempunyai hak pendayagunaan karya karya tersebut. Siapapun tidak boleh berlaku Zalim terhadap hak mereka.

Berdasarkan pendapat ini, kejahatan plagiasi terhadap hak intelektual dan hak merk dagang yang terregistrasi dengan cara mengakui karya tersebut di hadapan publik, merupakan tindakan yang diharamkan Syara’. (Islam.co)

Pertanyaannya sekarang ialah, apakah kemalasan manusia adalah bentuk kejahatan? Dalam buku “Psychology of life” karya dari bapak Philip G. Zimbardo, Scott, dan Foresman (1979). (Kompasiana).

Dijelaskan bahwa kemalasan terbagi dua bentuk, pertama, ada yang temporal yakni mengacu pada keadaan seperti, rasa malas untuk keluar jalan bersama dengan teman yang sembrono.

Dan yang kedua ialah bentuk Akut, yakni seseorang yang memang telah menanamkan karakter kemalasan dalam dirinya.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa sikap malas tidak seluruhnya berdampak pada kejahatan.

Namun seperti yang dijelaskan beberapa contoh diatas seperti kemalasan membaca dan meneliti berita hingga berakibat pada pengkomsumsian berita hoaks yang berujung pada prasangka.

Ataupun kemalasan menciptakan olah pikir hingga berakhir pada tindakan plagiasi jelas ini termasuk kejahatan. Sedangkan Slogan Google sendiri ialah “Don’t be Evil”. (*)

Islam dan Google Antara Don’t be Evil dan Kemalasan Manusia
Oleh: Nonna
Mahasiswa UIN Alauddin Makassar,
Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir