Pertama, negara wajib menyelenggarakan pendidikan berkualitas, murah, bahkan gratis tidak mahal seperti hari ini. Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan secara layak. Dengan akses pendidikan yang merata yang mendukung berbagai disiplin ilmu yang dibutuhkan masyarakat agar dapat bekerja.
Kedua, negara wajib menyelenggarakan layanan kesehatan gratis. Dengan menjamin dua dari kebutuhan pokok, yakni pendidikan dan kesehatan, masyarakat tidak akan memiliki beban berat ekonomi sebagaimana berlaku dalam sistem kapitalisme saat ini.
Ketiga, dalam sistem ketenagakerjaan, negara menjamin perusahaan atau industri harus mengikuti ketentuan Islam. Misalnya, perjanjian (aqad) ketenagakerjaan yang jelas mencakup hak dan kewajiban pekerja, pembayaran sesuai pekerjaan yang dilakukan secara wajar, pemberian upah sebelum kering keringatnya, dan ridho antara majikan dan pekerja sehingga tidak menimbulkan kezaliman di antara keduanya.
Keempat, negara mengembangkan sektor riil, seperti perdagangan, pertanian, industri, dan jasa. Tidak boleh ada praktik monopoli, mafia/kartel, penipuan harga, penimbunan barang, dll. Setiap transaksi ekonomi harus berlandaskan pada syariat Islam. Jika ada pelanggaran atas hal ini, terdapat sanksi yang akan menyelesaikan perkara ini sesuai pandangan syariat Islam.
Kelima, bagi masyarakat yang benar-benar miskin dan tidak memiliki kemampuan bekerja, maka kerabat atau ahli waris yang mampu wajib menafkahinya. Jika tidak ada ahli waris, negaralah yang wajib menafkahi dan memenuhi kebutuhan pokoknya.
Itu sebabnya, mengatasi permasalahan tidak cukup dengan solusi parsial. Akar masalah hari ini adalah penerapan sistem kapitalisme demokrasi. Pun jika kita mengganti pemimpin negeri ini tidak akan mampu jika paradigma kepemimpinan dan pengurusan urusan rakyat tetap berkiblat pada kapitalisme, posisi rakyat akan selalu dikesampingkan.
Kesehatan, kesejahteraan, pengangguran, kemiskinan, dan segudang problem sosial lainnya akan terus membayangi negeri ini selama kapitalisme yang diterapkan.
Islam sesungguhnya memiliki konsep baku dan jelas dalam mengurai problematik kehidupan. Kekayaan alam yang membentang sejatinya memberikan solusi tepat bagi masalah kesejahteraan dan kemiskinan. Tata kelola SDA negeri ini makin tak karuan tatkala dikelola dengan cara pandang kapitalisme. Wallahu ‘alam. (*)
Penulis: Dwi Setiawati, S.Pd (Aktivis Muslimah)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

















