Beranda » News » Korban Tsunami di Lampung Selatan Kini Capai 20 Meninggal, 165 Luka, 2 Hilang
Korban Tsunami di Lampung Selatan Kini Capai 20 Meninggal, 165 Luka, 2 Hilang
News

Korban Tsunami di Lampung Selatan Kini Capai 20 Meninggal, 165 Luka, 2 Hilang

Korban akibat gelombang pasang, yang kini dikategorikan sebagai tsunami, di pantai sekitar Selat Sunda, khususnya kabupaten Pandeglang, Lampung Selatan dan Serang, Sabtu malam (22/12) terus bertambah.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana BNPB hingga Minggu (23/12), pukul 04.30 WIB sedikitnya 20 orang meninggal, 165 luka-luka dan 2 lainnya hilang.

Kajian awal Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan tsunami disebabkan oleh gabungan longsor bawah laut akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dan gelombang pasang akibat bulan purnama. Tetapi BMKG masih berkoordinasi dengan Badan Geologi untuk memastikan penyebabnya.

Badan Geologi pada pukul 21.03 WIB sudah mendeteksi adanya erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan rusaknya peralatan seismograf setempat. Keterangan pers yang dirilis Minggu pagi menyatakan stasiun Sertung terus merekam adanya getaran tremor secara terus menerus, tetapi tidak mencurigakan.

“Kemungkinan material sedimen di sekitar Anak Gunung Krakatau di bawah laut longsor sehingga memicu tsunami,” tambah pernyataan itu.​

Korban tewas terbanyak terdapat di kabupaten Pandeglang, Jawa Barat, dimana sedikitnya 14 orang meninggal dan 150 lainnya luka-luka. Sekitar 43 rumah dan sembilan hotel rusak berat, termasuk puluhan kendaraan. Daerah yang paling parah terdampak tsunami itu adalah permukiman dan wisata di Pantai Tanjung Lesung, Pantai Sumur, Pantai Teluk Lada, Pantai Panimbang dan Pantai Carita.

Di kabupaten Lampung Selatan, 3 orang meninggal dan 11 lainnya luka-luka. Sementara di kabupaten Serang, 3 orang meninggal dunia, 4 luka dan 2 orang hilang.

Data korban diperkirakan masih akan terus bertambah mengingat belum semua daerah terdampak data dapat dihubungi. Jalan raya penghubung Serang-Pandeglang juga putus.

Saat ini BPBD bekerjasama dengan TNI, Polri, Basarnas, SKPD, Tagana, PMI, relawan dan masyarakat bekerja bahu membahu mengumpulkan informasi dan melakukan evakuasi korban. Masyakarat dihimbau untuk tetap tenang dan mencari informasi dari sumber-sumber resmi.

BMKG pada Minggu pagi mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi yang berlaku mulai Sabtu (22/12), pukul 7 pagi hingga Selasa (25/12), pukul 7 pagi di wilayah perairan Selat Sunda. Hujan lebat dan angin kencang diperkirakan akan melanda kawasan perairan Anyer antara pukul 9.00-11.00 pagi pada hari yang sama. [voa]