SIDRAP – Di tengah kelangkaan gas LPG yang terus dikeluhkan warga, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Universitas Hasanuddin (Unhas) menghadirkan solusi berbasis potensi lokal. Melalui inovasi BRISKA (Briket Sekam Padi), limbah pertanian yang selama ini terbuang kini diolah menjadi bahan bakar alternatif yang murah, ramah lingkungan, dan berpotensi mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap LPG.
Program pelatihan dan sosialisasi BRISKA digelar mahasiswa KKNT Unhas Gelombang 116 di Desa Wanio Timoreng, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Selasa malam (21/7/2026), di kediaman Kepala Desa Wanio Timoreng. Meski berlangsung pada pukul 21.00 WITA, kegiatan tersebut mendapat sambutan antusias dari warga, kelompok tani, hingga ibu rumah tangga.
Puluhan peserta mengikuti setiap tahapan pelatihan, mulai dari proses karbonisasi sekam padi, pencampuran bahan perekat, pencetakan, hingga penjemuran briket sampai siap digunakan sebagai bahan bakar rumah tangga.
Koordinator kegiatan menjelaskan, program BRISKA lahir dari hasil identifikasi dua persoalan utama di Desa Wanio Timoreng, yakni melimpahnya limbah sekam padi yang belum dimanfaatkan secara optimal serta kelangkaan LPG bersubsidi yang kerap menyulitkan masyarakat memenuhi kebutuhan memasak sehari-hari.
Selama ini, sekam padi umumnya hanya dibakar sehingga menimbulkan pencemaran udara. Di sisi lain, warga harus menghadapi sulitnya memperoleh LPG dengan harga yang terus meningkat di tingkat pengecer. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa menghadirkan inovasi yang memanfaatkan sumber daya lokal sebagai energi alternatif.
Dalam pelatihan, mahasiswa mempraktikkan secara langsung proses pembuatan briket agar dapat diterapkan secara mandiri oleh masyarakat. Selain menjadi solusi energi rumah tangga, produk ini juga dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai usaha berbasis desa.
Kepala Desa Wanio Timoreng, Syamsuddin, S.Sos., mengapresiasi inovasi yang dihadirkan mahasiswa Unhas karena dinilai menjawab kebutuhan masyarakat.
“Saya melihat program pembuatan BRISKA ini sangat menarik dan bermanfaat. Ini bisa menjadi solusi bagi kebutuhan rumah tangga di desa kita, terutama di tengah kondisi tabung gas yang sering langka. Daripada warga kesulitan mencari gas, lebih baik kita memanfaatkan potensi yang ada di desa sendiri,” ujarnya.
Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan selama sesi diskusi. Sejumlah warga bahkan menyatakan minat untuk mencoba memproduksi briket secara mandiri dan mengembangkannya menjadi produk bernilai ekonomi.

Menanggapi hal tersebut, mahasiswa KKNT Unhas berkomitmen melakukan pendampingan selama masa pengabdian, termasuk membantu masyarakat dalam pengemasan dan pengembangan produk agar memiliki nilai jual.
Program BRISKA menjadi salah satu bentuk implementasi pengabdian mahasiswa yang tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga menghadirkan solusi atas persoalan nyata di masyarakat. Melalui pemanfaatan limbah sekam padi menjadi bahan bakar alternatif, inovasi ini diharapkan mampu memperkuat kemandirian energi sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga Desa Wanio Timoreng. (Mp/Ag4ys)
Citizen Reporter: Muh. Fakhrizal (Mahasiswa Peternakan Unhas)














menyala lagi sayangkuu🔥, semangat
menyala sayangkuu
Mantap
Semangat untuk anak kkn
Semangattt