OPINI—Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, kembali dilaporkan menerobos masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur. Dalam aksi provokatif tersebut, ia didampingi sejumlah pasukan dan secara terbuka menyerukan pembangunan kuil Yahudi di lokasi suci umat Islam itu (detikNews, 1/9/2026).
Selain aksi di Al-Aqsa, Ben-Gvir mengungkap rencana kontroversial untuk mengeluarkan 1,86 juta warga Palestina dari Jalur Gaza dalam kurun waktu tujuh tahun dengan dalih “migrasi sukarela”.
Dikutip dari Metro TV News pada 4 September 2026, rencana tersebut mencakup pembentukan kementerian khusus serta serangkaian proses yang dirancang untuk memfasilitasi perpindahan warga Palestina keluar dari Jalur Gaza ke negara-negara penerima.
Rencana perpindahan warga tersebut ternyata sejalan dengan kebijakan resmi pemerintah Israel. Menteri Pertahanan Israel, Katz, mengungkapkan bahwa pemerintahnya telah menyiapkan berbagai cara untuk memindahkan warga Palestina dari Jalur Gaza.
Kendati demikian, Israel masih menunggu persetujuan dan dukungan dari Amerika Serikat dalam menentukan negara yang bersedia menampung para pengungsi tersebut (detikNews, 3 September 2026).
Sebagai sekutu terdekat Israel di kawasan Timur Tengah, AS merupakan pemasok utama bantuan militer, peralatan pertahanan, amunisi, hingga dukungan diplomasi bagi Israel.
Hal ini menjadi fondasi yang memungkinkan militer Israel mempertahankan kapasitas tempurnya dalam skala besar dan berkepanjangan. Termasuk skema relokasi berkedok “migrasi sukarela” yang tidak lain adalah bentuk pengusiran paksa (pembersihan etnis) demi mencapai ambisi Zionis untuk menguasai wilayah Palestina secara permanen.
Fakta tersebut menjadi konsekuensi logis dalam sistem negara-bangsa (nation-state) dan absennya otoritas kepemimpinan sistem politik Islam dalam menyatukan kekuatan besar kaum muslimin untuk mengusir para penjajah Zionis.
Oleh karena itu, kaum muslim di seluruh penjuru dunia kekuatannya melemah. Dunia saat ini dikuasai oleh politik kapitalis milik negeri-negeri penjajah yang juga menyandang status sebagai negara adidaya.
Sehingga, mereka seolah berkuasa atas nasib baik buruknya manusia, sebagaimana yang mereka lakukan pada warga Palestina selama beberapa dekade.
Selain itu, hukum internasional modern milik negara-negara imperialis Barat justru menormalisasi tindakan penjajahan melalui istilah-istilah halus seperti “migrasi sukarela”.
Seolah ingin bersembunyi di balik buruknya perilaku mereka dan dukungan terhadap para penjajah. Sehingga, dengan manisnya mengeluarkan kata bahwa warga Gaza akan melakukan migrasi sukarela, padahal mereka sedang merencanakan pengusiran paksa terhadap warga Palestina di Jalur Gaza untuk melakukan pembangunan kuil Yahudi di daerah tersebut.
Adapun fakta bahwa Israel menunggu persetujuan Amerika Serikat untuk melakukan pengusiran tersebut menggambarkan bahwa pihak Israel sangat tergantung pada negara AS dalam mengambil keputusan.
Oleh karena itu, dilihat dari ketergantungannya Israel pada persetujuan AS, menunjukkan bahwa negara Israel sebenarnya adalah proyek kolonial yang disponsori kekuatan besar, bukan entitas berdaulat independen.
Maka, tanpa dukungan kuat dari negara Barat atau Amerika Serikat, Israel sebenarnya bukanlah apa-apa dan tak punya kekuatan apa pun di mata dunia atau di mata kaum muslimin.
Oleh karena itu, solusi mendasar atas persoalan Palestina saat ini adalah pembentukan kembali politik Islam dalam sistem Islam yang dinaungi oleh institusi besar, yaitu daulah Islam atau khilafah sebagai junnah (perisai) yang akan melindungi setiap jiwa dan setiap jengkal tanah kaum muslimin.
Sebab, dalam politik Islam, pemimpin itu adalah perisai yang wajib melindungi siapa saja yang bernaung di belakangnya.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya imam itu adalah perisai, orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam Islam, khilafah juga akan menerapkan jihad sebagai metode baku politik luar negeri negara Islam untuk membebaskan tanah yang dijajah orang kafir, seperti tanah Palestina.
Negara juga akan mengemban Islam ke seluruh penjuru dunia melalui tentara resmi khilafah, untuk visi dakwah agar Islam diemban setiap manusia di seluruh dunia.
Maka dari itu, mengembalikan kejayaan umat muslim dengan mengembalikan khilafah adalah suatu hal wajib. Karena hanya dengan khilafah masalah umat muslim hari ini bisa tersolusikan dengan tuntas.
Hanya dengan khilafah Palestina akan merdeka.
Sudah saatnya umat wajib mengambil bagian dalam perjuangan mengembalikan kehidupan Islam di bawah naungan khilafah sesuai metode perjuangan Rasulullah SAW.
Metode dakwah pemikiran sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah beserta sahabatnya ketika berada di Makkah, hingga tegak daulah Islam di Madinah. (*)
Wallahu a’lam bish shawwab.
Penulis:
Sri Dewi Kusuma
(Aktivis Muslimah)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.











