Cinta Hakiki
Kita tidak sedang menghakimi aremania dan aremania atau pihak keamanan yang abai terhadap prosedur. Namun, ini terkait erat dengan kecintaan setiap orang dengan sesuatu. Dari kesaksian beberapa aremania dan orang tua para korban, terlihat jelas “perjuangan” mereka untuk dapat menyaksikan pertandingan tim kesayangan yang akan berlaga di kandang sendiri.
Ada yang sedari siang sudah berangkat karena tempat yang jauh, ada yang membawa anak kecil dan istri, banyak pula anak usia SMP, dan banyak lagi cerita lainnya. Mereka mencurahkan tenaga, waktu, dan tentu saja biaya.
Apalah daya, takdir berkata lain. Tim Arema FC kalah 2-3 atas Persebaya. Merasa kecewa dengan kekalahan tim kesayangan, akhirnya penonton menyerbu masuk ke lapangan. Inilah biang kerusuhan Sabtu malam itu, awal Oktober yang membuat Indonesia mencatat sejarah gelap persepakbolaan.
Korban meninggal dunia di angka 131 orang, 152 orang, dan masih sangat fluktuatif. Kejadian ini sekaligus mengonfirmasi bahwa manusia hanya berencana, tetapi Allah jualah sebagai penentu setiap keputusan akhir.
Dari sini bisa ditarik benang merahnya bahwa kehidupan di dunia itu sangat singkat. Manusia adalah makhluk lemah dan sangat terbatas. Oleh karena itu, setiap tindakan harus diperhitungkan secara matang dan cerdas. Kecintaan terhadap sesuatu harus berdasar atas keimanan yang kuat dan sesuai porsinya.
Jika terkait masalah dunia, haruslah tetap mengantarkan pada visi akhirat. Karena sejatinya kehidupan dunia hanyalah bekal untuk kehidupan kekal di akhirat kelak.
Lalu, apa makna cinta hakiki? Cinta hakiki adalah cinta yang berdasar pada tuntunan Sang Khaliq, yang dibawa oleh manusia mulia Muhammad saw. Cinta yang mengantarkan pada keridaan Allah ‘Azza wa Jalla. Pembuktian cinta hakiki adalah dengan melaksanakan semua syariat-Nya, tanpa syarat.
Bahkan Nabi saw. sampai bersabda: “Demi zat yang diriku dalam gengamannya. Siapapun tidak beriman, hingga Aku lebih ia cintai daripada dirinya sendiri, hartanya, anaknya, dan seluruh manusia (HR. al Bukhari).
Oleh karena itu, dari tragedi Kanjuruhan bisa dipetik pelajaran besar terkait perkara cinta. Pun, momentum kelahiran Nabi Muhammad saw. yang baru saja dirayakan. Hendaknya bukan hanya perayaan seremonial tahunan belaka, tetapi menjadi peringatan bahwa Beliau adalah uswatun hasanah (teladan yang baik) dalam semua aspek kehidupan. Mencintai Rasulullah saw. berarti harus cinta terhadap syariat yang dibawanya dan mutlak dibuktikan dengan cara melaksanakan semua syariatnya, tanpa tapi dan tanpa nanti.
Wallahualam bis Showab.
Penulis: Dr. Suryani Syahrir, ST, MT (Dosen dan Pemerhati Sosial)
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.













