JAKARTA – Krisis iklim yang ditandai dengan meningkatnya banjir, kebakaran hutan, kekeringan, hingga cuaca ekstrem dinilai tidak hanya dipicu oleh faktor lingkungan, tetapi juga berakar pada krisis moral manusia dalam memperlakukan alam.
Pandangan tersebut disampaikan KH Nasaruddin Umar melalui konsep Ekoteologi, yang menempatkan pelestarian lingkungan sebagai bagian dari nilai keimanan dan tanggung jawab spiritual.
Menurutnya, kerusakan lingkungan terjadi karena manusia memandang alam semata sebagai objek eksploitasi, bukan amanah yang harus dijaga.
“Krisis iklim pada hakikatnya adalah krisis moral. Manusia sering memandang alam hanya sebagai objek untuk dieksploitasi, padahal alam adalah amanah dari Allah yang harus dijaga,” ujar KH Nasaruddin Umar.
Melalui Ekoteologi, manusia diposisikan sebagai khalifah di bumi yang berkewajiban menjaga keseimbangan alam. Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab sosial, tetapi juga bagian dari ibadah.
Konsep tersebut mendorong masyarakat menerapkan gaya hidup ramah lingkungan melalui langkah sederhana, seperti menghemat air dan energi, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menanam pohon, serta membangun budaya peduli lingkungan di keluarga, sekolah, hingga rumah ibadah.
KH Nasaruddin Umar menegaskan, penyelesaian krisis iklim tidak cukup mengandalkan teknologi maupun kebijakan pemerintah. Kesadaran moral dan spiritual masyarakat menjadi fondasi utama dalam menjaga kelestarian bumi.
Menurutnya, pembangunan dan pelestarian lingkungan harus berjalan beriringan. Menjaga bumi merupakan bentuk syukur kepada Allah SWT sekaligus tanggung jawab setiap manusia untuk mewariskan lingkungan yang lestari bagi generasi mendatang. (Cr/Ag4ys)
Citizen Reporter: Muh. Aras Prabowo (Akademisi UNUSIA)







