OPINI—Kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin kian mencolok, menjadi cermin suram ketidakadilan yang mengakar dalam masyarakat modern.
Meski dunia terus memperingati Hari Pengentasan Kemiskinan Internasional setiap 17 Oktober, persoalan ini tetap menjadi polemik global yang belum menemukan solusi.
Sejak 1992 hingga kini, kemiskinan tetap menjadi bayang-bayang kelam yang menghambat upaya mencapai kesejahteraan dunia.
Solusi Semu dalam Kapitalisme
Berbagai upaya untuk mengentaskan kemiskinan telah dilakukan, baik secara lokal maupun global, tetapi hasilnya sering kali nihil.
Berdasarkan laporan PBB, sebanyak 1,1 miliar penduduk dunia hidup dalam kemiskinan akut. Ironisnya, angka ini berpotensi meningkat jika dunia terus bertumpu pada sistem kapitalisme, sebuah sistem yang lebih berpihak kepada pemodal besar dibandingkan rakyat kecil.
Kapitalisme memperkuat dominasi kapitalis di atas penderitaan rakyat yang terabaikan. Negara sering kali absen sebagai pelindung utama kebutuhan rakyat, menjadikannya sekadar regulator untuk kepentingan pengusaha.
Kebijakan-kebijakan ekonomi yang lahir dari sistem ini lebih sering mencerminkan kepentingan segelintir elite ketimbang kesejahteraan publik.
Ukuran kesejahteraan dalam kapitalisme pun cenderung ilusi. Pendapatan per kapita sering digunakan sebagai indikator, padahal metode ini hanya menyamaratakan kekayaan tanpa memperhitungkan disparitas yang ada.
Hasilnya, kemiskinan struktural tetap menjadi momok meski angka statistik menunjukkan sebaliknya. Padahal, kesejahteraan sejati mencakup pemenuhan kebutuhan dasar, kebebasan dari kemiskinan, serta kemajuan jasmani dan rohani masyarakat.
Lebih jauh, solusi-solusi yang ditawarkan, seperti pergantian pemimpin atau pemberdayaan perempuan, sering kali hanya menyentuh permukaan masalah tanpa menyentuh akar persoalan.
Dalam sistem kapitalisme, baik buruknya pemimpin akan tetap dibatasi oleh sistem yang mendasarinya. Alhasil, upaya tersebut hanya menjadi solusi tambal sulam yang tidak membawa perubahan signifikan.
Mengkritisi Akar Masalah
Akar dari permasalahan ini adalah penerapan sistem kapitalisme yang memandang segalanya melalui kacamata profit. Dalam situasi ini, tanggung jawab negara untuk menjamin kesejahteraan warganya menjadi tergerus. Pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan sering kali dianggap sebagai komoditas alih-alih hak dasar manusia.
Di tengah kondisi yang semakin memprihatinkan, masyarakat perlu memahami bahwa kemiskinan bukan hanya akibat kegagalan individu, melainkan hasil dari sistem yang tidak adil.
Oleh karena itu, upaya pengentasan kemiskinan tidak cukup hanya dengan kebijakan pragmatis, tetapi harus dimulai dengan evaluasi menyeluruh terhadap sistem ekonomi yang diterapkan.
Kesejahteraan Perspektif Islam
Islam menawarkan alternatif yang jauh berbeda dari kapitalisme. Sebagai sistem yang menyeluruh, Islam menetapkan kesejahteraan individu sebagai prioritas utama. Dalam pandangan Islam, negara bertanggung jawab penuh untuk memastikan pemenuhan kebutuhan dasar setiap individu, mulai dari pangan, sandang, hingga papan.
Sejarah membuktikan bahwa penerapan Islam mampu menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera. Khalifah Umar bin Khattab, misalnya, dikenal sebagai pemimpin yang tidak hanya memahami, tetapi juga merasakan langsung penderitaan rakyatnya.
Ketika menemui seorang ibu yang berusaha menenangkan anak-anaknya yang kelaparan, Umar sendiri memanggul gandum untuk membantu mereka. Kepemimpinan seperti ini menunjukkan bagaimana negara, dalam sistem Islam, hadir sebagai pelindung rakyat.
Islam juga menetapkan mekanisme distribusi kekayaan yang adil, seperti zakat, sedekah, dan pengelolaan sumber daya alam untuk kemaslahatan umum.
Dalam sistem ini, sumber daya bukan menjadi milik segelintir orang, tetapi dikelola untuk memenuhi kebutuhan masyarakat secara menyeluruh.
Lebih dari itu, Islam tidak hanya mengatur aspek ekonomi, tetapi juga membangun kesadaran moral dan spiritual individu untuk saling peduli dan membantu sesama. Inilah yang membuat Islam menjadi sistem yang menyeluruh, memberikan solusi atas permasalahan manusia dari hulu hingga hilir.
Kemiskinan global yang kita saksikan saat ini bukan sekadar masalah kebijakan, melainkan buah dari sistem kapitalisme yang tidak adil. Dalam menghadapi kenyataan ini, Islam menawarkan solusi hakiki yang telah terbukti secara historis.
Penerapan Islam secara kaffah tidak hanya mampu mengentaskan kemiskinan, tetapi juga menciptakan kesejahteraan yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat.
Jika dunia ingin benar-benar keluar dari belenggu kemiskinan, maka sudah saatnya kita mengevaluasi sistem yang ada dan membuka diri terhadap alternatif yang lebih adil dan manusiawi.
Islam, sebagai sistem hidup yang berasal dari Sang Pencipta, dapat menjadi jawaban atas problematika yang terus menghantui peradaban manusia. (*)
Penulis: Reskidayanti
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com













