OPINI – Pandemi covid-19 membawa dampak bagi seluruh sendi kehidupan. Keluarga sebagai satuan terkecil sebuah bangsa menghadapi tantangan yang cukup berat.

Ancaman meluasnya penyebaran covid-19 beriringan dengan kesulitan ekonomi, penyesuaian pola kerja maupun pola asuh di keluarga.

Secara makro, efek ekonomi terlihat dari capaian pertumbuhan tahunan ekonomi Sulawesi Selatan pada triwulan I tahun 2020 sebesar 3,07 persen yang merupakan nilai terendah selama lima tahun terakhir.

Tingkat pengangguran juga merambat naik hingga 6,07 persen. Pemerintah telah menetapkan kebijakan new normal sebagai langkah menghadapi pandemi.

Era new normal menjadi titik tolak menuju tatanan dunia baru untuk beraktivitas kembali dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat, sembari tetap melawan ancaman covid.

Dalam era ini, keluarga merupakan benteng kokoh pengawal pelaksanaan new normal. Kesiapan keluarga dari sisi kesehatan, ekonomi, maupun mental spiritual perlu dikaji untuk memahami langkah antisipasi yang diperlukan.

Dari sisi kesehatan, edukasi tentang covid-19 di tingkat keluarga sangat diperlukan. Gugus tugas covid-19 pun memberikan penekanan bahwa keluarga adalah kunci memasuki era new normal.

Menanamkan protokol kesehatan menjadi sebuah kebiasaan dan budaya bagi seluruh anggota keluarga perlu dilakukan segera.

Masker, hand sanitizer, peralatan ibadah, peralatan makan minum adalah perlengkapan yang mesti dibawa saat new normal.

Sosialisasi tentang jaga jarak, menghindari kerumunan, meningkatkan imunitas dilakukan secara masif. Kebiasaan cuci tangan harus menjadi budaya dalam upaya memutus mata rantai covid-19. Akses cuci tangan pakai sabun perlu mendapat perhatian.

Berdasarkan rilis riset tahunan WHO dan Unicef dalam Joint Monitoring Programme for Water Supply, Sanitation dan Hygine menempatkan Indonesia di posisi 17 dari 23 negara di Asia dalam hal aksesbilitas cuci tangan pakai sabun.

Proporsi rumahtangga di Sulawesi Selatan terhadap ketersediaan fasilitas cuci tangan dengan sabun dan air baru di level 85 persen.

Ketersediaan air bersih menjadi catatan penting. Kesiapan keluarga dari sisi ekonomi dilakukan dengan menilai ulang kapasitas ekonomi rumahtangga menghadapi situasi yang belum sepenuhnya pulih.

Kepemilikan rumahtangga atas aset yang bisa dijual sebagai dana darurat menghadapi masa sulit menjadi urgen saat ini.

Data Susenas 2019 menunjukkan lebih dari 80 persen rumahtangga di Sulawesi Selatan memiliki aset berupa tanah. Aset berupa sepeda motor dan lemari es dimiliki lebih dari 70 persen rumahtangga.

Sementara persentase rumahtangga yang memiliki aset emas minimal 10 gr sekitar 27 persen.

Minimnya kepemilikan aset bisa menjadi indikator layak tidaknya sebuah keluarga mendapatkan bantuan.

Konsumsi di level keluarga kiranya perlu menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Literasi keuangan keluarga di masa pandemi menjadi kunci agar sehat secara badan diiringi pula kesehatan secara keuangan.

Data survei OJK menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan tahun 2019 di Sulawesi Selatan sebesar 32,46 persen.

Angka ini berarti bahwa dari 100 orang baru 32 orang yang memiliki pengetahuan pengelolaan keuangan dengan baik.

Era new normal mewajibkan semua keluarga untuk mengkalkulasi dan mengevaluasi pengeluaran mereka sehingga mampu mewujudkan ketahanan ekonomi.

Kesuksesan menjalani era new normal selain faktor kesehatan dan finansial adalah faktor mental spiritual.

Ungkapan “jangan lupa bahagia” mengingatkan kita bersama bahwa rasa bahagia berpengaruh pada kualitas kesehatan.

Dalam situasi normal terlihat adanya peningkatan prevalensi gangguan jiwa. Mengutip Riskesdas 2018, bahwa 7 dari 1000 rumahtangga terdapat anggota keluarga yang mengalami skizofrenia.

Dari penduduk usia 15 tahun ke atas 19 juta diantaranya mengidap gangguan mental emosional. Serta lebih dari 12 juta mengarah pada depresi. Situasi pandemi tentu akan membawa dampak bagi kesehatan jiwa.

Rasa takut terhadap wabah, kecemasan akan kebutuhan hidup, kebosanan dengan rutinitas yang terbatas, kebingungan akan kebenaran informasi, keterasingan bagi pasien yang dikarantina, tekanan pekerjaan tenaga kesehatan dan lain-lain merupakan sebagian kecil dari problema kesehatan mental.

Keluarga merupakan tempat terdekat dan ternyaman yang harus mampu mengantisipasi. Berdasarkan indeks kebahagiaan, faktor keharmonisan keluarga menjadi faktor yang berpengaruh hingga 80 persen terhadap tingkat kebahagiaan seseorang.

Setiap keluarga hendaknya mampu memaknai new normal sebagai sebuah konsep untuk menyatukan seluruh anggota keluarga dalam kebersamaan menghadapi masa sulit.

Persiapan dari sisi kesehatan, ekonomi dan mental yang dilakukan seluruh keluarga dibarengi dengan berbagi kebijakan pemerintah pada saatnya nanti akan bertemu pada titik kesetimbangan dengan berakhirnya pandemi. (*)

Penulis: Darma Endrawati (Fungsional Statistisi BPS Prov Sulsel / Pegiat Literasi Yayasan Tanggul Literasi Indonesia)