Beranda » Makassar » Shalat Gerhana Bentuk Pengakuan Bertuhan Kita
Makassar

Shalat Gerhana Bentuk Pengakuan Bertuhan Kita

MAKASSAR – Gerhana bukan hanya sekedar fenomena alam, melainkan bukti kebesaran Allah SWT yang telah menciptakan siklus interaksi alam yang begitu sempurna dan tidak seorang pun manusia atau makhluk lainnya yang dapat melakukannya. Demikian salah satu isi khutbah Dr. H. Hamzah Kibaderan LC, MA.

Dalam khutbah shalat Gerhana yang digelar di masjid Jami Daya dengan imam rawatib Imran Madoali S.Pd juga diikuti jurnalis Mediasulsel.com Azis Saputra, Rabu (31/1/2018).

“Itulah sebabnya Baginda Rasulullah Muhammad SAW ketika bertemu momen Gerhana melakukan shalat sunnat 2 rakaat dengan 4 ruku’, dan kedudukannya sunnat Muakkad atau sangat disarankan dan mendekati wajib, karena dahsyatnya pesan kebesaran Allah SWT melalui gerhana bulan ini,” papar Dr. H. Hamzah Kibaderan LC, MA.

Secara tegas khatib mengingatkan jika sudah menyadari akan kebesaran dan kemahakuasaan Allah, maka dengan dalih apa lagi manusia ciptaannya berani bermaksiat dan durhaka kepada Allah, apakah mereka tidak takut atau lupa akan pembalasan yang sangat perih?.

“Bumi beserta isinya adalah milik Allah, khidupan ini pemberian Allah, mengapa manusia nerani berbuat kezaliman dibumi Allah. Gerhana bulan sebagai salah satu mahakarya dahsyat Allah yang jika hambanya memikirkannya”

“Maka tentu akan segera bersyukur dengan kelemahan dan kesalahan karena sombong dengan kelalaianya, akan tersungkur bersujud karena takut akan murka Allah,” jelasnya.

Oleh karena itu, khatib mengajak segenap jamaah dan masyarakat sekitar masjid yang ikut mendengarkan agar senantiasa tidak lupa dan sadar beristigfar. Sadar, selalu mengingat akan mati dan takut bermaksiat karena murka Allah yang tiada dapat ditolak dan tidak dapat ditunda.

“Jika sudah waktunya sebagaimana siklus gerhana bulan ini yang terjadi setiap lebih satu abad. Allahu Akbar. lahaulawala quwwata illah billah,” kuncinya.

Pengurus Masjid Jami Daya, Ustazd Ahmad Dg Talli, S.Ag mengatakan bahwa jamaah shalat Gerhana yang hadir, bukan hanya jamaah warga sekitar. “Namun, banyak diikuti sejumlah warga yang sedang melakukan perjalanan dan mampir shalat Isya secara berjamaah, subuhannallah,” singkatnya. (aas/shar)