PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • Tawuran Berulang, Potret Rusaknya Sistem Kehidupan • Duga Surat MA Disabotase, Bupati Husnia Talenrang Lapor Polda Sulsel • Pembangunan Daerah Penyangga Sulawesi Selatan • M. Awal Chairuddin Resmi Pimpin Polda Sulsel, Gantikan Djuhandhani • Langgar GSB, Ruko di Hertasning Disegel Pemkot Makassar • PGRI Kelara Gelar Konkercab I, Fokus Perkuat Soliditas dan Profesionalisme Guru • PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • Tawuran Berulang, Potret Rusaknya Sistem Kehidupan • Duga Surat MA Disabotase, Bupati Husnia Talenrang Lapor Polda Sulsel • Pembangunan Daerah Penyangga Sulawesi Selatan • M. Awal Chairuddin Resmi Pimpin Polda Sulsel, Gantikan Djuhandhani • Langgar GSB, Ruko di Hertasning Disegel Pemkot Makassar • PGRI Kelara Gelar Konkercab I, Fokus Perkuat Soliditas dan Profesionalisme Guru •
News

Perempuan Harus Jadi Agen Perdamaian, Bukan Korban Narasi Kekerasan dan Teror

691
×

Perempuan Harus Jadi Agen Perdamaian, Bukan Korban Narasi Kekerasan dan Teror

Sebarkan artikel ini
Isu Korupsi Telah Dimanfaatkan Penyebarluasan Paham Radikal Terorisme
Direktur Pencegahan BNPT, Brigadir Jenderal (Pol) Hamli

JAKARTA – Belakangan ini seakan menjadi tren baru dalam aksi terorisme dengan hadirnya keterlibatan perempuan dan anak. Dulu perempuan hanya menjadi faktor simpatisan dan pendukung, tetapi saat ini mereka turut mengambil andil sebagai pelaku teror.

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigadir Jenderal (Pol) Hamli, saat menghadiri kegiatan Pelibatan Perempuan sebagai Agen Perdamaian dalam Pencegahan Radikalisme di Hotel Lumire, Kamis (1/8/2019).

Kegiatan ini merupakan bagian dari kegiatan BNPT di daerah yang bekerjasama dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) DKI Jakarta.

Kalau dicermati lebih jauh, menurut Hamli, pola pemanfaatan perempuan dalam aksi ini bagian dari kelompok teror mengeksploitasi perempuan sebagai martir baru.

Semakin kurangnya kader dan anggota memaksa mereka untuk mendorong perempuan agar tampil sebagai pelaku aksi.

“Di Syiria banyak pria yang tewas karena peperangan, yang tersisa adalah para wanita dan anak. Sehingga para wanita dan anak pun turut dikerahkan untuk menjadi teroris. Ternyata kecenderungan ini pun turut menyebar ke seluruh dunia,” ungkap Hamli, yang hadir sebagai narasumber dikegiatan tersebut.

Karena itulah, Ia meminta perempuan menjadi agen perdamaian yang secara aktif memberikan pencerahan dan pendidikan baik dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat secara luas.

Keterlibatan perempuan mempunyai peran strategis karena menjadi tumpuan pendidikan anak di keluarga maupun melalui komunitas perkumpulan perempuan.

Lebih lanjut, Hamli mengatakan di lingkungan sosial kita saat ini sudah banyak sekali sebaran narasi bernuansa sentimen dan kebencian berbasis perbedaan agama yang berpotensi memecahbelah masyarakat.

Narasi ini sebenarnya dikembangkan sebagai bagian dari upaya meradikalisasi masyarakat. Perpecahan dan konflik pada akhirnya merupakan ladang subur berkembangnya paham dan jaringan terorisme.

Narasi lainnya yang patut diwaspadai menurut Jenderal bintang satu ini adalah narasi emosi keagamaan dengan mengimpor konflik di negara lain sebagai alasan untuk perjuangan.

Penderitaan yang terjadi di Timur Tengah seperti Syiria, Irak dan lainnya dijadikan propaganda untuk mengajak dan merekrut anggota di dalam negeri yang tidak mengerti peta konflik yang sebenarnya.

“Patut dipahami bahwa seseorang menjadi teroris bukan proses yang instan, tetapi melalui tahapan dari mengadopasi narasi-narasi intoleran, radikalisme dan terakhir menuju terorisme,” ungkap Hamli.

Karena itulah, Hamli berharap perempuan harus menjadi bagian penting dalam menangkal narasi-narasi tersebut, bukan justru menjadi korban narasi kekerasan dan teror.

Apalagi sebaran narasi radikalisme itu saat ini tidak hanya terjadi secara offline, tetapi yang lebih mengkhawatirkan narasi radikalisme yang bertebaran di dunia maya. (*)

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com