Nestapa Dibalik Almamater Kebanggaan saat Pandemi

Penulis: Andi Sriwahyuni, S.Pd (Pemerhati Mahasiswa)

0
29
Nestapa Dibalik Almamater Kebanggaan saat Pandemi
Andi Sriwahyuni, S.Pd (Pemerhati Mahasiswa)

“Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan aku akan mengguncang dunia”

OPINI – Quote milik Soekarno yang fenomenal ini mengingatkan kita akan pentingnya peran para pemuda dalam berkontribusi untuk menyelesaikan problematika ummat di negeri tercinta.

Polemik akibat dampak pandemi membuat para mahasiswa di Indonesia kembali menyuarakan aspirasinya.

Seperti yang dialami oleh puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa UIN Banten melakukan aksi demo terkait tuntutan penggratisan Uang Kuliah Tunggal (UKT) di depan Gedung Rektorat UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Senin (22/6/2020).

Kemudian, direspon oleh Plt. Direkrur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdikbud, Prof. Ir. Nizam, mengatakan tidak ada kenaikan UKT selama masa pandemi ini.

Di seluruh PTN akan diberlakukan UKT sesuai dengan kemampuan orangtua membayar bagi anaknya dimana merujuk pada 4 skema pembayaran UKT diantaranya penundaan atau pencicilan pembayaran, menurunkan level UKT dan pengajuan beasiswa.

Tentu saja, hal ini menjadi angin segar bagi mahasiswa yang tidak mampu. Mereka berharap UKT selama pandemi diberi kebijakan dalam pelunasannya oleh pihak kampus agar mereka tidak kehilangan identitas kemahasiswaannya alias di drop out (do).

Walaupun demikian, seiring berjalannya waktu, jika pandemi tidak juga melandai, kemungkinan besar biaya UKT tetap akan mengalami kenaikan akibat krisis ekonomi.

Tak heran, jika mahasiswa tak sedikit yang terpaksa mengundurkan diri. Sebab, jangankan untuk memenuhi biaya pendidikan, kebutuhan yang sangat mendesak seperti makan pun sulit. Sehingga, hal ini akan menambah angka pengangguran dan kemiskinan.

Kehilangan pekerjaan membuat ummat tak mampu memenuhi kebutuhan primer dirinya maupun keluarganya. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat jumlah pekerja yang terkena PHK dan dirumahkan di tengah pandemi Covid-19 mencapai 2, 9 juta per awal Mei.

Sedangkan menurut Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan memperkirakan angka pengangguran Indonesia bisa bertambah hingga 5 juta orang akibat pandemi ini. Sungguh, hal ini sangat mengancam jiwa banyak orang.

Oleh karenanya, perhatian penuh pemerintah terhadap persoalan ini sangat dibutuhkan. Namun realitanya, seolah pemerintah lebih memihak kepada para korporasi.

Sehingga penggratisan UKT sulit diterapkan walaupun ditengah pandemi, terlebih jika, pemerintah diminta menggratiskan pendidikan di kehidupan normal.

Lantas, dimana peran pemuda Muslim?

Pemuda adalah pewaris peradaban. Mereka adalah penerus estafet kepemimpinan bangsa. Setiap tahun negeri ini mencetak ratusan hingga jutaan lulusan sarjana.

Namun, sebagian besar dari mereka belum mampu berpikir cemerlang. Bahkan, hanya menjadi generasi rebahan lagi kriminal. Jadi, wajar saja jika negeri ini belum bangkit-bangkit dari keterpurukan.

Mereka dilahirkan di era sistem yang rusak. Jadi tak heran, di dalam diri mereka tercemari oleh tsaqofah sekuler yang memisahkan agama Islam dari kehidupan.

Padahal, Allah Swt telah menjadikan Islam sebagai pedoman hidup manusia yang sempurna dan paripurna.

Oleh karena itu, pemuda perlu mengetahui hakikat hidupnya di dunia. Dengan memahami dari mana dia berasal, untuk apa dia hidup, serta ke mana dia setelah mati. Dari jawaban tiga pertanyaan mendasar inilah yang menentukan arah hidupnya.

Tentu, hal ini tidaklah sulit untuk dipahami karena Allah Swt telah menciptakan setiap manusia dengan potensi akal.

Dengan demikian, manusia akan mampu berpikir cemerlang. Sehingga, tsaqofah Islam menjadi maklumatnya dalam menyikapi setiap persoalan. Bukan tsaqofah sekuler yang justru bertentangan dengan fitrah tauhid manusia dan bertentangan dengan akal sehat.

Islam telah menjamin pemenuhan kebutuhan primer ummatnya termasuk di dalamnya pendidikan yang layak. Dana pendidikan diperoleh dari baitul mal dimana salah satu sumbernya yaitu pengelolaan sda yang diserahkan kepada negara.

Dengan begitu, tidak akan terjadi privatisasi sda seperti sekarang. Sehingga, anggaran dana di sektor pendidikan mampu menghasilkan sarana dan prasarana yang memadai.

Jadi, tidak ada diskriminasi dalam pendidikan, semua orang berhak mendapatkan pendidikan gratis dan berkualitas sampai mereka mampu menjadi manusia yang unggul.

Seperti dalam siroh, di peradaban Islam telah melahirkan pemuda yang sampai sekarang menjadi panutan kaum muslim karena prestasinya yang gemilang.

Mereka adalah Mushab bin Umair, Zaid bin Hartis, Muhammad Al-Fatih, Khalid Ibnu Walid, Usamah bin Zaid dan masih banyak lagi.

Pemuda Muslim seperti inilah yang patut menjadi panutan kaum muda sekarang terutama mahasiswa. Mereka telah menorehkan peradaban yang gemilang dengan karyanya yang begitu populer. Dan tentunya, itu semua terjadi takkala ummat ditopang oleh institusi Daulah Khilafah.

Oleh karenanya, pemuda harus bangkit dan memahami eksistensi dirinya di dunia terlebih dahulu sebelum mengembalikan kembali peradaban yang gemilang dan menjadi pemuda muslim yang berprestasi.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu)”. Wallahu a’lam bi shawab. (*)

Penulis: Andi Sriwahyuni, S.Pd (Pemerhati Mahasiswa)