OPINI—Maraknya perceraian dari tahun ke tahun merupakan masalah yang serius dan dapat mengancam struktur sosial bangsa. Menurut data nasional dan laporan dari berbagai daerah, angka perceraian terus mengalami peningkatan. Trend tersebut tidak hanya terjadi pada pasangan muda yang belum lama menikah, tetapi juga terjadi pada usia senja atau dikenal dengan istilah grey divorce.
Pada saat yang sama jumlah pernikahan juga mengalami penurunan yang signifikan. Fenomena tersebut menunjukkan institusi keluarga berada dalam kondisi genting.
Berbagai hal menjadi penyebab kasus-kasus perceraian, mulai dari masalah ekonomi, perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pertengkaran yang terus-menerus, hingga dampak negatif dari judi online (judol).
Semua itu adalah akibat dari lemahnya pemahaman masyarakat tentang makna dan tujuan pernikahan. Banyak pasangan yang menjalani pernikahan tanpa adanya persiapan mental, spiritual, dan emosional yang cukup, sehingga saat badai menerpa, pondasi rumah tangga menjadi mudah runtuh.
Sistem Sekuler Meningkatkan Angka Perceraian
Perceraian berdampak langsung pada runtuhnya ketahanan keluarga. Anak-anak yang menjadi korban dari perceraian orang tua. Mereka tumbuh dengan luka batin, kehilangan arah, gangguan emosional, hingga mengalami kesulitan dalam proses pendidikan.
Hal tersebut yang menjadi penyebab generasi rapuh, lemah mental, rentan terhadap pergaulan bebas, kriminalitas, dan visi hidup yang benar menjadi hilang.
Sistem kehidupan yang berlaku saat ini justru memperparah institusi keluarga. Paradigma kapitalisme sekuler menjadi dasar dalam sistem pendidikan, sosial, ekonomi, juga telah mencabut nilai-nilai spiritual dan moral dari kehidupan masyarakat.
Pendidikan lebih menekankan pada kesuksesan duniawi. Mengajarkan bagaimana mencari pekerjaan dan pencapaian materi, bukan pada pembinaan karakter dan kepribadian. Padahal persiapan mental, spiritual, dan moral seharusnya lebih diutamakan daripada kesiapan materi.
Sistem pergaulan yang bebas cenderung membentuk pola relasi (hubungan) yang didasarkan nafsu dan kepentingan sesaat, minim tanggung jawab dan komitmen. Sistem ekonomi yang berlaku saat ini sangat menekan dan membuat keluarga terjebak dalam beban hidup yang berat, memicu pertengkaran, dan menjauhkan keharmonisan.
Sistem Islam Meminimalisir Angka Perceraian
Dengan melihat kondisi tersebut, sudah saatnya umat Islam kembali pada solusi hakiki yaitu sistem Islam, bukan hanya agama spiritual, tetapi juga sistem kehidupan yang sempurna, termasuk dalam membangun institusi keluarga yang kuat. Sistem pendidikan Islam bertujuan membentuk kepribadian Islam, yaitu mewujudkan pola pikir dan sikap yang Islami berdasarkan Akidah Islam.
Sejak usia dini, anak-anak ditanamkan kesadaran bahwa hidup untuk beribadah kepada Allah, anak-anak dibina untuk mengenal Allah, mencintai Rasul, memahami syariat Allah (halal haram). Dengan pondasi keimanan yang kuat, generasi akan tumbuh menjadi pribadi yang matang, dewasa, dan siap membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah (penuh ketenangan, saling cinta dan kasih sayang).
Islam juga mempunyai sistem pergaulan yang unik, yang mengatur relasi (hubungan) antara laki-laki dan perempuan yang diatur secara jelas untuk menjaga kehormatan dan mencegah perselingkuhan (zina). Suami istri bukan merupakan pesaing, tetapi sebagai partner (mitra). Suami sebagai pemimpin dan penanggung jawab nafkah, dan istri sebagai ibu dan pengatur rumah tangga.
Dalam Islam, keharmonisan keluarga dibangun atas landasan takwa, saling menghormati, saling menghargai, dan menjalankan hak dan kewajiban secara adil.
Sistem politik dan ekonomi Islam juga mendukung terbentuknya keluarga sejahtera. Negara dalam Islam berkewajiban menjamin kebutuhan dasar setiap warga, termasuk pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja.
Sistem Zakat, kepemilikan umum dan distribusi kekayaan yang adil akan mengurangi kesenjangan sosial dan meringankan beban hidup keluarga. Negara berperan sebagai pengatur dan pelayan rakyat yang hadir secara nyata untuk mewujudkan kesejahteraan umat.
Dengan kombinasi sistem pendidikan, ekonomi, sosial yang berlandaskan syariat Islam, perceraian dapat diminimalisir dan generasi akan tumbuh dalam lingkungan yang sehat secara spiritual dan sosial. Keluarga bukan hanya tempat untuk tinggal secara bersama, tetapi menjadi sekolah pertama untuk mewujudkan insan yang bertakwa.
Maraknya perceraian saat ini merupakan buah pahit dari diterapkannya sistem kapitalisme sekuler (memisahkan agama dari kehidupan). Solusi yang ditawarkan tidak cukup hanya bersifat tambal sulam.
Namun, harus solusi tuntas yaitu sistem Islam yang mewujudkan keluarga kuat dan generasi tangguh. Sudah saatnya kita kembali pada sistem Islam secara kafah untuk dijadikan sebagai pedoman hidup demi terwujudnya peradaban mulia. (*)
Wallahu a’lam bish-showwab.
Penulis:
Sunarti
(Pengamat Sosial)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.











