Pendidikan Sekuler Biang Krisis Moral (Nur Yani, Mahasiswa-Makassar)

OPINI – Krisis moral adalah hal yang tidak asing lagi saat ini dan menjadi tugas bersama untuk dibenahi. Data Unicef tahun 2016 lalu menunjukkan bahwa kekerasan terhadap sesama remaja di Indonesia diperkirakan mencapai 50 persen.

Moral para remaja saat ini sudah sangat menghawatirkan misalnya kekerasan antar pelajar, pornografi, tawuran antar pelajar, serta masalah sosial lainnya.

Kenyataan ini menunjukkan merosotnya nilai moral di kalangan pelajar pada khususnya maupun remaja pada umumnya. Kasus perkelahian antar siswa pun akhir-akhir ini sering terjadi.

Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, dimana dua orang siswi berseragam Sekolah Menengah Pertama (SMP) berkelahi di Lapangan Nasional (Lapnas), Kabupaten Sinjai (2/7/2019).

Tidak hanya itu, perilaku menyimpang dari generasi saat ini juga mengarah pada seks bebas. Menurut Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM tahun 2016, sebanyak 58 persen remaja yang hamil dan melakukan aborsi.

Selain itu, berbagai penyimpangan remaja seperti narkoba, miras, dan berbagai hal lainnya juga membuat kerusakan moral tumbuh subur di negeri ini.

Jika biasanya kenakalan anak dan remaja disebabkan dari keluarga yang brokenhome. Namun sekarang faktor penyebabnya semakin berkembang.

Bahkan keluarga tampak baik-baik pun tidak luput dari fenomena kenakalan remaja seperti ini. Hal ini tidak terlepas dari era digital di mana media sosial sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.

Dengan media sosial ini anak bisa berselancar di dunia maya tanpa batas. Ketika tidak lagi terkontrol maka pengguna semakin bebas menemukan dunia luar yang liar melalui dunia maya.

Virus liberalisme yang disuntikkan melalui tayangan televisi, film, internet dan lainnya merupakan ancaman bagi moral generasi muda.

Tanpa sadar mereka merasa bangga jika melakukan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan norma demi mencapai eksistensi dan label keren di tengah masyarakat.

Sungguh persoalan seperti ini sangat meresahkan masyarakat khususnya orang tua, terlebih lagi ini seharusnya menjadi keprihatinan besar bagi negara.

Melihat fakta yang ada, semakin meningkatnya angka kriminalitas dalam dunia pendidikan bukti bahwa solusi yang ditawarkan hanyalah solusi parsial saja.

Bagaimana mungkin bisa mencetak generasi yang cemerlang jika kebijakan dalam dunia pendidikan ini kontradiktif, yang sejatinya tujuan pendidikan yakni menciptakan manusia yang beriman dan produktif.

Namun, sistem pendidikan yang diterapkan negara hari ini tidak untuk menciptakan itu semua melainkan hanya melahirkan sosok yang individualistik dan materialistik.

Sistem pendidikan di Indonesia adalah sistem pendidikan sekuler-materialistis.

Hal ini dapat terlihat pada UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 Bab VI tentang Jalur, Jenjang, dan Jenis pendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi “jenis pendidikan yang mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus.”

Dari pasal ini tampak jelas adanya dikotomi pendidikan, yaitu pendidikan agama dan pendidikan umum.

Secara kelembagaan pun, instansi dipisahkan seperti institusi agama atau pesantren dikelola oleh Departemen Agama, sementara pendidikan umum seperti sekolah dasar, sekolah menengah, dan kejuruan dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional.

Namun ironisnya, meski Indonesia mayoritas penduduknya beragama Islam, tetap mengokohkan kurikulum yang dibuat sistem sekularisme.

Maka pendidikan yang sekuler ini melahirkan orang yang mampu menguasai sains dan teknologi dalam pendidikan umumnya.

Mereka hanya dituntut untuk mampu bersaing dalam prestasi dan akademik serta bagaimana pengembangan IPTEK.

Tetapi di sisi lain telah gagal membentuk kepribadian (syakhsiyah Islamiyah) dan tsaqofah Islam.

Agama hanya dijadikan sebagai pengatur hubungan dalam satu aspek yaitu ibadah ritual semata, tidak dijadikan sebagai pengatur segala aspek kehidupan.

Belum lagi kebijakan yang diterapkan dalam dunia pendidikan sangat bertentangan seperti kegiatan Rohis dan keagamaan dicurigai bahkan dilarang. Sementara kegiatan-kegiatan hedonis didukung dan disemarakkan.

Kondisi seperti ini sangat memprihatinkan bahwasanya generasi muda yang merupakan investasi peradaban berada di ujung tanduk kerusakan.

Oleh karena itu, solusi cemerlang untuk melahirkan generasi pencetus peradaban ialah kembali pada konsep Islam.

Tujuan membentuk anank didik yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, memiliki karakter, menguasai sains dan teknologi dan berbagai keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan hanya bisa diwujudkan melalui sistem pendidikan Islam.

Sistem pendidikan Islam akan melahirkan pribadi muslim yang taat kepada Allah sekaligus menjadi ilmuwan yang menguasai sains dan teknologi.

Fakta historis pun menjelaskan bagaimana ideologi Islam begitu agung mengatur umat Islam dahulu dengan segudang prestasinya.

Ajaran Islam bukan sekadar hafalan tetapi dipelajari untuk diterapkan, dijadikan standar dan solusi dalam mengatasi seluruh persoalan kehidupan. (*)

Penulis : Nur Yani (Mahasiswa, Makassar)
Baca Juga : Indonesia Maju, Harapan Baru ataukah Semu?