OPINI—Narkoba adalah singkatan dari narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya. Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam laman resminya mendefinisikan narkoba sebagai zat atau obat yang dapat menimbulkan efek penurunan kesadaran, halusinasi, serta daya rangsang.

Sementara dalam Undang-undang (UU) No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika, dijelaskan bahwa narkotika adalah zat buatan atau pun yang berasal dari tanaman yang memberikan efek halusinasi, menurunnya kesadaran, serta menyebabkan kecanduan. (kompas.com)

Dalam dunia medis biasa dipakai sebagai obat bius, untuk sterilisasi alat-alat medis dan pengobatan/terapi beberapa penyakit dengan aturan, dosis dan pengawasan ketat dokter. Namun, faktanya obat-obatan tersebut kerap disalahgunakan hingga memberikan dampak buruk pada penggunanya terhadap kesehatan mereka. Terutama kalangan muda, pelajar dan remaja.

Seiring berjalannya waktu, kasus penyalahgunaan narkoba kian meningkat. Menyasar berbagai kalangan dari rakyat jelata hingga pejabat negara. Baik sebagai pemakai atau pun sebagai pengedar. Mulai yang coba-coba sampai membutuhkannya untuk mengatasi stres atau gejala depresi yang diderita.

Hal ini seperti apa yang dialami oleh pasangan selebritas NR dan AB bersama sopirnya akibat mengonsumsi narkotika jenis sabu. Berdasarkan pengakuannya mereka menggunakan narkoba akibat ruwet pikiran akibat pandemi.

“Kalau penyampaian awal karena masa pendemi menggunakan (narkoba) suami-istri. Dan mereka menggunakan karena tekanan kerja yang banyak,” kata Yusri di Polres Jakarta Pusat Kamis (8/7). Demikian pernyataan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus yang dikutip dari jawapos.com

Tak Lepas dari Pengaruh Sistem
Untuk mengatasi berbagai tindakan penyalahgunaan narkoba, pemerintah telah melakukan berbagai upaya. Mulai dari diterapkannya peringatan hari anti narkoba hingga pembentukan badan nasional penanggulan narkoba. Namun tetap saja narkoba menggurita, bak jamur di musim hujan.

Padahal, narkoba tak hanya menjadi ancaman dari sisi kesehatan semata. Tapi, juga menjadi sumber tumbuh suburnya berbagai kriminalitas akibat kecanduan narkoba. Tak terhitung lagi dampak buruk yang diakibatkan barang ini. Terlebih pada generasi, ketika narkoba ini telah sampai ke tangan mereka, membuatnya termakan oleh kehidupan glamour, hedonis dan perilaku menyimpang.

Terlebih penggunaan narkoba dengan dosis yang berlebihan akan mengakibatkan terganggunya saraf sistem otak, fisik, kejiwaan, tertidur atau tak sadarkan diri hingga seringnya berhalusinasi. Lalu, apa jadinya jika generasinya seperti ini? Tak ada asa lagi.

Dengan melihat meningkatnya jumlah pengguna narkoba dari tahun ke tahun, tak menutup kemungkinan suatu waktu bangsa ini akan mengalami lost generation atau tak ada lagi generasi-generasi muda yang akan membangun sebuah peradaban mulia.

Adapun meningkatnya kasus penyalahgunaan narkoba tak lepas dari pengaruh sistem saat ini. Dengan asas sekularismenya, agama dijauhkan dari kehidupan. Sehingga, tak ada lagi kontrol atas dirinya.

Baik buruk, benar salah berdasarkan akalnya semata. Dan juga dengan prinsip liberalismenya, manusia bebas melakukan apapun tanpa memandang halal atau haram. Bahkan, tanpa memikirkan kemudharatan apa yang akan  ditimbulkannya.

Disisi lain, dengan penerapan ekonomi kapitalisme telah berhasil membentuk manusia yang materialistik. Segala hal dihitung berdasarkan untung rugi. Bisnis narkoba sangat menggiurkan. Maka, siapa pun akan tergoda.

Sehingga membuat mereka, para kapitalis itu berlomba-lomba untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya. Terlebih, kesulitan ekonomi yang mencekam saat ini, akan mendorong mereka untuk terjun dalam bisnis haram ini.

Perlu Solusi Tepat

Islam telah memberikan panduan kepada pemeluknya, berupa al Qur’an dan sunnah Rasul-Nya. Inilah yang seharusnya menjadi sandaran dalam pengaturan hidup. Segala perbuatan, halal haram dikembalikan sebagaimana Islam menetapkannya.

Termasuk dalam perkara narkoba, Islam telah mengharamkannya dan memerintahkan umat Islam untuk menjauhinya. Baik produsen, pelaku dan pengedarnya jelas sudah berbuat dosa. Allah Ta’ala akan meminta pertanggung jawaban kelak.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Segala yang mengacaukan akal dan memabukkan adalah haram.” (HR. Imam Abu Daud)

Untuk itu, jika ingin memutus mata rantai narkoba diperlukan solusi tepat yang sistemik. Dengan melibatkan tiga pihak, yaitu keluarga, kontrol masyarakat dan negara. Dari sisi keluarga, perlunya meningkatkan ketakwaan individu dengan memperkuat akidah Islam, memperkokoh keimanan.

Sebab, dengan adanya ketakwaan ini akan mendorong seseorang untuk senantiasa terikat kepada hukum syara’ dalam setiap aktivitasnya. Merasa ada yang mengawasi setiap tingkah lakunya, yaitu Allah. Sehingga, tak akan mudah baginya untuk tergoda dengan ‘manisnya’ narkoba.

Adapun kontrol dari masyarakat, dapat dilihat bahwa manusia adalah makhluk sosial, saling membutuhkan satu sama lain. Sehingga dengan danya kontrol individu pada individu yang lain sangatlah perlu, karena manusia bukan malaikat. Tak luput dari kesalahan.

Karena itu, saling memerlukan dalam mengontrol diri. Beramar ma’ruf nahi munkar. Baik secara individu ataupun kolektif (masyarakat), kontrol itu akan menyelamatkannya dari kerugian yang luar biasa yaitu keimanan yang menurun dan rusaknya amalan-amalan.

Yang terakhir, adalah adanya peran negara. Dalam hal ini penguasa yang memiliki tanggung jawab penuh dalam melindungi dan mengurusi urusan rakyatnya.

Adanya negara dalam menjaga ketakwaan individu dan masyarakat serta adanya kebijakan-kebijakan yang ditetapkan atas ketegasan terhadap segala kemaksiatan akan membuat pintu masuknya narkoba tertutup rapat. Sehingga rakyat akan terlindungi dari jerat bahaya narkoba.

Selain itu, negara pun harus menerapkan sanksi hukum yang keras dan tegas kepada para pelanggar aturan. Bagi pengguna, pengedar dan produsen narkoba. Hukuman itu bisa berupa sanksi ta’zir yang jenis dan kadarnya ditentukan oleh qadhi (hakim), misalnya dipenjara, dicambuk, bahkan sampai pada hukuman mati, sesuai kadar kesalahannya.

Namun, untuk mewujudkan hal tersebut di atas, kita tak bisa berharap pada sistem yang berlaku saat ini. Karena, sejatinya sistem yang ada saat ini terbukti tak mampu memberikan perlindungan dari segala bahaya yang mengancam rakyatnya.

Sebaliknya, menjadi sumber munculnya berbagai persoalan yang menimpa negeri ini. Salah satunya kasus narkoba ini.
Pilihan kembali kepada aturan-Nya (Islam) itulah yang lebih layak untuk menjadi pilihan saat ini. Melihat kiprahnya selama ribuan tahun lamanya mampu melahirkan generasi-generasi pemimpin dengan peradaban yang gemilang. (*)

Wallahu a’lam

Penulis: Hamsina Halik, A. Md. (Pegiat Revowriter)

***

Dislclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.