OPINI—Kontroversi terkait Permendikbudristek No. 30/2021, masih terus berlangsung. Banyak pihak yang sangat gerah atas dikeluarkannya kebijakan yang menyasar kalangan intelektual ini. Padahal, Perguruan Tinggi (PT) sejatinya wadah untuk mencetak generasi gemilang penerus estafet peradaban. Ada apa dengan sistem pendidikan di negeri ini?
Majelis Ormas Islam (MOI) yang terdiri dari 13 ormas Islam menyatakan substansi kekerasan seksual di dalam Permendikbudristek ini mengandung paradigma sexual consent (persetujuan seks), dimana baik-buruknya tindakan seksual diukur atas dasar persetujuan saja. Paradigma ini mengurangi –untuk tidak dikatakan menihilkan sama sekali– peran agama sebagai pertimbangan moral dalam aktivitas seksual (hidayatullah.com, 18/11/2021).
Hal senada diungkapkan Ijtima Ulama Majelis Ulama Indonesia yang mengusulkan pemerintah untuk mencabut Permendikbudristek No. 30/2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Lingkungan PT (fajar.co.id, 12/11/2021).
Berbagai regulasi cacat yang tercipta di negeri ini, seakan tak pernah habis. Belum tuntas pro kontra terkait moderasi beragama, kini problem kekerasan seksual membidik ranah pendidikan. Belum lagi beragam persoalan lainnya; seperti penangkapan para ulama, kolapsnya BUMN, bencana banjir, naiknya kebutuhan pokok, kerusakan generasi, dan segudang persoalan terus membelit rakyat.
Asas Rusak
Sistem pendidikan sekuler yang diemban negeri ini, sudah memperlihatkan kebobrokannya sejak awal. Akumulasi kerusakan yang nampak, sudah sampai pada taraf yang sangat mengkhawatirkan. Kerusakan generasi di hampir semua lini kehidupan, tak bisa dianggap remeh. Tentu hal ini berkorelasi -baik secara langsung maupun tak langsung- dengan asas sistem pendidikan yang diadopsi.
Dikotomi pendidikan tercipta dalam sistem ini, yakni sekolah umum dan pesantren. Jadilah sekolah-sekolah yang berbasis sekolah umum, minim pendidikan agamanya. Pun, sebagian pesantren mengkhususkan pada pencapaian skill tertentu.
Misal, sekolah tahfidz dan bahasa Arab saja. Pemisahan antara ilmu sains dan agama, menjadikan generasi yang terlahir, memiliki pemahaman yang tidak komprehensif. Cerdas secara akademik, tetapi berakhlak buruk atau sebaliknya.
Selanjutnya, pengaruh aturan kehidupan sosial lainnya turut melengkapi kerusakan. Misal terkait dengan life style 5F (food, fashion, film, fun, dan fulus). Sempurnalah pengrusakan yang terjadi secara sistemik. Kesemua hal tersebut disebabkan karena asas sistem pendidikan sekuler, menegasikan peran agama dalam kehidupan.
Standar kebenaran bukan berdasar aturan Sang Khalik, tetapi berdasar hawa nafsu manusia. Makhluk dengan segala kelemahan dan keterbatasannya, sangat rentan tercipta celah kerusakan atau penyimpangan.
Sistem Mumpuni, Mencetak Generasi Cemerlang
Sangat berbeda secara diametral dengan sistem Islam. Dibangun di atas akidah yang terpancar dari ketaatan kepada Sang Pencipta. Pendidikan ditanamkan mulai dari keluarga.
Selanjutnya, kontrol sosial berjalan di tengah-tengah masyarakat. Paling urgen adalah peran negara sebagai regulator dan fasilitator. Tersebab terkait pendidikan memanglah merupakan kebutuhan dasar publik yang wajib dipenuhi oleh negara, selain kesehatan dan keamanan.
Negara menyiapkan keseluruhan perangkat, demi tercapainya sebuah sistem pendidikan yang baik dan mumpuni. Pun, rakyat berlomba-lomba dalam meraih kebaikan dengan ikut serta membangun sekolah-sekolah terbaik secara mandiri.
Guru atau pendidik diberikan penghargaan dengan gaji yang sangat fantastis. Tak kalah penting adalah kurikulum yang digunakan berbasis akidah Islam dengan visi mencetak generasi berkepribadian Islam, yakni memiliki pola sikap dan pola pikir islami.
Sistem pendidikan Islam telah dicontohkan oleh manusia mulia, Rasulullah Saw. dan dilanjutkan oleh para khalifah setelahnya. Melesatnya ilmu pengetahuan kala itu, seiring dengan akhlak para penuntut ilmu. Tidak dijumpai istilah dikotomi pendidikan ala produk sekuler.
Walhasil, terlahir para ulama yang juga expert di bidang kedokteran dan bidang sains lainnya. Nama-nama besar seperti Az-Zahrawi, Ibnu Haitsam, Al-Khawarizmi, dan yang lainnya mewarnai kancah kegemilangan pendidikan dalam peradaban Islam.
Oleh karena itu, saatnya mencampakkan sistem pendidikan sekuler beserta semua sistem buatan manusia yang rusak dan merusak. Mengganti dengan sistem Islam yang sudah terbukti mampu mencetak generasi cemerlang, pelanjut estafet peradaban bangsa.
Wallahua’lam bis Showab.
Penulis: Dr. Suryani Syahrir, S.T., M.T. (Dosen dan Pemerhati Generasi)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.












