OPINI—Awal tahun, Indonesia dirundung duka. Musibah datang silih berganti. Jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 tujuan Jakarta-Pontianak jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada 9/1/2021, menyisakan luka mendalam bagi para keluarga korban. Disusul dengan banjir yang melanda Kalimantan Selatan dengan intensitas air yang cukup tinggi sejak Kamis (14/1). Sebanyak 21.990 jiwa terdampak banjir di kabupaten Tanah Laut.

Belum surut banjir yang melanda di Kalimantan Selatan. Pada 14/1/2021, bumi berguncang di Majene, Sulawesi Barat. Gempa dengan kekuatan 5,9 SR dan gempa susulan 6,2 SR  pada 15/1/2021, berhasil memporak-porandakan wilayah Majene-Mamuju. Ribuan orang mengungsi, korban jiwa kian bertambah. Hingga 19/01/2021 sudah ditemukan 90 korban tewas.

Berdasarkan informasi dari Badan SAR Nasional, hingga Selasa (19/1/2021) sekitar 15.20 WIB, sudah ditemukan 90 korban tewas. Sebanyak 79 orang ditemukan tewas di Mamuju, sedangkan 11 orang lainnya ditemukan di Majene. Hingga kini, Badan SAR Nasional juga mencatat ada 18 orang yang dievakuasi dari reruntuhan bangunan dalam keadaan selamat. (Kompas.com, 19/01/2021)

Keesokan harinya pada 16/1/2021, Gunung Semeru yang berada di Kabupaten Lumajang Jawa Timur meletus. Dan erupsi gunung Sinabung Sumatra Utara pada 17/1/2021 kian menambah deretan bencana. Sungguh awal tahun yang sangat memilukan.
Seolah sudah menjadi hal biasa yang terjadi setiap tahunnya, musibah terus melanda dari tahun ke tahun. Mulai dari banjir bandang, longsor, gunung meletus, kebakaran hutan, gempa bumi hingga tsunami.

Musibah yang seolah hanya sekadar meninggalkan luka lara, setelah itu hilang tak berbekas. Terlupakan seiring berjalannya waktu. Tak menjadi muhasabah untuk memperbaiki  agar musibah serupa tak terus terulang lagi tiap tahunnya. Dan tak ada lagi korban yang berjatuhan.

Pentingnya Muhasabah

Sudah menjadi hal yang lumrah, manakala musibah telah berlalu banyak orang yang kemudian kembali melakukan maksiat seperti biasa. Sudah merasa aman kembali. Musibah yang terjadi tak memberi dampak apapun. Seolah musibah yang telah terjadi hanyalah sesuatu yang memang sudah dikehendaki Allah Swt. dan kita harus menerimanya. Namun, lantas tak menjadi ajang muhasabah diri mengapa Allah Swt. terus mengirim musibah kepada hamba-Nya.

Seiring perjalanan waktu dengan banyaknya musibah yang melanda, muhasabah menjadi hal yang sangat penting. Apakah keadaan sekarang sudah berjalan sesuai dengan aturan Allah Swt.? Ataukah justru sebaliknya, ini merupakan akumulasi kemaksiatan diri dan umat ataupun kezaliman penguasa yang semakin merajalela akibat tak diterapkannya hukum Allah.

Adanya bencana dan musibah yang terjadi harus disadari bahwa ini tidak lain merupakan teguran sekaligus peringatan agar diri lebih terdorong untuk melakukan introspeksi diri atau muhasabah. Dengannya, setiap muslim akan mampu mengukur sudah sejauh mana ketaatan-Nya kepada Allah Swt.

Apakah dirinya telah benar-benar menjalankan perintah-Nya dengan tulus dan sejauh mana dirinya telah bersungguh-sungguh meninggalkan larangan-Nya. Hal ini akan menjadi pendorong untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt. dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Tak terkecuali, hal ini berlaku pula pada penguasa.

Kembali pada Aturan-Nya

Berbagai musibah yang melanda negeri ini harusnya menjadi perhatian yang serius. Mengapa hal itu terus saja terjadi. Tidaklah Allah Swt. menguji hamba-Nya dengan ujian berupa musibah dan bencana tanpa ada sesuatu hikmah yang terkandung didalamnya. Sejatinya  Allah Swt. mengirimkan bencana ataupun musibah tidak lain menjadi peringatan bagi setiap umat muslim, terutama penguasa sebagai periayah umat.

Dibalik musibah ini, rakyat tentu saja menanti solusi hakiki dalam menyikapi semua ini. Terutama bagaimana penguasa menyikapi. Jika ditelisik, berbagai kerusakan-kerusakan alam kian nampak di tengah-tengah kita. Semua akibat ulah tangan-tangan manusia yang tak bertanggungjawab.

Padahal, alam ini telah diciptakan dengan baik dan tertata dengan sempurna untuk keberlangsungan hidup manusia. Oleh sebab itu manusia dilarang untuk merusaknya. Dengan kerusakan-kerusakan inilah, Allah Swt. memberi peringatan kepada umat manusia melalui musibah banjir, gempa, tsunami, longsor dll.
Tidaklah kerusakan alam terjadi dan bencana silih berganti datang membawa nestapa, kecuali disebabkan oleh kezaliman manusia itu sendiri.

Di samping itu, kezaliman-kezaliman yang terjadi baik yang dilakukan secara individu ataupun penguasa, tidak lain merupakan realita dari rusaknya akidah umat.

Jika akidah sudah rusak, maka kemaksiatan dan kezaliman dengan mudahnya dilakukan, tanpa beban sedikit pun. Aturan-aturan-Nya diabaikan, tak peduli dosa yang akan dituai. Dengan demikian, dosa dan maksiat inilah yang sesungguhnya mengundang bencana.

Allah Ta’ala berfirman:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan (kemaksiatan) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka. Agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar Rum: 41).

Maka, sudah selayaknyalah bagi manusia sebagai hamba Allah Swt. tetap waspada dan menjadikan musibah ini sebagai muhasabah. Secara individu rakyat, muhasabah menjadi motivasi agar lebih taat lagi kepada aturan-Nya. Pun, bagi penguasa musibah ini sebagai intropeksi apakah seluruh perbuatannya termasuk dalam pengaturan seluruh aspek kehidupan sudah sesuai dengan aturan-Nya. Ataukah sebaliknya.

Sebab, hanya dengan kembali menjadikan aturan-Nya sebagai landasan hidup, keberkahan hidup akan diraih. Sebagaimana dalam firman-Nya:

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS. Al-A’raf: 96).

Wallahu a’lam